Sabtu, 02 Februari 2013

50 Penyair Muda Meneropong Realitas Indonesia

Presiden Pertama Indonesia, Soekarno (alm) dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan, “Berikanlah kepada saya 1000 orangtua, maka saya akan memindahkan Gunung Simeru dari akarnya; tapi berikan kepada saya 10 pemuda yang berbakti kepada tanah air, maka saya akan mengguncang dunia”. Inilah ungkapan puji dan puja bagi semangat juang para pemuda dan pemudi di masanya. Soekarno menggunakan ungkapan ini untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air para pemuda-pemudi untuk bangkit melawan penjajah. Kemerdekan menjadi tujuan mutlak yang tak bisa ditawar.
            Ungkapan Soekarno ini sangat kontekstual pada masa itu. Namun, bagi kaum muda masa kini, apa implikasi dari ungkapan itu? Sebagai kaum muda yang melek sejarah, sudah sepantasnya ungkapan itu menyisir hati dan jiwa kita untuk melihat laku mana yang harus kita wujudkan dalam keseharian kita. Sekecil apapun itu, pasti memberi efek yang sangat besar di kemudian hari. Sudahkah kaum muda masa kini memikirkan hal ini?
            Pada zaman yang dihiasi hiruk pikuk dan “budaya bunglon” (=suka berubah sesuai tuntutan zaman) ini, beberapa kaum muda secara eksplisit ingin mengatualisasikan sari dari pesan Soekarno. Dengan polos, luguh, dan niat suci mereka mengambil jarak dengan realitas, lalu meneropongnya dalam-dalam. Hasil peneropongan mereka itu dituangkan dalam puisi-puisi yang syarat makna.
            Mereka bukan penyair ternama yang telah mencatatkan namanya di ranah kesusasteraan Indonesia. Mereka bukan politisi yang membicarakan penderitaan rakyat sekaligus mengeruk uang rakyat untuk pesta pora dan biaya kehidupan partai. Mereka hanyalah insan yang lahir ke dunia untuk membawa perubahan-perubahan demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.
            Dalam buku “Kejora yang Setia Berpijar”, ke-50 penyair muda tampil dengan satu fokus sorotan mata pada makna “Pahlawan di Mataku”. Sembari mengusung semangat warisan Soekarno, mereka memberi warna kepada sejarah Indonesia masa kini. Bagi ke-50 penyair ini, seorang Pahlawan bukan hanya mereka yang mengacungkan bambu runcing di masa Soekarno, bukan juga mereka (menteri) yang berhasil menjalankan amanah Presiden dalam Reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu I&II, tapi termasuk pula tukang sapu jalan.
            Jasa para petani yang menyuplai beras bagi kehidupan penduduk Indonesia dan dunia, mendapat porsi perhatian yang sangat besar dalam perspektif para penyair muda ini. //di sisi tebing.// kedua kaki keriput, kedua tangan lemah bertarung dengan ilalang lebat//tulang yang tak kuat bergetar berpegangan pada akar beluar// (Karya Novita Suchi). Atau, //rembulan ini masih sama//purnama ini masih sama//seperti duapuluh tahun lalu//saat pacul tuaku membelah tanah ini//peluh mencair di bidang-bidang pematang// (Karya Steve Agusta). Atau //benih-benih padi terhampar di sawah//sosok pak tua menggarap tanah//peluhnya beradu dengan pasrah//menatap sang surya yang enggan mengalah// (Karya Melati Pertiwi Puteri).
            Selain itu, masih ada sejuta pandang dari sisi lain yang mengangkat jasa orang-orang yang selama ini kita anggap biasa saja. Para guru, ibu rumah tangga, sahabat adalah objek yang disasar ke-50 penyair ini. Mereka mengahdirkan perspektif baru. Dengan rangkaian kata, mereka berusaha menerjemahkan seruan Soekarono tadi dalam buku “Kejora yang Setia Berpijar” yang sarat makna ini.
            Mata dan hati tak akan lelah berdecak kagum pada tarian pena para penyair muda ini. Mereka, dengan segala kemampuan yang dimiliki, menyematkan semangat saling menghargai, apapun profesi yang kita miliki. Lebih dari itu semua, mereka telah mengabadikan setiap momen penglihatan mereka akan realitas yang ada di sekitar mereka. Mata pembaca dijamin tak akan lelah untuk menyisir halaman demi halaman dari “Kejora yang Setia Berpijar”, terbiatan FAM Publishing ini. Selamat memasuki pertapaan penuh makna dalam tuntunan ke-50 penyair muda ini.

Steve Agusta

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com, dan kunjungi web kami di www.famindonesia.com].
 


Senin, 21 Januari 2013

BUMI SAMBARA




Mungkinkah seorang yang menempuh pendidikan bertahun-tahun akan setia pada disiplin ilmu yang ia pelajari? Dalam kenyataannya, banyak orang malah melakukan sesuatu di luar disiplin ilmu yang menjadi keahliannya. Ada sebagian orang yang meninggalkan disiplin ilmunya demi mengejar apa yang menjadi hasrat dalam jiwanya. Ada pula yang tetap setia pada profesinya, tetapi dalam waktu yang bersamaan mengembangkan hal lain yang menjadi minat khususnya. Segala sesuatu menjadi mungkin, saat seorang mempunyai niat dan tekat yang membara untuk mengejar mimpi-mimpinya.
            Setidaknya Dr. dr. Theresia Citraningtyas adalah seorang yang dapat dikelompokkan ke dalam kelompok yang kedua tadi. Disiplin ilmu yang dipelajarinya adalah kesehatan, khususnya di bidang Psikiatri, namun kegiatan menulis sudah dicintainya semenjak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tidak tanggung-tanggung, berbagai artikel telah lahir dari tangan dokter yang meraih gelar doktoralnya di Universitas ternama Australia ini.
            Bukti karyanya yang paling terakhir adalah sebuah novel untuk kalangan remaja berjudul “Bumi Sambara”. Sebuah karya yang mengulas secara detil dan menarik peninggalan bersejarah Candi Borobudur. Dalam catatan penulisnya, ia menyebutkan, “Seperti empat tangga naik ke candi yang datang dari keempat mata angin, karya ini menelusuri Borobudur dari empat sisi. Pertama, Candi Borobudur sebagai peninggalan sejarah Bangasa Indonesia yang kaya. Kedua, Candi Borobudur sebagai bentuk pencitraan dari kisah-kisah pencerahan yang membantu manusia bercermin diri. Ketiga, Candi Borobudur sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan dan masyarakat sekitarnya, dengan berbagai potensi alam dan budaya. Dan, keempat, Candi Borobudur sebagai tempat wisata yang mempertemukan pengunjung dan peziarah dari seluruh dunia.”
            Dari catatan penulis ini, paling tidak pembaca mendapat gambaran bahwa buku ini berusaha mengulas dan menarasikan Candi Borobudur dalam perspektif Citra, demikian sapaan untuk penulisnya. Citra mengurai cerita kunjungannya ke Borobudur dengan sudut pandang seorang remaja. Mula-mula keempat remaja sebagai tokoh utama dalam cerita ini datang berlibur di Candi Borobudur. Tapi dalam ulasan selanjutnya, setiap remaja mengungkapkan kekagumannya atas Candi Borobudur dengan selipan arti bangunan, tradisi, dan budaya lokal yang ada di sekitar candi. Hal ini tentu menjadi hal yang sangat menarik, mengingat paham lokal dan budaya yang selama ini dianggap orang sebagai bahasan yang kering, toh disajikan Citra dengan penuh emosional dan menggugah.
            Selain menguraikan “masa lalu’ dari candi ini, Citra juga mengungkapkan pengharapan yang terus mengalir, meskipun usia candi ini melampaui hitugan abad. Hal itu tampak  dalam kalimat, “Dari bekas pohon itu, tumboh pohon yang baru. Lukas jadi berpikiran, betapa hidup penuh ketidakpastian, namun dalam segala apa yang habis masanya, ada harapan untuk hal baru.” Ini ungkapan mendalam yang sungguh menunjukkan jiwa yang sangat ksatria tentunya. Atau, sebuah kalimat reflektif yang berbunyi, “kalau hujan, ya bersyukur juga, langit memberi kesempatan bumi mandi dan membersihkan diri”. Menarik bukan?
            Dalam novel setebal 171 halaman ini, Citra mampu menyihir pembacanya dengan kata, diksi, dan juga nada pengharapan yang mampu membuat pembaca merasa damai setelah membacanya. Mungkin sedamai hati tatkala menyaksikan sunrise atau sunset di puncak Candi Borobudur. Anda sungguh penasaran? Jangan lupa membaca karya yang sangat mengagumkan ini, BUMI SAMBARA.

Steve Agusta
Kebun Jeruk, 21012013

Kamis, 25 Oktober 2012

Supermen Masa Kini


Saat malam telah tiada
manakala fajar menjemput bumi
neraca aktivitas kembali bersua
dalam hari berwajah terik
Akulah supermen masa kini
mengalahkan sejuta pengalah
'tuk meraih mimpi ribuan harap
meski tampak tertatih dalam diam

Wahai bumiku tanpa akhir
kangkangkan tubuhmu
berbukalah lebar-lebar
biarlah liangmu menampakan wajahnya
meyangmbangi aku, sumpermen masa kini

Wahai langitku tiada ujung
Sobeklah pakaian kebesaranmu
biarlah sekucurmu tampak basah
berderai titik-titik kemolekan
undangan bagiku, sang supermen
Bagi keterbukaan akan keabadian

Steve Agusta
26 Oktober 2012


Rabu, 24 Oktober 2012

Kembali ke Gereja Kita

    Lama tidak pernah bertemu, tidak berarti perkenalan dan pengalaman pernah bersama itu harus dilupakan. Justru lama tidak berjumpa itulah yang akhirnya membangkitkan rasa ingin kembali seperti dulu lagi. Inilah sepenggal kata yang mungkin agak tepat untuk menggambarkan pengalaman kembali berjumpa dengan seorang temanku.
    Kami pernah bersama menyelesaikan studi SMP di sebuah desa kecil bagian dari negeri ini. Sebuah desa yang kelihatanya sangat tertinggal dan usang karena terabaikan dari perkembangan peradaban, namun telah menjadikan kami bertumbuh sebagai orang yang dewasa dan dapat mengerti sesuatu.
Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa pengalaman kembali berjumpa itu akan kami alami, oleh karena belasan tahun telah lama memisahkan kami. Pada 1998-2000 kami mengais pendidikan SMP di SLTPK San Daniel. Setelah itu, kami pun berpisah karena tuntutan masa depan.
***
    Suatu malam, ketika aku sedang duduk santai di kos di tanah rantau, tiba-tiba sebuah sms menderinmgkan Hp jadulku. Seperti biasa aku membukanya dengan santai dengan asumsi sms dari teman-temanku yang lagi kanker (kantong kering) di ahir bulan dan ingin bergurau sekedar mengusir kegelisahan. Tapi rupanya bukan. “slamat malam teman, apa kabar?” Lalu tertera namanya dengan cukup jelas diakhir kata-kata sms itu.
Aku terkejut, seolah tidak percaya pada isi sms dan nama yang tertera di bawahnya. Aku membalas: “kabarku baik-baik aja. Sekarang teman di mana?”
“ saya sekarang di Lenteng Agung” balasnya.
    Ow, tempat itu sangat dekat dari kosku. Rupanya teman yang satu ini pun telah berjalan jauh hingga tiba di kota ini. Perasaan bahagia, haru, dan senang bercampur baur. Dia yang telah lama hilang kini telah kutemukan. Dia yang telah mati, namun telah kembali. Demikian perasaan ini meminjam kata-kata Penginjil Lukas ketika mengemukakan perumpamaan “Bapa Yang Berbelas Kasih.” Ya, singkat cerita aku sangat bahagia karena kami bisa bertemu lagi. Kami hadir kembali dengan cerita perjuangan dan pengalaman perjalanan yang berbeda.
***
    Rupanya benar dugaan saya bahwa kami akan hadir dengan kisah yang berbeda. Kembali menengok ke belakang, ternyata kami telah merintis dan dan mengukir kisah sejarah yang dramatis. Ada kisah yang menggembirakan, ada kisah yang menyedihkan, bahkan mengundang haru dan penyesalan. Kisah itu, jika hendak digambarkan, dialami teman saya ini. Pertimbangan yang kurang matang di masa lalu telah menghadirkan penyesalan yang sangat dalam saat ini. Keputusan yang sangat berisiko mengancam kelanjutan kehangatan dan kasih sayang dari keluarga harus ia tempuh. Orang tua dan keluarga tak sanggup menerimanya. Namun, dengan tekat yang bulat ia terus melangkah, merintis kisah sedih yang baru terasa saat ini. Terlanjur bertindak, membuat dia nekat mengambil jalan pintas meski harus dibenci.
    Namun, saat ini tumbuh harapan dan keinginan untuk kembali. “aku ingin seperti dulu lagi. Aku ingin kembali menjadi katolik lagi, seperti masa dulu kita SMP,” demikian harapan dan niat yang terbersit di akhir perbincangan kami. Sebagai temanmu, aku selalu menanti kepulanganmu. Meski dulu teman pernah salah langkah, kasih di antara kita tidak pernah terhapuskan karenanya. Aku akan membantumu untuk kembali. Mari kita pulang ke Gereja kita. Gereja di mana dulu kita pernah merasakan sangat dekat dengan Dia. Dia telah menanti kepulanganmu sejak lama. Dia akan sangat bahagia mendengar kabar ini. Yah, aku yakin Dia selalu seperti itu. Menangis ketika kita salah langkah dan bahagia bila kita ingin kembali. Dia tidak pernah membenci kita yang bersalah. Dia hanya berharap, kita sadar dan ingin memperbaiki diri. Aku akan membawamu pulang. Jika teman tak kuat jalan, aku bersedia memapahmu. DIA TELAH MENUNGGU KEDATANGAN KITA, setiap hari, jam, menit dan detik. (steve agusta, Kebun Jeruk, 04 Juli 2011).

Cinta


Kala hati menjenguk cinta
Perasaan bahagia karib setia
Semb ari belajar terima sakit
Apakah cinta itu menyakitkan?
Ataukah sakit adalah konsekuensi logis tindakan mencintai?
(Kos Bambu, 18 Maret 2012)

Menakar Hari


Menakar hari
Menghitung detik
Berharap waktu berlangkah seribu
Ingin mimpi terejawantah dalam waktu
Enigma hadir menjawab penantian
Aku rasa inilah saatnya
Meniti jalan sambil berjuang
Mendaraskan mimpi menuju bahagia
(Kos Bambu, 19 Maret 2012)


Selasa, 23 Oktober 2012

Ke-diam-ku



Lidahmu mematok lidahku
Mulutmu mencekik mulutku
nafasmu membelenggu nafasku
matamu memaku mataku

dalam diam kumenyaksikan
pengerukanmu atas kekenyanganku
nafkahku terkuras ke tabunganmu
rintihanku menjadi puja dan pujimu

aku tak mampu berbahasa
kembali terpekur dalam kebodohan
pembodohan dan dibodohkan.

Steve Agusta
23 Oktober 2012

Rabu, 10 Oktober 2012

Hari Ini



Hati Kereta Malam
Musim ini musim hangat
Yang hendak kukatakan panas di kemarau panjang
Dahaga di siang bolong
Kering di malam kelam
Tanpa embun apalagi kabut

Malam itu sunyi-sepi, diam-terlelap
Rongga malam menyusur lilitan elips
Menuju pagi
Sisakan tenang, diam, dan tersipu
Malam malu-malu digasak cahaya kota

Deru kereta melahap rel kereta
Besi berdentang sahut menyahut
Dendang nada seni tak beraturan

Kereta Listrik Rheostatik seri 115 buatan Jepang
Berhenti gemulai
Layu terkuras dimakan usia
Ratusan orang berhembus keluar
Terencana dan tiba-tiba
Di malam yang semakin malam

Seliweran orang ke kiri dan kanan
Beranjak, memanggil, menyetop, menawar
Semua serba hiruk pikuk
Entah datang, entah pergi

Dapatkah hangatnya hati sehangatnya malam
Saat mereka dapat duduk bersua
Melirik titik-titik jalan terlewati
Untuk bertanya pada malam pengubur karya
Akukah ini yang hiruk pikuk
Merengkuh rejeki sudah secukupnya?

Steve Agusta
10 Oktober 2012

Di Balik
Kutatap gadis manis ku sayang
Merona di hati senyum di wajah
Menyemarak di kalbu berdegub di jantung

Ia direbut mata-mata perkasa
Dihasrati minat-minat bertubi

Seluruh raga tercurah tertuju
Segenap jiwa terpacu tertuju
Segunung budi merangkul desah
Melumat bayang-bayang raga

Pikiran melintas tiada henti
Menukik jauh dalam, terdalam
Temukan indah di balik tubuh
Gapai panorama di belakang tampak
Petik pelangi di seberang selubung

Itulah realitas sungguh
Itulah nyata tak berubah
Realitas absolut tak terbantah
Melanglang buana dalam nyata tak berwujud

Steve Agusta
10 Oktober 2012

Jumat, 07 September 2012

Uji Kompetensi dan Fasilitas Pendidikan

Dalam rubrik “Pendidikan & Kebudayaan” Harian Kompas Rabu, 5 September 2012, diuraikan dengan panjang lebar mengenai uji kompetensi yang baru saja diikuti para guru di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tulisan itu berjudul, “Tidak Lulus, 32.000 Guru Ikut Diklat”. Sementara dalam kalimat pembuka tertulis, “Umumnya Berusia di Atas 50 Tahun. Sebanyak 32.000 guru yang tidak lulus uji kompetensi awal mulai menjalani pendidikan dan pelatihan. Para guru yang mengikuti pendidikan ini mendapat nilai UKA di bawah 30 dari skala 100”.
            Di situ dipaparkan pula bahwa para guru mengikuti pelatihan dan pendidikan setelah dinyatakan tidak mencapai rata-rata kompetensi tingkat nasional 42. Mereka diberi kesempatan untuk mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Secara umum para guru yang ikut uji kompetensi ini adalah guru-guru Sekolah Dasar (SD) dan berumur 50 tahun ke atas.

Telaah Kebijakan
            Jujur, saya terkesan dan kagum dengan kebijakan pemerintah, khususnya menteri pendidikan saat ini yang menerapkan sistem uji kompetensi kepada para guru. Inilah salah satu cara untuk mengukur bagaimana para guru membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni, sehingga bekal itulah yang akan diwariskan kepada para siswanya.
            Menelaah lebih jauh berita ini saya jadi berpikir, para guru yang mengikuti uji kompetensi ini sudah berumur 50 tahun ke atas. Dan mereka tidak lulus uji kompetensi (sama sekali tidak ada maksud untuk menyudutkan mereka). Bila dikira-kira, mungkin mereka sudah mengajar selama puluhan tahun sebelumnya. Katakan saja mereka mulai mengajar saat mereka baru berumur 25 tahun. Berarti mereka sudah menjalani profesi ini selama 25 tahun. Sebuah perjalanan yang panjang, dan kesetiaan untuk itu perlu diapresiasi.
            Tetapi saya jadi bertanya. Kalau para guru ini sudah mengajar selama 25 tahun, berapa banyak siswa yang sudah berhasil lulus dari tangan mereka? Mungkin lebih dari 1000 siswa. Dan bila disingkronkan dengan hasil uji kompetensi saat ini berarti selama 25 tahun para guru ini mengajar dengan pengetahuan dan keterampilan di bawah standar. Konsekuensi logisnya ialah siswa lulusannya pun memiliki pengetahuan dan keterampilan di bawah standar.
Inilah peristiwa kontinuitas yang sudah berlansung selama 25 tahun lalu. Baru sekarang pemerintah sadar untuk menanganinya. Negara kita baru saja merayakan HUT-nya yang ke 67. Sejak 25 tahun yang lalu, bahkan mungkin jauh sebelumnya para guru yang mendidik anak bangsa di bawah standar. Memprihatinkan bukan?
Kita baru bicara soal uji kompetensi. Belum lagi proses kelanjutan yang akan dijalani para guru di waktu yang akan datang. Syukurlah kita bisa bernapas lega kalau setelah uji kompetesi dan pelatihan ini para guru diberi fasilitas, minimal perpustakaan di sekolah agar mereka bisa membaca terus-menerus sehingga daya nalar dan keterampilannya semakin meningkat. Dan akan menjadi lebih indah lagi kalau hasil uji kompetensi bagi guru-guru dengan umur di bawah 50 bisa mencapai rata-rata nasional atau paling tidak mendekati. Kalau belum sebaiknya dipikirkan solusi matang dan segera direalisasikan.

Potret Realitas
Lepas dari niat baik dan ketulusan formal ini, saya ingin mensyaringkan sedikit pengalaman saya sepuluh tahun lalu, yang rasanya masih berbanding lurus hingga sekarang.
            Saya memang seorang anak kampung. Lahir di kampung, tinggal di kampung, dan menenyam pendidikan awal di kampung. Bolehlah diklasifikasikan sebagai anak yang kampungan. Orangtua saya seorang petani sawah. Ayah saya seorang pekerja keras, sementara ibu mengimbanginya dengan kreativitas. Bersama kedua kakak dan adik saya, kami dididik secara sederhana, ala anak kampung tentunya. Tapi satu hal yang paling diutamakan oleh kedua orangtua saya adalah pendidikan. Kami harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Kami tidak punya alasan untuk bermalas-malasan. Sesibuk apapun kami harus berangkat ke sekolah. Meski pagi hari kami harus berjalan kaki lima sampai enam kilometer, menyeberangi sungai dan melintasi pematang-pematang sawah, toh kami harus berangkat ke sekolah. Tanpa alas kaki karena jalanan berlumpur, seragam merah putih ternoda oleh lumpur adalah pengalaman yang paling akrab di masa kecil.
            Ketika felek mobil yang tergantung di pohon akasia depan sekolah berdentang untuk ketiga kalinya, kami harus berlari sekencang mungkin sebab pertanda jam sekolah akan segera dimulai. Meski tanpa alas kaki, kami berdiri tegap dengan lima jari terentang di sisi kanan alis mata untuk memberi hormat kepada sang saka merah-putih. Kami berlaku patuh pada aturan dan perintah guru.
            Hari berlalu, bulan pergi, dan tahun pun berganti. Saya yang dulu kecil perlahan beranjak dewasa. Sekolah masih seperti dulu. Tepat pukul tujuh kami masuk ruangan. Guru mata pelajaran datang membawa buku paket yang sudah kelihatan kuning dan usang. Ada sebagian halaman yang tinggal setengah, ada juga yang sudah menghilang. Kami diminta mencatat dari buku paket itu, kata per kata, kalimat per kalimat, hingga halaman per halaman. Kami tidak memiliki mesin fotocopi seperti teman-teman di kota. Maka kami harus mencatat dengan tangan. Hanya catatan itu saja yang menjadi bahan untuk belajar. Tidak ada bahan lain.
            Jangan pernah bertanya soal perpustakaan. Di sekolah saya, dari SD – SMP saya tidak pernah melihat yang namanya perpustakaan. Buku pegangan yang kami pakai antara 1992-1998 adalah peninggalan kakak kelas angkatan pertama sekolah saya 1970an awal. Kami hanya menikmati pendidikan sederhana. Guru kami juga sederhana. Usai jam sekolah, bersama-sama siswa berlomba-lomba pulang ke rumah. Di luar jam sekolah guru-guru saya juga bekerja sebagai petani: mengolah sawah untuk pendapatan tambahan. Maklum gaji di sekolah sangat sedikit.
            Lalu kapan guru-guru saya ini belajar? Tanpa berpretensi merendahkan mereka saya hanya mengatakan, mungkin mereka hanya belajar dari buku yang menjadi sumber catatan kami para siswa sehari-hari di sekolah. Atau mungkin juga tidak pernah. Berbekal ilmu yang masih melintas dalam ingatan, itulah yang diajarkan kepada kami.

Solusi Dasariah
 Ini sebuah potret realitas yang sedang terjadi di negeri ini. Dan sampai sekarang keadaan itu masih “dipertahankan”. Sekolah SD dan SMP tempat saya menuntut ilmu sepuluh tahun silam tetap tidak memiliki perpustakaan. Guru-gurunya lebih memiliki hobi mengolah sawah (bertani) dan menangkap ikan di laut (nelayan) daridapa hobi mengajar.  Maka ketika melihat pemberitaan Harian Kompas mengenai uji kompetensi para guru, saya kembali mengingat guru-guru saya di kampung. Berapakah hasil yang akan mereka peroleh kalau mereka mengikuti uji kompetensi ini?
Lepas dari lulus atau tidak, saya ingin mengatakan bahwa hal yang paling mendasar bagi peningkatan pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan adalah MEMBACA. Kegiatan membaca menjadi tolok ukur utamnya. Untuk merealisasikan itu, sediakalah perpustakaan di setiap sekolah. Dengan adanya perpustakaan di sekolah, para guru dan siswa akan bersaing untuk membaca. Inilah persaingan yang positif. Bila itu sudah terealisasi saya tidak ragu, rata-rata kompetensi nasional 42 itu sangat rendah untuk ukuran para guru.
Hal inilah yang saya pertanyakan di bagian awal ulasan saya, bagaimana penanganan selanjutnya seusai uji kompetensi nanti? Menurut saya, perpustakaan adalah sulusi yang saya tawarkan sebagai jalan utama meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, tidak hanya bagi para guru, tapi juga bagi para siswa. Mari kita bangun negeri kita yang diisi dengan insan-insan pencitna budaya baca. Membaca adalah perjalanan paling murah untuk mengelilingi dunia. Bekalnya hanya niat dan kemauan untuk duduk berlama-lama.

Steve Agusta
Kebun Jeruk, 7 September 2012

Jumat, 31 Agustus 2012

Sahabat Saya Seorang Pengungsi


Sebulan yang lalu, beberapa truk mengangkut sejumlah orang kembali ke Timor Timur. Katanya mereka akan mengikuti jajak pendapat untuk menentukan masa depan mareka. Atau bersama Indonesia atau otonom. Saya tidak tahu sampai ke situ. Yang saya dengar, katanya bapak presiden Indonesia sudah memberi instruksi. Mereka hanya memilih di antara dua opsi itu. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak susah juga.
            Penduduk desa saya memang paling ujung dari Kabupaten Kupang. Bersebelahan langsung dengan Citrana, Timor-Timur. Desa Netemnanu Utara namanya. Sebagian penduduk adalah masyarakat asli, sebagian lagi keturunan Oecussi, Timor-Timur, sebagian lagi pendatang dari beberapa desa tetangga. Saya sendiri yang adalah putera tunggal dalam keluarga yang diklasifikasikan sebagai pendatang. Ayah suku pendatang, menikah dengan ibu suku asli setempat. Saya dan orangtua saya tidak termasuk dalam kelompok orang yang harus memilih dua opsi bapak presiden. Sejak orangtua hingga saya, kami tetap cinta Indonesia.
            Benar. Baru dua hari, sebagain masyarakat yang berangkat untuk coblos sudah pulang. Sebagian lagi baru pulang hari berikutnya. Hari-hari setelah kepulangan mereka diisi berbagi cerita mulai dari kegiatan mencolos hingga kunjungan keluarga. Masing-masing dengan versinya sendiri. Singkatnya, dua atau tiga minggu ke depan akan diperdengarkan hasil coblosan mereka.
            Sebulan berselang dentuman senjata dan kupulan asap hitam menghiasai udara. Antara mereka yang pro Indonesia dan kontra Indonesia saling membunuh, menjarah, mengejar, dan bahkan saling membantai. Rakyat Timor-Timur berbondong-bondong meninggalkan rumah. Mereka lari. Mereka menghindari peluru para penjaga keamanan. Pengungsian dimulai. Ada yang terpisah dari orangtuanya. Ada yang terpisah dari kekasihnya. Ada yang terpisah dari adik, kakak, tante, ataupun pamannya. Semua mimpi indah coblos telah berubah.
            Rumah kami kedatangan sekitar sepuluh kepala keluarga. Kami tinggal apa adanya. Semua serba terbatas. Tempat untuk tidur, makan, masak pun seadanya. Kebersihan tampak jauh dari harapan. Jumlah penduduk desa membengkak hingga tiga kali lipat.
            Di sekolah pun sama adanya. Kepala sekolah saya mengambil kebijakan untuk menerima anak-anak pengungsi yang mau melanjutkan pendidikan. Jumlah siswa semakin bertambah. Sampai-sampai satu kelas bisa berisi 50-60 siswa. Saya yang waktu itu kelas II SMP tidak mempersoalkan hal itu. Nyatanya, saya punya lebih banyak teman. Saya bisa bermain sepak bola dengan mereka atau memancing di sungai. Sederet rekreasi ala anak kampung lainnya juga kami lakukan.
            Di rumah tetangga ada seorang gadis paroh baya. Namanya Ditta. Usianya baru genap 15 tahun. Saya tahu karena baru masuk seminggu di sekolah kami ia merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya. Saya juga diundang. Bila dipandang sekejap, Ditta memang tidak cantik. Tapi menurutku ia manis. Warna kulitnya sawo matang. Rambutnya ikal. Bola matanya lentik kecoklatan. Hidungnya mancung. Postur tubuh, menurut saya, ideal. Ibunya keturunan portugis. Yah, kurang lebih itulah Ditta, bila ingin dibahasakan.
            Semenjak perayaan ulang tahunnya itu, kami cukup akrab. Beberapa kali kami pergi bersama. Entah ke pantai, atau ke sawah milik kami. Bila malam menjelang, kami sering duduk dan bercanda bersama.
“Roy, malam ini kamu mau ke mana?” tanya Ditta saat kami berpapasan di sumur. Ia hendak mandi.
“Saya di rumah saja. Tidak ke mana-mana. Kenapa?”
 “Tidak. Saya hanya ingin cerita lagi seperti dua malam lalu.”
“Oh, boleh. Tapi kamu sudah menyelesaikan tugas matematikamu?”
“Tinggal beberapa nomor lagi. Mungkin baik kita selesaikan bersama, baru kita mulai cerita.”
Tugas-tugas itu cepat kami selesaikan. Sebab, kata Ditta, ia punya cerita yang lebih menarik dari dua malam lalu.
“Saya masih ingat sama paman saya. Waktu kami mengungsi ia tertinggal di rumah,” Ditta mengawali cerita.
“Memangnya kenapa sehingga dia tidak ikut?”
“Waktu itu sekitar pukul 19.00. Segerombol tentanra datang membawa senjata lengkap dan memaksa kami keluar rumah malam itu juga. Kami dibawa ke kantor desa. Di sana sudah disiapkan truk. Lalu kami dibawa ke sini.”
“Emangnya dia tidak tahu tentang kedatangan para tentara itu?”
“Om saya lagi sakit. Ia kena strocke setahun yang lalu. Sebagian tubuhnya tidak berfungsi. Waktu kami dipaksa keluar rumah, ia masih tertinggal di dalam kamar. Saya dan mama panik. Yang saya ingat, adik saya yang baru tujuh tahunan itu yang berteriak-teriak ingin memberitahu tentara-tentara itu bahwa Om masih tertinggal di dalam kamar. Tapi mereka tidak menghiraukannya. Malah ketika kami sudah di atas truk, dari jauh terlihat kepulan asap hitang keluar dari bubungan rumah kami. Dugaan saya, Om ikut terbakar di dalam rumah itu.”
“Sadis juga ya.”
“Ah, kamu tidak tau Roy. Tentara itu sudah banyak membunuh orang-orang kami. Ayahnya Metty yang di bangsal sebelah itu saja sampai sekarang belum ditemukan. Kemungkinan ia dibunuh. Soalnya, waktu kami mau berangkat ke sini, ayahnya bilang ia akan menyusul besok karena barang-barang di rumah belum terangkut semuanya. Tapi toh sampai sekarang tidak ada kabar.”
Begitulah Ditta. Ia banyak berkisah tentang kampung halamannya yang kini hangus terbakar dan luluh lantah. Kadang ia bercerita sambil tertawa, kadang juga diwarnai tangis. Aku lebih banyak mendengar dari pada menanggapi. Saat ada waktu luang di sekolah pun kami memakainya untuk bercerita. Ia selalu bercerita tentang kejadian-kejadian baru.
Karena keseringan berdua, orang menyangka kami berpacaran. Tapi sebanarnya antara saya dan Ditta hanga terhubung oleh rasa ingin berbagi dan kasihan. Ditta ingin membagikan apa yang menyesakkan dadanya saat menyaksikan perlakuan para tentanra terhadap orang-orangnya dan kampung halamnnya. Sementara saya hanya merasa kasihan mendengar cerita-cerita itu. Tak pernah terbesit dalam pikiran kami bahwa semua yang terjadi itu terbingkai dalam ironi politik. Kami hanya yakin bahwa semua telah rusak, hangus, dan berantakan.
Suatu malam di awal pekan, kami bercerita hingga tengah malam. Orang-orang di rumah saya sudah pada lelap. Malam terasa sepi. Ditta masih komat-kamit tanpa henti. Di sela-sela ceritanya saya bertanya,
“Suatu saat jika semua kejadian menakutkan ini berakhir, apakah kamu akan kembali ke kampungmu?”
“Tergantung orangtua saya. Tapi saya masih takut pulang. Kan bisa saja kejadian sadis itu terulang lagi.”
“Saya pasti merindukan kamu dan cerita-ceritamu.”
“Yah, saya hanya menceritakan apa yang terjadi di kampung saya. Terima kasih kamu mau mendengarnya.”
“Oh, tentu saja ini cerita yang menarik. Saya senang mendengarnya.”
“Saya ingin punya waktu lebih banyak bersama dengan kamu.”
“Kecuali kamu tidak pulang ke Timor Timur,” jawabku disambut senyum Ditta.
Yah, senyuman Ditta selalu menggoda. Lesung pipinya selalu membuatnya dikagumi teman-teman di sekolah. Penampilannya yang selalu kalem dan tak banyak dandanan semakin mengundang tatapan lama. Tak heran banyak dari teman-teman yang ingin mendekati Ditta.
Malam itu, Ditta tidak ingin pulang ke rumahnya. Ia mau menginap di rumah saya. Meski saya meyakinkankanya bahwa semua kamar sudah terisi, ia tetap memintanya.
“Satu-satunya kamar yang masih kosong adalah kamar saya.”
“Saya tidak keberatan tidur dengan kamu.”
“Eh, bagaimana dengan orangtuamu nanti?”
“Tidak masalah. Di rumah tempat kami menginap pun sudah penuh. Tiap malam saya sama ibu tidurnya ganti-gantian antara kursi dan sebilah papan.”
“Oh, okey….. Tapi tempat tidur saya juga kecil, ukuran satu orang.”
“Atau kamu tidak suka tidur dengan saya?”
“Oh tidak Ditta. Jangan salah paham. Silakan!”
Kami berbaring berdua. Ditta masih bercerita lagi. Posisi tidur kami sangat dekat. Tanganku menyentuh pipi Ditta. Ia berhenti dari ceritanya. Ia menatap saya lebih dalam. Jarinya menggenggam tanganku cukup erat. Sebuah kecupan saya daratkan di keningnya. Ia masih terdiam. Aku juga terdiam. “Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah saya punya. Kamu bersedia mendengarkan cerita dan keluhan saya,” bisik Ditta perlahan.
Dari balik jendela kamar orang mulai lalu-lalang di jalan raya. Beberapa teman sudah mengenakan seragam lengkap melenggang ke sekolah. Saya segera melompat dari tempat tidur. Ditta tak kelihatan lagi. Setengah jam kemudian saya tiba di sekolah. Ditta belum tampak juga. Pelajaran matematika sudah dimulai. Saya masih gelisah karena Ditta masih tak kelihatan. Apakah dia kesakitan? Ataukah ia dimarahi ibunya? Ataukah ia masih ngantuk karena semalam kurang tidur? Segudang pertanyaan dibumbui rasa gelisah dan takut menghatui pikiran saya.
Hari itu Ditta tak kelihatan di sekolah. Beberapa temannya asal Timor Timur juga tak kelihatan. “Sepulang sekolah, saya akan bertanya kepadanya, mengapa ia tidak datang ke sekolah,” demikian saya meyakinkan diri agar mengurangi rasa takut dan kuatir.
Ketika lonceng berdentang panjang tanda waktu sekolah usai, saya cepat-cepat meninggalkan halaman sekolah. Di halaman Gereja yang letaknya tak jauh dari sekolah saya terlihat beberapa truk besar bertuliskan UNHCR. Orang beramai-ramai datang ke Gereja. Ada yang membawa tas, kasur, dan beberapa barang lain.
Oh, rupanya hari ini para pengungsi Timor Timur akan kembali ke kampung halaman mereka. Apakah Ditta juga? Saya berlari sekencang-kencangnya ke rumah tempat Ditta dan keluarganya tinggal. Di sana tampak sepi. Dari tetangga kami itu saya mendapat informasi, Ditta bersama keluarganya sudah kembeli ke kampung halaman mereka. Mereka diangkut dengan truk pertama, sekitar pukul 11.00 tadi.
Dengan langlah lunglai saya kembali ke rumah. Di kamar dan di tempat tidur saya yang kecil, saya membayangkan pengalaman semalam bersama Ditta. Rasanya begitu asik dan nikmat. Sebenarnya saya tak ingin semua berakhir seperti ini. Tetapi kenapa Ditta pergi begitu cepat? Apakah itu ungkapan perpisahan yang hendak ia berikan kepada saya? Mengapa ia tidak mengatakannya jauh-jauh hari? Mengapa ia diam-diam dan pergi tanpa memberitahu saya? Apakah ia tidak menyukai saya? Ataukah orangtuanya yang tidak suka agar Ditta berteman dengan saya?
Saya hanya bisa mengira-ngira mengapa Ditta terlalu cepat pergi. Tapi tak satu pun terjawab. Saya masih berbaring lemas di kamar. Suara truk terus menderu dan akhirnya menghilang. Semua kembali sepi.  
(Steve Agusta)