Senin, 08 April 2013

alarm Cebongan


Ratap tangis telah berlalu. Kesedihan perlahan beranjak pergi. Atau malah dikaburkan kebencian? Entahlah. Masing-masing kita hanya bisa mereka-reka apa makna dari semua kejadian yang akhir-akhir ini berkecamuk di sekitar kita. Yang pasti, berita angkara lebih menggunung daripada perbuatan-perbuatan baik.
            Salah satunya yang masih hangat di bibir dan nyaring di telingan kita adalah kasus pembuhan di LP Cebongan. Tapi, ia pun perlahan berlalu. Para korban sudah beristirahat di peraduan kekal. Tubuh mereka meretas jalan kembali ke asalnya, debu. Jiwa mereka kembali ke Sang Pemilik yaitu Tuhan sendiri. Apakah mereka akan masuk neraka karena baru saja membunuh anggota Kopasus? Atau malah masuk surga karena sempat bertobat di detik-detik terakhir, seperti sang penjahat yang disalibkan bersama Yesus? Kita tahu. Itu urusan Tuhan.
            Namun, belakangan ini, kasus penyerangan di Cebongan kembali menjadi buah bibir media massa dan elektronik, lantaran pengakuan sebelas anggota Kopasus bahwa merekalah para pelaku penyerangan berdurasi lima belas menit itu. Beragam spekulasi mencuat tiada henti. Di satu sisi, ada yang mempersalahkan para korban dan dikelompokkan sebagai preman. Paling tidak itu juga statement yang dikeluarkan oleh Tim Investigasi dari kalangan TNI. Lalu, diberitakan pula, masyarakat akar rumput Yogyakarta lebih condong mendukung Kopasus dengan argumen, premanisme harus dibasmi! Yang menjadi pertanyaannya adalah yang perlu dibasmi adalah tindakan premanisme atau mereka yang menganut prinsip, sikap, dan ideologi premanisme? Tentu kedua hal ini tidak bisa dipisahkan begitu saja, tetapi bila ditelisik lebih dalam, keduanya berbeda.
             Sementara di lain sisi, sebagian masyarakat membela para korban. Mereka mengklasifikasi tindakan penyerangan di LP Cebongan itu sebagai penyelesaian masalah berdasarkan prinsip hukum rimba. Zaman semakin modern, peradaban semakin mapan, maukah kita kembali ke zaman kuno, dimana belum ada peradaban, kebudayaan, peraturan, atau sosok yang bisa menjadi panutan? Kita patut sedikit menengok teori kontrak sosial yang pernah digaungkan John Locke, Thomas Hobbes, dan J.J. Rousseau. Mereka berusaha menganalisa kondisi kehidupan manusia dari masa ke masa, lalu berusaha merumuskannya. Itulah yang kita kenal sebagai teori kontrak sosial-orang membangun kesepakatan untuk tidak saling menyerang atau menyakitkan. Di sinilah fondasi dasar Hak Asasi Manusia.
            Beranglkat dari dua gelombang bersama dengan latar belakang argumentasinya masing-masing ini, kita tentu bertanya, manakah yang benar? Manakah yang perlu kita bela?
            Saya rasa, berhadapan dengan peristiwa seperti ini, tidak penting untuk saling menuding siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi layaklah kita sedikit rendah hati untuk menilai rekam jejak yang sudah kita bangun. Di sini saya hanya memfokuskan diri dari dua macam sudut pandang, yakni budaya dan pendidikan.

Budaya
            Dari sisi prinsip budaya, segala macam tindak pembunuhan di zaman ini adalah sesuatu yang perlu ditolak. Karena tindakan menghilangkan nyawa orang lain adalah merampas legitimasi Tuhan atas karyanya. Ia-lah yang menciptakan manusia, biarlah ia sendiri yang mengambilnya kembali.
            Dalam warisan budaya Indonesia pun tidak dibenarkan tindakan saling membunuh. Tindakan membunuh adalah model penyangkalan paling nyata terhadap salah satu warisan paling mulia dari nenek moyang pertiwi ini yaitu kekeluargaan. Bayangkanlah, bila kita tidak memiliki budaya kekeluargaan, bagaimana orang Papua bisa hidup besama dengan orang Jawa? Orang Jawa bisa hidup bersama orang Aceh? Orang Jawa bisa menikah dengan orang NTT? Orang Bali bisa manggung budaya bersama orang Makasar? Sungguh, tak dapat disangkal bahwa dasar dari kemampuan untuk saling menerima dan hidup bersama adalah karena kita merasa satu bagian dari yang lain.
Meminjam apa yang pernah dikumandangkan Emmanuel Levinas bahwa “yang lain adalah cermin dari diriku sendiri. Artinya, aku mampu melihat bayangan diriku dalam diri orang lain. Maka tentu aku tak rela meniadakan diriku sendiri”. Kiranya inilah yang menjadi dasar pembentukkan peradaban kasih yang layak kita pertahankan di tanah pertiwi ini.
            Sejauh saya ingat, dalam keluarga-keluarga di NTT pun tidak diajarkan untuk membunuh orang lain atas dasar alasan apapun. Adalah kemauan untuk menghargai mereka yang berbeda-lah yang menjadi warna dasar pendidikan kita sejak dini. Bergaulah pada adalam NTT dinama pohon tuak tidak berusaha menyingkirkan rumput karena masing-masing menjalankan fungsi yang sama yakni membuat tanah NTT menjadi harum di mata tetangga-tetangganya.

Pendidikan
            Peristiwa penyerangan LP Cebongan yang menewaskan empat tahanan asal NTT pun patut dipandang sebagai alarm bagi sistem pendidikan kita, khususnya bagi pendidikan muda-mudi NTT. Mungkinkah ada yang salah, dan marak dipertahankan menjadi pola laku bersama sehingga menimbulkan kecemburuan pihak tertentu?
            Muda-mudi NTT berangkat dari daerah masing-masing dengan tujuan untuk mengenyam pendidikan di Jawa. Orangtua membanting tulang menafkahi, memenuhi uang kuliah, dan menanggung segala biaya rekreatif kita yang seringkali kita tidak secara terbuka mengemukakan hal itu kepada mereka. Diam-diam kita melakonkan hal-hal yang mencederai nama baik kita sendiri.
            Peristiwa Cebongan layak dipandang sebagai alarm yang berdentang nyaring menyentuh bilik-bilik terdalam hati kita untuk mulai menengok rongsokan apa yang masih tersisa dalam hati, perilaku, dan tutur kata kita untuk segera ditinggalkan. Sudah saatnya kita berbenah laku dan berbenah tutur untuk semakin meperlihatkan kualitas kita sebagai orang terpelajar.
            Kita tak perlu menuntut siapapun untuk memutihkan coretan hitam di Cebogan. Kita sendiri, warga dan masyarakat NTT-lah yang harus bertanggungjawab memulihkan oretan hitam di Cebongan untuk kembali menebarkan harum cendana yang selama ini menjadi identitas tanah NTT.
            Peristiwa Cebongan juga tampil sebagai pengetuk pintu rumah keluarga-keluarga di NTT untuk segera membenahi cara pendidikan yang diterapkan kepada anak-anaknya. Mungkin metode rotan sang ayah dan ibu tak layak lagi diacungkan karena akan meninggalkan jejak dalam hati anak-anaknya, sehingga ketika beranjak dewasa, ia pun akan merotani orang lain. Layak dicoba pendidikan yang mengedepankan narasi budaya zaman dulu, kesalehan hidup tokoh-tokoh tertentu sehingga mampu menggerangkan hati dan pikiran sang buah hati untuk berpikir dan merasakan auranya. Mungkin metode duduk berdua, bertiga, berempat, dst. di tepi tunggu sembari mendengarkan dongeng sang ayah atau sang ibu perlu digalakkan sehingga pendidikan kognitif dan psikomotorik bagi titipan Tuhan ini berkembang bersamaan.
            Suara bedil Cebongan juga mengetuk pintu-pintu ruang kelas sekolah di NTT untuk segera mengevaluasi model pendekatan pendidikan yang selama dipraktikkan. Mungkin tidak tepat lagi guru berdiri di depan kelas dan menyaksikan murid-muridnya berlutut mengelilingi tiang bendera pada pukul 12.00 siang. Sebab yang tertinggal hanyalah kebencian pada sang guru. Bila itu tidak terlampiaskan, maka siapa saja yang menyakitinya ia akan membalasnya, bukan hanya ingin balas dendam tapi sekaligus melampiaskan tumpukan busuk yang selama ini tersusun dalam hatinya.
            Banyak hal yang bisa ditimba dari peristiwa Cebongan. Namun, kesanggupan untuk mengambil satu sisi saja dan konsisten mengaplikasiknnya dalam kehidupan kita, khusunya muda-mudi NTT, layak menjadi prioritas kita. Mari kita bersama-sama menghapus stigma premanisme yang terlanjur dikenakan publik bagi insan-insan NTT. Caranya, warisilah petuah-petuah keijaksaan yang sempat dibisikkan sang ayah atau ibu saat kita hendak berngkat ke tanah rantau.

steve agusta
kebon jeruk, 8 april 2013
*penulis adalah anggota IMMORTA (Ikatan Mahasiswa-mahasiswi Timor-Jakarta).
           

Pilih Indonesia


Sejak tiga bulan yang lalu, bapak lebih banyak diam. Ia sering termenung sendiri. Amarahnya meledak-ledak saat Jerio atau salah satu dari kami berbuat salah. Apalagi mama. Ia selalu yang menjadi sasaran amarahnya. Bila ia pulang dari kebun dan belum ada nasi atau sayur, dinding rumah tak kuasa menahan lengking suaranya. Kalau sudah begitu, kami lebih banyak diam.
            Saya sendiri bingung. Kenapa bapak tiba-tiba menjadi sangat kejam. Dengan umur yang baru menginjak 13 tahun, saya bertanya-tanya tentang perubahan sikap bapak. Saya pikir, kami tidak pernah menyakitinya. Nakal juga tidak. Kami selalu mengikuti apa yang diinginkannya.
            Seingat saya, tiga bulan lalu bapak mendapat telepon dari Om di Timor Leste. Katanya, nenek sakit parah. Ia meminta kami untuk menjenguknya. Dulu kami memang sama-sama di Bauccau. Tapi, semenjak kerusuhan pasca jajak pendapat 1999, kami mengungsi ke Oepoli – sebuah desa terpencil di ujung timur Kabupaten Kupang. Kami hanya menjalin komunikasi dengan nenek, Om, Tante, dan beberapa keluarga lain di Baucau lewat handphone. Itupun harus berjalan kaki sekitar 15 kilometer untuk mendapatkan signal telkomsel. Yah, beginilah nasip tinggal di daerah terisolir. Tempat lain sudah sangat maju, desa ini masih jauh dari terbelakang. Jangankan signal telkomsel, listrik saja belum ada. Di rumah kami memakai pelita yang terbuat dari benang dan kaleng sprite berbahan bakar minyak tanah sebagai penerang.
            Saya menduga, akhir-akhir ini bapak sering marah karena pikirannya dibebani permintaan Om. Kami harus ke Baucau. Sementara untuk sampai ke sana, kami harus punya paspor. Untuk mengurusi paspor, per orang dikenakan biaya Rp 500.000. Berarti kalau untuk kami tujuh orang, bapak harus mengeluarkan uang sebanyak Rp. 3.500.000. Itu belum termasuk biaya visa dan transportasi. Belum lagi syarat-syarat pembuatan paspor. Katanya harus punya KTP dan Kartu Keluarga. Rasanya bapak dan mama belum punya KTP Indonesia. Dua tahun yang lalu, Kepala Desa mengumumkan bahwa akan membuatkan KTP bagi para penduduk eks Timor Leste. Tapi sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya.
            Tidak mungkin bapak bisa menyiapkan uang sebanyak itu. Dengan bekerja hanya sebagai petani penggarap, untuk mendapat uang sepuluh ribu saja susahnya minta ampun. Untuk biaya sekolah saja, saya dan Jerio harus membantu mencari uang dengan menanam padi di sawah milik orang-orang sekampung.
***
            Malam itu hanya saya, Jerio, bapak, dan mama yang belum tidur. Saya baru saja menyelesaikan tugas Biologi. Bapak dan mama duduk diam di balik tungku dapur. Sepintas saya memandang mereka, lalu melangkah ke kamar.
“Raul ….” suara bapak menghentikan langkah saya. “Panggil Jerio. Kalian berdua ke sini.” Saya dan Jerio berjalan ke arah mereka. Mama mengangkat wajahnya. Matanya sedikit kemerahan. Pipinya lembab. Sepertinya mama baru habis menangis. “Apakah bapak memukulnya, atau memarahinya?” saya menduga-duga.
“Jerio, bagaimana sekolahmu?” tanya bapak dengan suara datar.
“Baik bapak.”
“Apakah tidak ada waktu untuk libur?”
“Tidak. Mungkin setelah ujian semester.”
“Berapa bulan lagi?”
“Empat setengah bulan. Sekitar akhir Juni.”
“Sesekali tidak usah ke sekolah. Bantu bapak di sawah.”
Kami terdiam. Tak mungkin saya atau Jerio membantah perintah bapak. Kami takut ia marah. Apalagi sudah lewat tengah malam. Semua tetangga sudah tidur. Perkampungan sepi.
“Besok bilang ke gurumu bahwa minggu depan kita mau ke Baucau. Nenekmu sakit berat. Siang tadi Om menelepon lagi. Katanya, nenek mengharapkan kita menjenguknya. Tau kan sifat Ommu itu. Kalau kita tidak datang, ia pasti marah besar. Pake denda segala. Apalagi, ini permintaan dari nenek sendiri.”
Ia memandang ibu sebentar. Lalu melanjutkan, “hanya kita berdua. Raul, Mama, dan adik-adik tinggal. Kalau semua berangkat kita tak punya uang. Kalau urusan di batas tidak rumit, baik kalau kamu sama mama yang berangkat.”
Kami hanya bisa mendengarkan ocehan bapak. Sebenarnya saya kurang setuju dengan ide bapak. Tinggal seminggu lagi, saya dan Jerio harus ikut Ujian Tengah Semester. Tapi kalau sudah begini, bapak pasti tidak peduli. Tak mungkin juga ibu mengubah keputusannya.

***
Suara parau bus satu-satunya yang selama ini melayani transportasi andalan kami ke kota menyibakkan telinga. Jerio dan bapak sudah menanti di depan rumah. Mama hanya terdiam. Wajahnya muram. Saya rasa ia sangat sedih. Ia pasti merindukan kesempatan untuk bertemu dengan saudara-saudaranya. Ia merindukan kesempatan bersua dengan mamanya. Paling tidak sebuah pelukan kasih dari seorang ibu kepada anaknya, yang telah lama “menghilang”. Maklum, sudah tigabelas tahun semenjak jajak pendapat, mereka belum pernah bertemu. Komunikasi hanya lewat handphone.
Menjelang sore, Jerio dan bapak tiba di Atambua. Mereka menginap di sebuah keluarga kenalan bapak. Jerio merasa sangat lelah. Maklum kondisi jalan masih jauh dari layak. Berlubang-lubang, belum beraspal, dan berdebu. Orang-orang kampung sering berseloroh, ‘silih satu lubang, masuk lima lubang’.
Sekitar pukul 06.00, bapak membangunkan Jerio, dan menyuruhnya mencuci piring. Ia mengikuti saja. Ia takut kalau bapak marah. Apalagi mereka sedang di rumah orang. Setelah makan pagi mereka berangkat ke basecamp Timor Travel, sebuah agen travel yang melayani transportasi Atambua-Dili (Pergi-Pulang).
“Mana paspornya pak?” tanya petugas travel.
“Kami orang asli Timor Leste yang masih tinggal di Indonesia sejak jajak pendapat”.
“Bapak mau ke mana?”
“Ke Baucau”.
“Bapak harus membuat paspor dulu. Kalau mau masuk ke sana harus pakai paspor.”
“Saya tidak punya waktu dan uang untuk buat paspor.”
“Kalau begitu Bapak tidak bisa ke sana.”
“Saya mohon dicarikan caranya agar saya bisa ke sana. Ibu mertua saya sakit keras.”
“Ya, tapi untuk masuk ke sana Bapak harus pakai paspor.”
“Jangankan paspor. KTP saja saya tidak punya. Pernah dijanjikan untuk diuruskan. Kami sudah membayar per Kepala Keluarga seratus ribu. Tapi, sampai sekarang belum ada.”
“Sudah berapa lama tinggal di Indoensia?”
“Sejak pasca jajak pendapat. Kurang lebih tigabelas tahun.”
“Mengapa tidak kembali saja ke Bauccau?”
“Saya bersama keluarga sudah pilih Indonesia. Meski harus melarat seperti ini, kami tetap pilih Indonesia.”
“Oh……”
“Ferdi, Bapak sama anaknya ini mau ke Bauccau, tapi tidak punya paspor. Kamu bisa bantu?”
“Kalau dua orang kena $100 USA. Pulang juga sama,” jawab sang sopir travel.
Bapak mengangguk. Jerio hanya diam. Ia tak tahu mereka akan dibuat seperti apa. Bapak berbisik, “Ikuti saja apa yang mereka katakan.”
Mobil travel perlahan meninggalkan kota Atambua. Di sisi kiri, tampak areal persawahan dengan padi menghijau terbentang luas. Sementara di kanan, laut biru memukau mata. Di bahu jalan, beberapa anak tampak berpakaian putih-biru. Rupanya mereka baru saja pulang sekolah. Travel melaju kencang diiringi lagu-lagu portu. Dari kejauhan tampak sebuah papan di sisi kiri jalan bertuliskan  “Maliana. Perbatasan Indonesia-Timor Leste”.
Tiba-tiba suara sopir membuyarkan lamunan. “Yang tidak punya paspor masuk ke kolom kursi.”
“Hah? Kenapa bapak?” tanya Jerio.
“Ikuti saja,” perintah bapak sambil menarik lengannya ke bawah.
Jerio melipat badan sedemikian kecil di bawah kursi penumpang agar tidak kelihatan dari jendela mobil. Demikianpun bapak.
“Semua penumpang turun. Silakan lapor ke pos!” terdengar suara Polisi Indonesia.
“Yakin tidak ada orang yang masih tinggal di mobil?”
“Tidak ada Pak. Saya hanya membawa sepuluh penumpang. Nama-nama mereka ada dalam daftar. Di sini hanya barang-barang,” jelas Pak Sopir.
Beberapa Polisi menengok ke dalam mobil.
“Yakin tidak ada orang di dalam,” teriak seorang polisi dari balik jendela mobil.
“Tidak ada Pak”.
“Kamu benar-benar yakin tidak ada? Kalau ada, saya rendam kamu di laut.”
            Jerio ketakutan. Apakah polisi itu melihatnya? Atau Bapaknya? Keringat mulai bercucuran darai kening Jerio. Ia melipat tubuh agar lebih kecil lagi.
“Tidak ada pak. Saya sudah biasa lewat sini. Saya tahu aturan yang berlaku di sini,” kata Pak Sopir.
“Oh. Lalu kaki siapa ini? Buka pintu belakang! Cepat!”
“Crekkk”, bunyi pintu bekang mobil dibuka.
Polisi itu menyibakan tas para penumpang. “Yang ada di dalam mobil keluar”, teriaknya.
“Masih ada orang di dalam mobil?” seru dua orang polisi hampir bersamaan. Mereka mendekat.
Jerio tak bisa menahan rasa takut lagi. Rasanya ingin menjawab atau keluar dari persembunyiannya sebelum mereka ditemukan. Ia melihat ke arah bapaknya. Bapaknya hanya diam. Matanya ditutup rapat. Rasanya seperti seseorang memindahkan tas-tas yang ada di belakang Jerio.
 “Crekk!” Pintu belakang kembali ditutup. Oh, rupanya sopir yang merapikan kembali tas para penumpang. Syukur, kalau semua ini berakhir,” keluh Jerio sambil meneghembuskan napas yang sudah ia tahan dari tadi.
            Penumpang lain kembali ke atas mobil. Pak Sopir menginjak pedal gas. Mobil meluncur cepat. Jerio hendak mendorong tubuh keluar dari bawah kursi. Tapi, Bapak manahan tubuhnya. Ia memberi isyarat diam. Tak sampai sepuluh menit kami sampai ke Pos TNI. Penumpang lain turun. Pak Sopir menghampiri mereka. “Tunggu saya di sini,” pesan Pak Sopir.
Tak lama berselang, ia datang bersama seorang tentara dan seorang pemuda. Jerio dan Bapaknya dibawa masuk ke salah satu ruangan. Seorang pumuda menghampiri mereka. Ia menawarkan penukaran uang dari rupiah ke dollar. Bapak menerima tawaran itu.
Di ruangan itu, sang pemuda meminta bayaran. Bapak memberikan $100.
“Pembagiannya setelah saya kembali,” jelas si pemuda disambut angguk pak sopir dan pak tentara.
            Jerio dan Bapaknya dibawa keluar dari ruangan lewat pintu belakang. “Tunggu saya di sini”, kata si pemuda. Tak lama kemudian ia muncul lagi dengan mengenderai sebuah sepeda motor. “Ayo naik”. Ia memacu motor melewati gerbang perbatasan bertuliskan “Welcome to Timor Leste”. Ketika sampai ke Pos Polisi Timor Leste, mereka berhenti. Ia turun, mengatakan bebera kalimat kepada polisi yang sedang berdiri di palang pembatas. Ia menyodorkan genggaman tangannya kepada polisi itu, lalu kembali ke arah mereka. Motor dihidupkan dan mereka melanjutkan perjalanan.
            Sekitar satu tikungan dari pos perbatasan ada sebuah warung. Mereka berhenti di situ. Katanya, “Kalian tunggu di sini. Sepuluh menit lagi travel yang tadi berhenti di Pos Polisi Timor Leste akan datang. Kalian numpang saja. Tidak usah takut. Semua aman.” Ia pun pergi.        
            Benar. Tak lama berselang, travel yang dimaksud datang. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Rumah penduduk masih sangat sederhana. Hanya beratap daun dan berdinding bebak. Belum ada perubahan signifikan.
            Malam sudah memeluk bumi Lorosae. Mobil yang mereka tumpangi meliuk-liuk kencang di tikungan-tikungan tajam yang kadang menanjak, kadang menurun. Ketika mereka memasuki kota Dili, Om menelpon bapak. Jerio tak bisa mendengar apa yang dikatakan Omnya. Hanya jawaban “ya” yang keluar dari mulut bapak. Penumpang lain sudah turun di tempat tujuan mereka masing-masing. Tinggal Jerio dan bapak. Sopir menginjak pedal gas. Mobil meluncur kencang ke balik bukit, ke arah Bauccau. Di tengah jalan, mereka dihadang. Beberapa orang bangkit dari tidurnya di semak-semak pinggir jalan. Di antara mereka muncul juga Om. Ia menghampiri mobil. Bapak turun dari mobil. Om mendekatinya. Dalam hitungan detik, bapak terkulai. Darah bercucuran deras dari balik bajunya. Jerio hanya diam di kursinya. “Mungkinkah Om membunuh bapak karena kami memilih Indonesia?” pikir Jerio.
“Kau, turun!” teriak Omnya.
Dengan sigap Jerio menjatuhkan handphone milik bapanya ke pangkuan sopir. “Mudah-mudahan sopir membawa rekaman ini kepadamu, mama. Kami tak pernah tahu nenek sakit atau tidak. Saya dan bapak telah tiada. Kami mati karena pilih Indonesia,” pikir Jerio sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

steve agusta

*) Bauccau adalah salah satu kampung yang terletak di pinggir kota Dili, Timor Leste.
*) Lorosae dalam Bahasa Tetun (Timor Leste) berarti matahari terbit. Sapaan ini biasanya dipakai untuk menyebut Timor Leste yang letaknya paling Timur dari Pulau Timor.


Cat: Cerpen ini masuk dalam kategori 10 cerpen terbaik dalam Lomba Cerpen 2013 yang diadakan oleh FAM Indonesia.


Sabtu, 02 Februari 2013

50 Penyair Muda Meneropong Realitas Indonesia

Presiden Pertama Indonesia, Soekarno (alm) dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan, “Berikanlah kepada saya 1000 orangtua, maka saya akan memindahkan Gunung Simeru dari akarnya; tapi berikan kepada saya 10 pemuda yang berbakti kepada tanah air, maka saya akan mengguncang dunia”. Inilah ungkapan puji dan puja bagi semangat juang para pemuda dan pemudi di masanya. Soekarno menggunakan ungkapan ini untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air para pemuda-pemudi untuk bangkit melawan penjajah. Kemerdekan menjadi tujuan mutlak yang tak bisa ditawar.
            Ungkapan Soekarno ini sangat kontekstual pada masa itu. Namun, bagi kaum muda masa kini, apa implikasi dari ungkapan itu? Sebagai kaum muda yang melek sejarah, sudah sepantasnya ungkapan itu menyisir hati dan jiwa kita untuk melihat laku mana yang harus kita wujudkan dalam keseharian kita. Sekecil apapun itu, pasti memberi efek yang sangat besar di kemudian hari. Sudahkah kaum muda masa kini memikirkan hal ini?
            Pada zaman yang dihiasi hiruk pikuk dan “budaya bunglon” (=suka berubah sesuai tuntutan zaman) ini, beberapa kaum muda secara eksplisit ingin mengatualisasikan sari dari pesan Soekarno. Dengan polos, luguh, dan niat suci mereka mengambil jarak dengan realitas, lalu meneropongnya dalam-dalam. Hasil peneropongan mereka itu dituangkan dalam puisi-puisi yang syarat makna.
            Mereka bukan penyair ternama yang telah mencatatkan namanya di ranah kesusasteraan Indonesia. Mereka bukan politisi yang membicarakan penderitaan rakyat sekaligus mengeruk uang rakyat untuk pesta pora dan biaya kehidupan partai. Mereka hanyalah insan yang lahir ke dunia untuk membawa perubahan-perubahan demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.
            Dalam buku “Kejora yang Setia Berpijar”, ke-50 penyair muda tampil dengan satu fokus sorotan mata pada makna “Pahlawan di Mataku”. Sembari mengusung semangat warisan Soekarno, mereka memberi warna kepada sejarah Indonesia masa kini. Bagi ke-50 penyair ini, seorang Pahlawan bukan hanya mereka yang mengacungkan bambu runcing di masa Soekarno, bukan juga mereka (menteri) yang berhasil menjalankan amanah Presiden dalam Reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu I&II, tapi termasuk pula tukang sapu jalan.
            Jasa para petani yang menyuplai beras bagi kehidupan penduduk Indonesia dan dunia, mendapat porsi perhatian yang sangat besar dalam perspektif para penyair muda ini. //di sisi tebing.// kedua kaki keriput, kedua tangan lemah bertarung dengan ilalang lebat//tulang yang tak kuat bergetar berpegangan pada akar beluar// (Karya Novita Suchi). Atau, //rembulan ini masih sama//purnama ini masih sama//seperti duapuluh tahun lalu//saat pacul tuaku membelah tanah ini//peluh mencair di bidang-bidang pematang// (Karya Steve Agusta). Atau //benih-benih padi terhampar di sawah//sosok pak tua menggarap tanah//peluhnya beradu dengan pasrah//menatap sang surya yang enggan mengalah// (Karya Melati Pertiwi Puteri).
            Selain itu, masih ada sejuta pandang dari sisi lain yang mengangkat jasa orang-orang yang selama ini kita anggap biasa saja. Para guru, ibu rumah tangga, sahabat adalah objek yang disasar ke-50 penyair ini. Mereka mengahdirkan perspektif baru. Dengan rangkaian kata, mereka berusaha menerjemahkan seruan Soekarono tadi dalam buku “Kejora yang Setia Berpijar” yang sarat makna ini.
            Mata dan hati tak akan lelah berdecak kagum pada tarian pena para penyair muda ini. Mereka, dengan segala kemampuan yang dimiliki, menyematkan semangat saling menghargai, apapun profesi yang kita miliki. Lebih dari itu semua, mereka telah mengabadikan setiap momen penglihatan mereka akan realitas yang ada di sekitar mereka. Mata pembaca dijamin tak akan lelah untuk menyisir halaman demi halaman dari “Kejora yang Setia Berpijar”, terbiatan FAM Publishing ini. Selamat memasuki pertapaan penuh makna dalam tuntunan ke-50 penyair muda ini.

Steve Agusta

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com, dan kunjungi web kami di www.famindonesia.com].
 


Senin, 21 Januari 2013

BUMI SAMBARA




Mungkinkah seorang yang menempuh pendidikan bertahun-tahun akan setia pada disiplin ilmu yang ia pelajari? Dalam kenyataannya, banyak orang malah melakukan sesuatu di luar disiplin ilmu yang menjadi keahliannya. Ada sebagian orang yang meninggalkan disiplin ilmunya demi mengejar apa yang menjadi hasrat dalam jiwanya. Ada pula yang tetap setia pada profesinya, tetapi dalam waktu yang bersamaan mengembangkan hal lain yang menjadi minat khususnya. Segala sesuatu menjadi mungkin, saat seorang mempunyai niat dan tekat yang membara untuk mengejar mimpi-mimpinya.
            Setidaknya Dr. dr. Theresia Citraningtyas adalah seorang yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok yang kedua tadi. Disiplin ilmu yang dipelajarinya adalah kesehatan, khususnya di bidang Psikiatri, namun kegiatan menulis sudah dicintainya semenjak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tidak tanggung-tanggung, berbagai artikel telah lahir dari tangan dokter yang meraih gelar doktoralnya di Universitas ternama Australia ini.
            Bukti karyanya yang paling terakhir adalah sebuah novel untuk kalangan remaja berjudul “Bumi Sambara”. Sebuah karya yang mengulas secara detil dan menarik peninggalan bersejarah Candi Borobudur. Dalam catatan penulisnya, ia menyebutkan, “Seperti empat tangga naik ke candi yang datang dari keempat mata angin, karya ini menelusuri Borobudur dari empat sisi. Pertama, Candi Borobudur sebagai peninggalan sejarah Bangasa Indonesia yang kaya. Kedua, Candi Borobudur sebagai bentuk pencitraan dari kisah-kisah pencerahan yang membantu manusia bercermin diri. Ketiga, Candi Borobudur sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan dan masyarakat sekitarnya, dengan berbagai potensi alam dan budaya. Dan, keempat, Candi Borobudur sebagai tempat wisata yang mempertemukan pengunjung dan peziarah dari seluruh dunia.”
            Dari catatan penulis ini, paling tidak pembaca mendapat gambaran bahwa buku ini berusaha mengulas dan menarasikan Candi Borobudur dalam perspektif Citra, demikian sapaan untuk penulisnya. Citra mengurai cerita kunjungannya ke Borobudur dengan sudut pandang seorang remaja. Mula-mula keempat remaja sebagai tokoh utama dalam cerita ini datang berlibur di Candi Borobudur. Tapi dalam ulasan selanjutnya, setiap remaja mengungkapkan kekagumannya atas Candi Borobudur dengan selipan arti bangunan, tradisi, dan budaya lokal yang ada di sekitar candi. Hal ini tentu menjadi hal yang sangat menarik, mengingat paham lokal dan budaya yang selama ini dianggap orang sebagai bahasan yang kering, toh disajikan Citra dengan penuh emosional dan menggugah.
            Selain menguraikan “masa lalu’ dari candi ini, Citra juga mengungkapkan pengharapan yang terus mengalir, meskipun usia candi ini melampaui hitugan abad. Hal itu tampak  dalam kalimat, “Dari bekas pohon itu, tumboh pohon yang baru. Lukas jadi berpikiran, betapa hidup penuh ketidakpastian, namun dalam segala apa yang habis masanya, ada harapan untuk hal baru.” Ini ungkapan mendalam yang sungguh menunjukkan jiwa yang sangat ksatria tentunya. Atau, sebuah kalimat reflektif yang berbunyi, “kalau hujan, ya bersyukur juga, langit memberi kesempatan bumi mandi dan membersihkan diri”. Menarik bukan?
            Dalam novel setebal 171 halaman ini, Citra mampu menyihir pembacanya dengan kata, diksi, dan juga nada pengharapan yang mampu membuat pembaca merasa damai setelah membacanya. Mungkin sedamai hati tatkala menyaksikan sunrise atau sunset di puncak Candi Borobudur. Anda sungguh penasaran? Jangan lupa membaca karya yang sangat mengagumkan ini, BUMI SAMBARA.

Steve Agusta
Kebun Jeruk, 21012013

Kamis, 25 Oktober 2012

Supermen Masa Kini


Saat malam telah tiada
manakala fajar menjemput bumi
neraca aktivitas kembali bersua
dalam hari berwajah terik
Akulah supermen masa kini
mengalahkan sejuta pengalah
'tuk meraih mimpi ribuan harap
meski tampak tertatih dalam diam

Wahai bumiku tanpa akhir
kangkangkan tubuhmu
berbukalah lebar-lebar
biarlah liangmu menampakan wajahnya
meyangmbangi aku, sumpermen masa kini

Wahai langitku tiada ujung
Sobeklah pakaian kebesaranmu
biarlah sekucurmu tampak basah
berderai titik-titik kemolekan
undangan bagiku, sang supermen
Bagi keterbukaan akan keabadian

Steve Agusta
26 Oktober 2012


Rabu, 24 Oktober 2012

Kembali ke Gereja Kita

    Lama tidak pernah bertemu, tidak berarti perkenalan dan pengalaman pernah bersama itu harus dilupakan. Justru lama tidak berjumpa itulah yang akhirnya membangkitkan rasa ingin kembali seperti dulu lagi. Inilah sepenggal kata yang mungkin agak tepat untuk menggambarkan pengalaman kembali berjumpa dengan seorang temanku.
    Kami pernah bersama menyelesaikan studi SMP di sebuah desa kecil bagian dari negeri ini. Sebuah desa yang kelihatanya sangat tertinggal dan usang karena terabaikan dari perkembangan peradaban, namun telah menjadikan kami bertumbuh sebagai orang yang dewasa dan dapat mengerti sesuatu.
Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa pengalaman kembali berjumpa itu akan kami alami, oleh karena belasan tahun telah lama memisahkan kami. Pada 1998-2000 kami mengais pendidikan SMP di SLTPK San Daniel. Setelah itu, kami pun berpisah karena tuntutan masa depan.
***
    Suatu malam, ketika aku sedang duduk santai di kos di tanah rantau, tiba-tiba sebuah sms menderinmgkan Hp jadulku. Seperti biasa aku membukanya dengan santai dengan asumsi sms dari teman-temanku yang lagi kanker (kantong kering) di ahir bulan dan ingin bergurau sekedar mengusir kegelisahan. Tapi rupanya bukan. “slamat malam teman, apa kabar?” Lalu tertera namanya dengan cukup jelas diakhir kata-kata sms itu.
Aku terkejut, seolah tidak percaya pada isi sms dan nama yang tertera di bawahnya. Aku membalas: “kabarku baik-baik aja. Sekarang teman di mana?”
“ saya sekarang di Lenteng Agung” balasnya.
    Ow, tempat itu sangat dekat dari kosku. Rupanya teman yang satu ini pun telah berjalan jauh hingga tiba di kota ini. Perasaan bahagia, haru, dan senang bercampur baur. Dia yang telah lama hilang kini telah kutemukan. Dia yang telah mati, namun telah kembali. Demikian perasaan ini meminjam kata-kata Penginjil Lukas ketika mengemukakan perumpamaan “Bapa Yang Berbelas Kasih.” Ya, singkat cerita aku sangat bahagia karena kami bisa bertemu lagi. Kami hadir kembali dengan cerita perjuangan dan pengalaman perjalanan yang berbeda.
***
    Rupanya benar dugaan saya bahwa kami akan hadir dengan kisah yang berbeda. Kembali menengok ke belakang, ternyata kami telah merintis dan dan mengukir kisah sejarah yang dramatis. Ada kisah yang menggembirakan, ada kisah yang menyedihkan, bahkan mengundang haru dan penyesalan. Kisah itu, jika hendak digambarkan, dialami teman saya ini. Pertimbangan yang kurang matang di masa lalu telah menghadirkan penyesalan yang sangat dalam saat ini. Keputusan yang sangat berisiko mengancam kelanjutan kehangatan dan kasih sayang dari keluarga harus ia tempuh. Orang tua dan keluarga tak sanggup menerimanya. Namun, dengan tekat yang bulat ia terus melangkah, merintis kisah sedih yang baru terasa saat ini. Terlanjur bertindak, membuat dia nekat mengambil jalan pintas meski harus dibenci.
    Namun, saat ini tumbuh harapan dan keinginan untuk kembali. “aku ingin seperti dulu lagi. Aku ingin kembali menjadi katolik lagi, seperti masa dulu kita SMP,” demikian harapan dan niat yang terbersit di akhir perbincangan kami. Sebagai temanmu, aku selalu menanti kepulanganmu. Meski dulu teman pernah salah langkah, kasih di antara kita tidak pernah terhapuskan karenanya. Aku akan membantumu untuk kembali. Mari kita pulang ke Gereja kita. Gereja di mana dulu kita pernah merasakan sangat dekat dengan Dia. Dia telah menanti kepulanganmu sejak lama. Dia akan sangat bahagia mendengar kabar ini. Yah, aku yakin Dia selalu seperti itu. Menangis ketika kita salah langkah dan bahagia bila kita ingin kembali. Dia tidak pernah membenci kita yang bersalah. Dia hanya berharap, kita sadar dan ingin memperbaiki diri. Aku akan membawamu pulang. Jika teman tak kuat jalan, aku bersedia memapahmu. DIA TELAH MENUNGGU KEDATANGAN KITA, setiap hari, jam, menit dan detik. (steve agusta, Kebun Jeruk, 04 Juli 2011).