Senin, 16 Juli 2012

Sajak Hati



Kesia-siaan
Terpekur raga di ruang ini 
Menanti tindak yang tak urung tiba 
Detak kronologi terus meronda 
Tak tahukah dia batin gundah gulana
Berharap tugas bergulir ke finis 
Pasal benturan terlalu kuat melemah
Jadi ngeri lagi lelah

Dapatkah aku seperti Sisifus 
Tak hendak menyerah walau tampak sia-sia
Adakah kesia-siaan?

Jumlah terpatri rapi 
Hanya hati yang mampu merengkuh 
Menyibakkan harapan ke tirai keabadian 
Itulah adanya, 
Adanya yang dipenuhi pengharapan

Steve Agusta
Mangga Besar, 2012


Berkesinambungan
Sanubari terkoyak 
Nurani menangis 
Jiwa meratap 
Mata mwujudkan 
Tangan menghapus 
Adalah kisah berkesinambungan

Runut dalam ruang dan waktu 
Mengalir dalam kronos 
Di seluruh lekuk tubuh

Steve Agusta
Mangga Besar, 2012

Sajakku....


Berjuanglah hingga akhir hayat....
berjalanlah hingga ke ujung dunia....
bernyanyilan sepanjang waktu.....
berkatalah senjang usia....

Sebelum menutup usia.....
Usahakanlah menghasilkan 70x7x7 kalimat positif.....
Sukacita besar menanti kita...bila itu benar-benar terjadi...

Sahabat Saya Seorang Pengungsi

          Sebulan yang lalu, beberapa truk mengangkut sejumlah orang kembali ke Timor Timur. Katanya mereka akan mengikuti jajak pendapat untuk menentukan masa depan mareka. Atau bersama Indonesia atau otonom. Saya tidak tahu sampai ke situ. Yang saya dengar, katanya bapak presiden Indonesia sudah memberi intrusksi. Mereka hanya memilih di antara dua opsi itu. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak susah juga.
Penduduk desa saya memang paling ujung dari Kabupaten Kupang. Bersebelahan langsung dengan Citrana, Timor-Timur. Desa Netemnanu Utara namanya. Sebagian penduduk adalah masyarakat asli, sebagian lagi keturunan Oecussi, Timor-Timur, sebagian lagi pendatang dari beberapa desa tetangga. Saya sendiri yang adalah putera tunggal dalam keluarga yang diklasifikasikan sebagai pendatang. Ayah suku pendatang, menikah dengan saya suku asli setempat. Saya dan orangtua saya tidak termasuk dalam kelompok orang yang harus memilih dua opsi bapak presiden. Sejak orangtua hingga saya, kami tetap cinta Indonesia.
           Benar. Baru dua hari, sebagain masyarakat yang berangkat untuk coblos sudah pulang. Sebagian lagi baru pulang hari berikutnya. Hari-hari setelah kepulangan mereka diisi berbagi cerita mulai dari kegiatan mencolos hingga kunjungan keluarga. Masing-masing dengan versinya sendiri. Singkatnya, dua atau tiga minggu ke depan akan diperdengarkan hasil coblosan mereka.
          Sebulan berselang dentuman senjata dan kupulan asap hitam menghiasai udara. Antara mereka yang pro Indonesia dan kontra Indonesia saling membunuh, menjarah, mengejar, dan bahkan saling membantai. Rakyat Timor Timur berbondong-bondong meninggalkan rumah. Mereka lari. Mereka menghindari peluru para penjaga keamanan. Pengungsian dimulai. Ada yang terpisah dari orangtuanya. Ada yang terpisah dari kekasihnya. Ada yang terpisah dari adik, kakak, tante, ataupun pamannya. Semua mimpi indah coblos telah berubah.
           Rumah kami kedatangan sekitar sepuluh kepala keluarga. Kami tinggal apa adanya. Semua serba terbatas. Tempat untuk tidur, makan, masak pun seadanya. Kebersihan tampak jauh dari harapan. Jumlah penduduk desa membengkak hingga tiga kali lipat.
           Di sekolah pun sama adanya. Kepala sekolah saya mengambil kebijakan untuk menerima anak-anak pengungsi yang mau melanjutkan pendidikan. Jumlah siswa semakin bertambah. Sampai-sampai satu kelas bisa berisi 50-60 siswa. Saya yang waktu itu kelas II SMP tidak mempersoalkan hal itu. Nyatanya bahwa saya punya lebih banyak teman. Saya bisa bermain sepak bola dengan mereka atau memancing di sungai. Sederet  rekreasi ala anak kampung lainnya juga kami lakukan.
           Di rumah tetangga ada seorang gadis paroh baya. Usianya baru genap 15 tahun. Saya tahu karena baru masuk seminggu di sekolah kami ia merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya. Saya juga diundang. Bila dipandang sekejap, Ditta memang tidak cantik. Tapi menurutku ia manis. Warna kulitnya sawo matang. Rambutnya ikal. Bola matanya lentik kecoklatan. Hidungnya mancung. Postur tubuh, menurut saya, ideal. Ibunya keturunan portugis. Yah, kurang lebih itulah Ditta, bila ingin dibahasakan.
          Semenjak perayaan ulang tahunnya itu, kami cukup akrab. Beberapa kali kami pergi bersama. Entah ke pantai, atau ke sawah milik kami. Bila malam menjelang, kami sering duduk dan bercanda bersama.

“Roy, malam ini kamu mau ke mana?” tanya Ditta saat kami berpapasan di sumur. Ia hendak mandi.
“Saya di rumah saja. Tidak ke mana-mana. Kenapa?”
“Tidak. Saya hanya ingin cerita lagi seperti dua malam lalu.”
“Oh, boleh. Tapi kamu sudah menyelesaikan tugas matematikamu?”
“Tinggal beberapa nomor lagi. Mungkin baik kita selesaikan bersama, baru kita mulai cerita.”
Tugas-tugas itu cepat kami selesaikan. Sebab, kata Ditta, ia punya cerita yang lebih menarik dari dua malam lalu.
“Saya masih ingat sama paman saya. Waktu kami mengungsi ia tertinggal di rumah,” Ditta mengawali cerita.
“Memangnya kenapa sehingga dia tidak ikut?”
“Waktu itu sekitar pukul 19.00. Datang segerombol tentanra membawa senjata lengkap dan memaksa kami keluar dari rumah malam itu juga. Kami dibawa ke kantor desa. Di sana sudah disiapkan truk. Lalu kami dibawa ke sini.”
“Emangnya dia tidak tahu tentang kedatangan para tentara itu?”
“Om saya lagi sakit. Ia kena struck setahun yang lalu. Sebagian tubuhnya tidak berfungsi. Waktu kami dipaksa keluar rumah, ia masih tertinggal di dalam kamar. Saya dan mama panik. Yang saya ingat, adik saya yang baru tujuh tahunan itu yang berteriak-teriak ingin memberitahu tentara-tentara itu bawha Om masih tertinggal di dalam kamar. Tapi mereka tidak menghiraukannya. Malah ketika kami sudah di atas truk, dari jauh terlihat mereka membakar rumah kami. Dugaan saya, Om ikut terbakar di dalam rumah itu.”
“Sadis juga ya.”
“Ah, kamu tidak tau Roy. Tentara itu sudah banyak membunuh orang-orang kami. Ayahnya Metty yang di bangsal sebelah itu saja sampai sekarang belum ditemukan. Kemungkinan ia dibunuh. Soalnya, waktu kami mau berangkat ke sini, ayahnya bilang ia akan menyusul besok karena barang-barang di rumah belum terangkut semuanya. Tapi toh sampai sekarang tidak ada kabar.”

          Begitulah Ditta. Ia banyak bercerita tentang kampung halamannya yang kini hangus terbakar dan luluh lantah. Kadang ia bercerita sambil tertawa, kadang juga menangis. Aku lebih banyak mendengar dari pada menanggapi. Saat ada waktu luang di sekolah pun kami memakainya untuk bercerita. Ia selalu bercerita tentang kejadian-kejadian baru.
          Karena keseringan berdua, orang menyangka kami berpacaran. Tapi sebanarnya antara saya dan Ditta hanga terhubung oleh rasa ingin berbagi dan kasihan. Ditta ingin membagikan apa yang menyesakkan dadanya saat menyaksikan perlakuan para tentanra terhadap orang-orangnya dan kampung halamnnya. Sementara saya hanya merasa kasihan mendengar cerita-cerita itu. Tak pernah terbesit dalam pikiran kami bahwa semua yang terjadi itu terbingkai dalam ironi politik. Kami hanya yakin bahwa semua telah rusak, hangus, dan berantakan.
          Suatu malam di awal pekan, kami bercerita hingga tengah malam. Orang-orang di rumah saya sudah pada lelap. Malam terasa sepi. Ditta masih komat-kamit tanpa henti. Di sela-sela ceritanya saya bertanya,
“Suatu saat jika semua kejadian menakutkan ini berakhir, apakah kamu akan kembali ke kampungmu?”
“Tergantung orangtua saya. Tapi saya masih takut pulang. Kan bisa saja kejadian sadis itu terulang lagi.”
“Saya pasti merindukan kamu dan cerita-ceritamu.”
“Yah, saya hanya menceritakan apa yang terjadi di kampung saya. Terima kasih kamu mau mendengarnya.”
“Oh, tentu saja ini cerita yang menarik. Saya senang mendengarnya.”
“Saya ingin punya waktu lebih banyak bersama dengan kamu.”
“Kecuali kamu tidak pulang ke Timor Timur,” jawabku disambut senyum Ditta.
Yah, senyuman Ditta selalu menggoda. Lesung pipinya selalu membuatnya dikagumi teman-teman di sekolah. Penampilannya yang selalu kalem dan tak banyak dandanan semakin mengundang tatapan lama. Tak heran banyak dari teman-teman yang ingin mendekati Ditta.
Malam itu, Ditta tidak ingin pulang ke rumahnya. Ia mau menginap di rumah saya. Meski saya meyakinkankanya bahwa semua kamar sudah terisi, ia tetap memintanya.
“Satu-satunya kamar yang masih kosong adalah kamar saya.”
“Saya tidak keberatan tidur dengan kamu.”
“Eh, bagaimana dengan orangtuamu nanti?”
“Tidak masalah. Di rumah tempat kami menginap pun sudah penuh. Tiap malam saya sama ibu tidurnya ganti-gantian antara kursi dan sebilah papan.”
“Oh, okey….. Tapi tempat tidur saya juga kecil, ukuran satu orang.”
“Atau kamu tidak suka tidur dengan saya?”
“Oh tidak Ditta. Jangan salah paham. Silakan!”

          Kami berbaring berdua. Ditta masih bercerita lagi. Posisi tidur kami sangat dekat. Tanganku menyentuh pipi Ditta. Ia berhenti dari ceritanya. Ia menatap saya lebih dalam. Jarinya menggenggam tanganku cukup erat. Sebuah kecupan saya daratkan di keningnya. Ia masih terdiam. Aku juga terdiam. Perlahan ia memeluk saya. “Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah saya punya. Kamu bersedia mendengarkan cerita dan keluhan saya,” bisik Ditta perlahan.
         Dari balik jendela kamar orang mulai lalu-lalang di jalan raya. Beberapa teman sudah mengenakan seragam lengkap melenggang ke sekolah. Saya segera melompat dari tempat tidur. Ditta tak kelihatan lagi. Setengah jam kemudian saya tiba di sekolah. Ditta belum tampak juga. Pelajaran matematika sudah dimulai. Saya masih gelisah karena Ditta masih tidak kelihatan. Apakah dia kesakitan? Ataukah ia dimarahi ibunya? Ataukah ia masih ngantuk karena semalam kurang tidur? Segudang pertanyaan dibumbui rasa gelisah dan takut menghatui pikiran saya.
          Hari itu Ditta tak kelihatan di sekolah. Beberapa temannya asal Timor Timur juga tak kelihatan. “Sepulang sekolah, saya akan bertanya kepadanya, mengapa ia tidak datang ke sekolah,” demikian saya meyakinkan diri agar mengurangi rasa takut dan kuatir.
Ketika lonceng berdentang panjang tanda waktu sekolah usai, saya cepat-cepat meninggalkan halaman sekolah. Di halaman Gereja yang letaknya tak jauh dari sekolah saya terlihat beberapa truk besar bertuliskan UNHCR. Orang beramai-ramai datang ke Gereja. Ada yang membawa tas, kasur, dan beberapa barang lain.
          Oh, rupanya hari ini para pengungsi Timor Timur akan kembali ke kampung halaman mereka. Apakah Ditta juga? Saya berlari sekencang-kencangnya ke rumah tempat Ditta dan keluarganya tinggal. Di sana tampak sepi. Dari tetangga kami itu saya mendapat informasi, Ditta bersama keluarganya sudah kembeli ke kampung halaman mereka. Mereka diangkut dengan truk pertama, sekitar pukul 11.00 tadi.
           Dengan langlah lunglai saya kembali ke rumah. Di kamar dan di tempat tidur saya yang kecil, saya membayangkan pengalaman semalam bersama Ditta. Rasanya begitu asik dan nikmat. Sebenarnya saya mengingininya lagi. Tetapi kenapa Ditta pergi begitu cepat? Apakah itu ungkapan perpisahan yang hendak ia berikan kepada saya? Mengapa ia tidak mengatakannya jauh-jauh hari? Mengapa ia diam-diam dan pergi tanpa memberitahu saya? Apakah ia tidak menyukai saya? Ataukah orangtuanya yang tidak suka agar Ditta berteman dengan saya?
           Saya hanya bisa mengira-ngira mengapa Ditta terlalu cepat pergi. Tapi tak satu pun terjawab. Saya masih berbaring lemas di kamar. Suara truk terus menderu dan akhirnya menghilang. Semua kembali sepi. 

(Steve Agusta)
Jakarta, 2012

Jumat, 15 Juni 2012

Nafas

Saat waktu berada di salib
Antara malam menjelang dan magrib beranjak
Kutemui bayangmu menyapu hari
Menggiring sepi masuk ke gubuk
Hentakkan nafas di akhir karya


Peluh turun mengairi bumi
Menyuburkan makanan yang masih belia
Menyegarkan teguk untuk tubuh
Anak satria dan anggun karyamu sendiri


Meski itu hanyalah titipan
Namun iba tak samapi ke hati
Cemooh mengintip dari cakrawala

Pahlawan setia tanpa senjata
Pinta tubuh rebah sejenak
Rayu hati rehat semenit
Buat merengkuh nafas yang hampir terurai pergi


Stefanus P Elu
Kebun Jeruk, 16 Juni 2012

Senin, 11 Juni 2012

Dua Hari


Harmoni hingga Chaos
Suara dalang mulai menderu
Desis gamelan memberi warna
Pekik syair menyelam ke ruang resonansi
Melodi-melodi harmoni tersatukan
Dalam ringkasan teori keindahan

Dan,,,
Apakah realitas dapat tersatukan dalam keindahan?
Rupanya rasa masih ragu
Pikiran masih terbengkalai
Hati masih risau

Harmoni memang indah
Tapi kadang tereduksi dalam subjektivitas
Subjektivitas yang mendera tubuh
Mengantarnya hingga subjektivisme
Hingga radikalisme,
Hingga anarkisme,
Akhirnya chaos,,,
Itulah fakta bolak-balik,,,

Stefanus P Elu
Kos Bambu, 9 Juni 2012

SOSOK
Sosok itu menggema
Semangatnya membahana
Nafasnya menderu
Visinya menggugah
Singgah pada hati-hati yang masih sadar moral
Pada persimpangan
Pada lekukan
Pada pembatas
Menerpa jiwa yang masih cinta pada kemanusiaan

Yah sosok, semangat, nafas, visi
Terlembagakan, tercatat, terdokumentasi
Dan tervisualisasikan
Mengundang kehadiran
Lintas zaman,
Lintas iman,
Lintas agama,
Lintas kultur,
Lintas generasi,
Lintas hati,
Melintas dan mengitari sanubari
Sosok yang dahaga rasa keadilan.

Stefanus P Elu
Kos Bambu, 9 Juni 2012

Malam Sunyi
Kubelai malam pekat, tanpa protes
Kujamah gelap gulita, tanpa penolakan
Kucium terangai sunyi, tanpa suara
Hening, senyap, tenang

Pikiran utak-atik
Tangan obrak-abrik
Nafas menderu desah
Dada naik turun
Kaki tendang menendang
Suara menjerit-jerit
Tubuh bolak-baik
Akhirnya,,, sepi,,,diam,,,
Tanpa langkah menuju keabadian

Stefanus P Elu
Kos Bambu, 10 Juni 2012

Hilang
Menjelang pagi aku bangkit
Dari tidur malam sebentar
Kudapati dia telah tiada
Dari bilah tubuh yang tergeletak

Meski telah kujaga penuh dekapan
Kucinta sepenuh hati
Kulindungi sepenuh waktu
Kuinginkan sepenuh masa

Hati tersentak kagum
Mata terbuka heran
Pikiran jernih bening

Meski harus marah
Kecewa
Takut
Kuatir
Bingung
Tinggalah dalam kecewa dan kagum

Ia telah pergi tak tahu kemana
Yang pasti dibawa langkah seribu
Yang kemarin masih sahabat

Stefanus P Elu
Kos Bambu, 10 Juni 2012

Belum Usai
Waktu itu telah pergi
Moment itu telah berlalu
Kesempatan itu telah usai
Kejadian itu telah menyelinap
Tinggalkan kecewa
Benci, marah, kesal, bingung

Apa yang salah?
Untuk apa?
Demi apa?
Mau kemana?

Semenit yang lalu masih iba
Sejam yang lalu masih bingung
Kini hanya tertegun
Antara terima dan maklum
Antara hasrat dan dendam

Terlintas di benak ingin menolak
Hati berkata tak ada guna
Alam mengisaratkan itu hukumnya

Dari kejadian ke kejadian
Menyiksa tubuh
Mendera pikiran
Melemahkan niat

Hingga ketika pikiran bangit, ide menjelma
Sedikit keinginan dan hasrat, Aku belum usai

Stefanus P Elu
Kos Bambu, 11 Juni 2012














Kamis, 07 Juni 2012

Catatan IBU


Sejak kerap berbicara lama di telepon, kutahu seorang gadis telah merebut hatimu. Kue kesukaanmu yang kubuatkan untukmu kini tak banyak kaumakan. Berat kini hatimu menemaniku pergi berbelanja, tak lagi seperti dulu saat kuajak pergi kau melompat kegirangan dan berceloteh sepanjang jalan. Ada saja alasanmu menolak ajakanku pergi. Mulai terasa sepi pula bepergian sendiri tanpamu, sayang.
Ketika kulewati toko-toko mainan itu, kuingat dulu kau selalu membuatku berhenti dan membelikanmu sebuah mainan; senapan, mobil-mobilan, kapal-kapalan. Tapi kini aku tak harus lagi berhenti di sana, karena kau bukan lagi seorang bocah yang mudah disenangkan hatinya dengan mainan-mainan itu.
Saat kecilmu, kau selalu menarik tanganku ke tempat tidurmu meminta aku membacakan buku-buku kesayanganmu; walau kuterkantuk, kubacakan untukmu.
Kini... bahkan saat kumelihatmu dari luar, kau segera
menutup kamarmu tak ingin bicara denganku. Telah ada hal-hal pribadimu yang
kini harus kuhormati.
Saat ingin kuajak kau bicara, tentang hal sekolahmu atau kegiatanmu sehari-hari, kau menjawabnya setengah hati. Namun jika teleponmu berbunyi? Wajahmu berubah riang. Dari seorang yang tampak tak punya kata-kata untuk berbicara denganku, tiba-tiba kau begitu fasihnya berbicara dengan gadis pujaanmu.
Aku tidak sedang cemburu, sayang. Aku pun pernah muda dan jatuh cinta. Aku hanya rindu masa-masa di mana kau begitu dekat denganku. Masa-masa itu, sering kau buat aku bingung dengan teriakan-teriakanmu, berlarian ke sana kemari. Masa itu aku pernah menginginkan kau segera saja jadi dewasa.

Saat ini... aku sungguh rindu bocah kecilku yang aktif  bermain, yang  setelah kelelahan dan masih berkeringat kau sandarkan kepalamu padaku dan tertidur.
Anakku sayang sudah beranjak dewasa kini. Ibu tak bisa terlalu mendekat lagi dan kau pun tak ingin terlalu mendekatku lagi. Tidak mengapa... Aku bersyukur pada TUHAN untuk hari-hari yang kulewati denganmu, kau adalah anugerah-NYA yang terindah. Ingatlah sayang, saat kesulitan, ibu ada di sini untukmu. Tak mungkin ibu kan selalu dapat mendampingimu dari dekat;  untuk itulah, setiap hari, tak putus kusebutkan namamu di dalam doaku.

Yacinta Senduk SE, SH.

Rabu, 06 Juni 2012

Pantai Parangtritis, Yogyakarta



Parangtritis adalah desa di kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
Di desa ini terdapat pantai Samudra Hindia yang terletak kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan kota Yogyakarta. Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinngi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis. Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. Air panas dari parang wedang dialirkan ke pantai parangtritis untuk bilas setelah bermain pasir dan juga mengairi kolam kecil bermain anak-anak

Frans Seda Award 2012


Untuk pertama kalinya sejak diluncurkan pada 1 Juni 2012, Frans Seda Award memberikan penghargaan kepada dua nominator. Frans Seda Award 2012 dengan konsentrasi di bidang kemanusiaan dan pendidikan ini jatuh ke tangan seorang bidan pejalan kaki dari kampung ke kampung terpencil Papua Octavina Reba Bonay (39) dan praktisi pendidikan murah berstandar internasional Christanti Gomulia (40).
Frans Seda Award ini diberikan kepada anak bangsa yang entah tahu atau tidak tahu mempunyai satu nafas dan semangat yang sejalan dengan semangat Frans Seda yakni perhatian kepada orang-orang kecil. “Frans Seda Award ini diberikan sebagai apresiasi kepada anak bangsa yang dengan setia memperhatikan dan membantu perkembangan masyarakat kecil dan miskin,” ungkap Prof Irwanto, Ph.D.
Atas dasar pertimbangan bahwa penghargaan ini bertujuan juga sebagai motivator agar penerimanya mau berbuat lebih, maka dipilih nominator dengan maksimal berumur 40 tahun. Dengan deminkian penerimnya masih punya waktu dan kemauan untuk melanjutkan lagi apa yang sudah ia kerjakan. (Stefanus P Elu)
Acara penutupan Doa Tiga Salam Maria oleh Karyawan-karyawati Katolik Wisma Indosement di Lantai Dasar Wisma Indosement, Thamrin, Jakarta Selata. Doa rosario dilakukan dengan cara mengarak Patung Bunda Maria mengelilingi ruangan. Setiap karyawan-karyawati membawa setangkai bunga mawar sebagai penggati lilin, yang dilambaikannya saat menyanyikan lagu Ave Maria di sela setiap permenungan Peristiwa. Doa rosario ini ditutup dengan Misa yang dipimpin oleh Romo Andang L Binawan SJ.

Kebiasaan berdoa bersama ini sudah dimulai sejaka 1987. Meski awalnya mereka hanya beberapa orang, sekarang malah sudah berkembang menjadi 50 sampai 100 orang. Selain doa rosario pada bulan Mei dan Oktober, mereka juga sering mengadakan Doa Taize, Natal Bersama, Tahun Baru Bersama, Paskah Bersama, Misa Rabu Abu, Penerimaan Sakramen Tobat, dan beberapa kegiatan rohani lainnya. Tujuannya ialah ingin memfasilitasi karyawan-karyawati yang sangat sibuk dan tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan rohani seperti ini di paroki atau lingkungannya.

Stefanus P Elu

Minggu, 03 Juni 2012

Kiat Memotret Wayang


Setidaknya sudah ada tiga kebudayaan asli Indonesia yang diakui sebagai warisan dunia, yaitu wayang, keris, dan batik. Klinik Fotografi Kompas akan mengulas teknik memotret ketiganya. KFK kali ini membahas mengenai pemotretan wayang ini karena saat berita ini diturunkan akan berlangsung lomba foto dengan tema wayang seperti bisa dilihat di laman http://bit.ly/qZLxzu,
Memotret wayang bisa dikategorikan dalam tiga hal, yaitu memotret pertunjukan wayang, memotret kegiatan yang melibatkan wayang, serta memotret barang yang disebut wayang tersebut untuk dokumentasi.
Di Indonesia, banyak terdapat jenis wayang, misalnya wayang kulit, wayang orang, wayang golek, wayang rumput, dan beberapa wayang, termasuk wayang sangat modern dengan komputer yang disebut wayang Tavip sesuai nama pembuatnya.
Akan halnya memotret wayang untuk sebuah lomba foto, satu yang harus dicamkan, foto Anda harus bertutur dengan kuat. Kalau foto itu melibatkan manusia di dalamnya, kegiatan manusia di dalam foto itu harus merupakan kegiatan hidup, bukan orang yang berpose.
Jika Anda akan memotret sekadar wayang saja sebagai sebuah benda mati, Anda harus bisa menghasilkan foto ”yang tidak biasa-biasa saja” dengan cara memainkan cropping, sudut pemotretan, dan permainan cahaya.
Kekuatan pencahayaan
Dalam memotret pertunjukan wayang orang, tipe pencahayaan yang ada sangat menentukan karakter foto Anda. Pertunjukan wayang orang modern umumnya sudah memikirkan soal pencahayaan ini dengan sangat baik. Bisa dikatakan, kalau Anda memotret pertunjukan wayang orang modern, kapan pun menjepretkan rana akan didapat foto yang menarik secara pencahayaan.
Namun, foto memang tidak cuma pencahayaan. Dalam memotret sebuah pertunjukan, Anda harus bisa menangkap ”adegan puncak” saat menekan rana kamera. Adegan puncak susah digambarkan dengan kata-kata, tetapi foto yang tidak merekam adegan puncak akan menampilkan adegan yang ”malas”, seakan tidak bergerak dan tentu saja tidak mencerminkan sebuah acara tari.
Beberapa contoh foto yang ada di halaman ini barangkali dapat membantu Anda dalam memotret wayang atau pertunjukan wayang.

Oleh: ARBAIN RAMBEY
Sumber: kompas.com

Kamis, 31 Mei 2012

Anak kampung Kluang, Lembata; Tim Perumus Buku ‘Tiga Tahun Pemerintahan SBY-JK’ tahun 2007


Politisi senior Lembata Hyasinthus Tibang Burin, membantah keretakan hubungan antara Bupati Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati Viktor Mado Watun. Dalam situs www.rallypelangi.com, 15 Mei  2012, Sinthus membantah isu keretakan yang selama ini berhembus kencang hingga ke masyarakat. Ia menduga, ada pihak-pihak tertentu yang berusaha membesar-besarkan hal-hal yang kecil.

Sinthus tentu punya kapasitas menepis isu keretakan “pengantin politik” yang belum genap setahun mengemban mandat rakyat Lembata sejak dilantik pada 25 Agustus 2011. Keduanya dituntut melaksanakan mandat rakyat hingga 2016. Di lain pihak, sangat rasional ia tampil di garda depan mengklarifikasi pertanyaan jurnalis media on-line itu terkait isu keretakan keduanya yang telanjur masuk gendang telinga masyarakat Lembata. Mengapa? Jawabanya, ia adalah pucuk pimpinan partai pengusung.

Fenonema pecah kongsi politik dalam duet kepemimpinan Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati maupun Walikota/Wakil Walikota, bukan hal baru. Misalnya, keretakan hubungan Gubernur DKI Fauzi Bowo dan Wakil Gubernur Prijanto yang terjadi beberapa waktu lalu. Prijanto mengungkapkan isi hatinya dalam buku Kenapa Saya Mundur yang ia tulis sendiri. ”Orang yang saya bantu tidak pernah ngajak ngomong.” Padahal, sejak menjadi Wakil Gubernur, ia berkeinginan membangun Jakarta bersama Fauzi Bowo hingga dua periode masa jabatan. Namun, hingga empat tahun berselang, ia mengaku tidak pernah diikutsertakan dalam memimpin Ibu Kota. “Saya telepon, (Fauzi) tidak pernah membalas. Saya sms tidak pernah direspon, pengaturan tugas tidak jelas. Semua itu saya rasakan.” Kesimpulan Prijanto, Fauzi Bowo sudah tidak memerlukan tenaganya.

Kasus yang pernah mencuat adalah kongsi politik Bupati Kabupaten Garut, Jawa Barat, Aceng HM Fikri dan Wakil Bupati Raden Dicky Chandranegara alias Dicky Chandra. Pasangan yang memenangkan pilkada jalur independen ini, pecah kongsi di tengah jalan. Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi akhirnya merestui pengunduran diri Dicky Chandra. Keduanya tak sepaham dan sejalan dalam pengambilan sejumlah kebijakan strategis dan politis bagi akselerasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Pembagian Tugas
Pecah kongsi Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati maupun Walikota/Wakil Walikota kerap lahir akibat distribusi tugas pokok dan fungsi sebagaimana diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Bukan tidak mungkin, dalam prakteknya kerapkali ada Wakil Gubernur, Wakil Bupati maupun Wakil Walikota “mengeluh” karena hanya dijadikan “ban serep”. Padahal, jika merujuk UU tersebut diuraikan secara jelas tugas tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing.

Pasal 26 Ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004 menyebutkan, wakil kepala daerah mempunyai tugas (a) membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah; (b) membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah, menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup; (c) memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten/kota bagi wakil kepala daerah provinsi; (d), memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan, kelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota; (e) memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintah daerah; (f) melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintah lainnya yang diberikan oleh kepala daerah; dan (g) melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan. Sedangkan dalam Ayat 2 disebutkan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah.

Seolah-olah jabatan Wakil Gubernur, Wakil Bupati maupun Wakil Walikota tidak difungsikan dan kurang bermanfaat, tidak efektif dan efisien. Ini terutama nampak dalam pengambilan-pengambilan kebijakan strategis yang banyak diambil porsinya, Wakil Gubernur, Wakil Bupati maupun Wakil Walikota hanya bisa memberi saran dan membantu melaksanakan tugas-tugas atau mewakili Gubernur, Bupati maupun Walikota bila berhalangan. Kadang juga porsinya “diserobot” sehingga membuat mereka lebih banyak “mengganggur” menunggu perintah. Padahal, harus diakui ia tentu memiliki kemampuan atau kapabilitas, namun perannya tergantung good will Gubernur, Bupati maupun Walikota.

Fenomena ini pernah menerpa Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Bupati Agus Facthur Rahman dan Wakil Bupati Daryanto pecah kongsi gara-gara masalah pembagian atau pendelegasian tugas dan wewenang. Buntutnya, Daryatmo tidak hadir dalam pelantikan 400 pejabat teras di lingkup Pemerintah Kabupaten Sragen. Wakil Sekretaris Partai Golkar Sragen, Bambang Widjo Purwanto pun mengundang dua pimpinan partai pengusung: Partai Amanat Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan guna “mendamaikan” keduanya meski pertemuan itu ditepis bukan ajang rekonsiliasi. Pertemuan bermaksud mengevaluasi program-program yang belum terealisasi sebagaimana disampaikan dalam visi misi saat kampanye.

Dalam banyak kasus, pecah kongsi itu juga bersumber dari sikap berlebihan bupati memahami tugas pokoknya sebagai pemimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah, pembuat kebijakan, pembina kepegawaian serta penanggung jawab pengelolaan keuangan daerah tanpa melihat posisi wakil. Dalam soal terakhir ini, kerap menimbulkan kecemburuan tak hanya wakil bupati tetapi juga pejabat teknis bahkan hingga meresahkan masyarakat karena nilainya puluhan bahkan ratusan juta per tahun tanpa diimbangi dengan capaian kinerja pejabat bersangkutan.

Selain itu, dalam kasus pergantian Sekretaris Daerah (Sekda), misalnya, konflik Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati maupun Walikota/Wakil Walikota kerap muncul. Begitu pula proses mutasi di lingkup dinas dan instansi mengabaikan kapasitas serta kepangkatan dan cenderung mempertimbangkan aspek di luar regulasi seperti kedekatan maupun jasa politik. Kondisi ini kerap membuat Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati maupun Walikota/Wakil Walikota berada di simpang jalan dan terpenjara dalam pilihan sulit. Karena itu dalam pelaksanaan dipastikan berpotensi melemahkan semangat kerja para pejabat/pegawai di lingkungan dinas tempat tugasnya.
Pemimpin Rakyat
Lembata adalah kabupaten yang terbentuk berdasarkan UU Nomor 52 Tahun 1999 dan disahkan Presiden BJ Habibie di Jakarta pada 4 Oktober 1999. Kemudian tercatat dalam Lembaran Negara RI Nomor 180 Tahun 1999. Pembentukan Lembata sebagai sebuah daerah otonom menjadi kerinduan puluhan tahun para tokoh dan masyarakat atas beberapa pertimbangan. Pertama, adanya aspirasi yang berkembang dalam masyarakat dipandang perlu untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pembinaan kemasyarakatan guna menjamin perkembangan dan kemajuan dimaksud pada masa mendatang.

Kedua, sehubungan dengan hal tersebut di atas dan memperhatikan perkembangan jumlah penduduk, luas wilayah, potensi ekonomi, sosial budaya, sosial politik, dan meningkatnya beban tugas serta volume kerja di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan di Kabupaten Flores Timur, dipandang perlu membentuk Kabupaten Lembata sebagai pemekaran Kabupaten Flores Timur. Ketiga, pembentukan Kabupaten Lembata akan dapat mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah.

Masyarakat Lembata tentu berharap pecah kongsi politik tak boleh terjadi dan sejauh mungkin dihindari Bupati dan Wakil Bupati. Keduanya diharapkan memahami diri sebagai pemimpin rakyat yang mesti berjuang keras bersama rakyat mengejar berbagai ketertinggalan yang masih melilit daerah itu. Satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam politik adalah konsistensi.

Dalam bahasa Direktur Social Development Center, Thomas Koten, konsistensi politik merupakan perekat tetap terbangunnya kepercayaan rakyat terhadap para politisi. Sebab, di situ pula letak kematangan dan kedewasaan. Rakyat tidak suka dengan sikap kekanak-kanakan dalam politik alias infantilisme politik. Bagaimana mungkin rakyat mempertaruhkan kepercayaan politiknya kepada politisi-politisi yang dilekati perilaku kekanak-kanakan alias infantil? Inilah persoalan penting yang mesti direfleksikan secara terus-menerus dalam berpolitik.
Oleh Ansel Deri
Sumber: Pos Kupang, 30 Mei 212