Kamis, 31 Mei 2012

Anak kampung Kluang, Lembata; Tim Perumus Buku ‘Tiga Tahun Pemerintahan SBY-JK’ tahun 2007


Politisi senior Lembata Hyasinthus Tibang Burin, membantah keretakan hubungan antara Bupati Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati Viktor Mado Watun. Dalam situs www.rallypelangi.com, 15 Mei  2012, Sinthus membantah isu keretakan yang selama ini berhembus kencang hingga ke masyarakat. Ia menduga, ada pihak-pihak tertentu yang berusaha membesar-besarkan hal-hal yang kecil.

Sinthus tentu punya kapasitas menepis isu keretakan “pengantin politik” yang belum genap setahun mengemban mandat rakyat Lembata sejak dilantik pada 25 Agustus 2011. Keduanya dituntut melaksanakan mandat rakyat hingga 2016. Di lain pihak, sangat rasional ia tampil di garda depan mengklarifikasi pertanyaan jurnalis media on-line itu terkait isu keretakan keduanya yang telanjur masuk gendang telinga masyarakat Lembata. Mengapa? Jawabanya, ia adalah pucuk pimpinan partai pengusung.

Fenonema pecah kongsi politik dalam duet kepemimpinan Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati maupun Walikota/Wakil Walikota, bukan hal baru. Misalnya, keretakan hubungan Gubernur DKI Fauzi Bowo dan Wakil Gubernur Prijanto yang terjadi beberapa waktu lalu. Prijanto mengungkapkan isi hatinya dalam buku Kenapa Saya Mundur yang ia tulis sendiri. ”Orang yang saya bantu tidak pernah ngajak ngomong.” Padahal, sejak menjadi Wakil Gubernur, ia berkeinginan membangun Jakarta bersama Fauzi Bowo hingga dua periode masa jabatan. Namun, hingga empat tahun berselang, ia mengaku tidak pernah diikutsertakan dalam memimpin Ibu Kota. “Saya telepon, (Fauzi) tidak pernah membalas. Saya sms tidak pernah direspon, pengaturan tugas tidak jelas. Semua itu saya rasakan.” Kesimpulan Prijanto, Fauzi Bowo sudah tidak memerlukan tenaganya.

Kasus yang pernah mencuat adalah kongsi politik Bupati Kabupaten Garut, Jawa Barat, Aceng HM Fikri dan Wakil Bupati Raden Dicky Chandranegara alias Dicky Chandra. Pasangan yang memenangkan pilkada jalur independen ini, pecah kongsi di tengah jalan. Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi akhirnya merestui pengunduran diri Dicky Chandra. Keduanya tak sepaham dan sejalan dalam pengambilan sejumlah kebijakan strategis dan politis bagi akselerasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Pembagian Tugas
Pecah kongsi Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati maupun Walikota/Wakil Walikota kerap lahir akibat distribusi tugas pokok dan fungsi sebagaimana diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Bukan tidak mungkin, dalam prakteknya kerapkali ada Wakil Gubernur, Wakil Bupati maupun Wakil Walikota “mengeluh” karena hanya dijadikan “ban serep”. Padahal, jika merujuk UU tersebut diuraikan secara jelas tugas tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing.

Pasal 26 Ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004 menyebutkan, wakil kepala daerah mempunyai tugas (a) membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah; (b) membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah, menindaklanjuti laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup; (c) memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten/kota bagi wakil kepala daerah provinsi; (d), memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan, kelurahan dan/atau desa bagi wakil kepala daerah kabupaten/kota; (e) memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintah daerah; (f) melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintah lainnya yang diberikan oleh kepala daerah; dan (g) melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan. Sedangkan dalam Ayat 2 disebutkan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wakil kepala daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah.

Seolah-olah jabatan Wakil Gubernur, Wakil Bupati maupun Wakil Walikota tidak difungsikan dan kurang bermanfaat, tidak efektif dan efisien. Ini terutama nampak dalam pengambilan-pengambilan kebijakan strategis yang banyak diambil porsinya, Wakil Gubernur, Wakil Bupati maupun Wakil Walikota hanya bisa memberi saran dan membantu melaksanakan tugas-tugas atau mewakili Gubernur, Bupati maupun Walikota bila berhalangan. Kadang juga porsinya “diserobot” sehingga membuat mereka lebih banyak “mengganggur” menunggu perintah. Padahal, harus diakui ia tentu memiliki kemampuan atau kapabilitas, namun perannya tergantung good will Gubernur, Bupati maupun Walikota.

Fenomena ini pernah menerpa Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Bupati Agus Facthur Rahman dan Wakil Bupati Daryanto pecah kongsi gara-gara masalah pembagian atau pendelegasian tugas dan wewenang. Buntutnya, Daryatmo tidak hadir dalam pelantikan 400 pejabat teras di lingkup Pemerintah Kabupaten Sragen. Wakil Sekretaris Partai Golkar Sragen, Bambang Widjo Purwanto pun mengundang dua pimpinan partai pengusung: Partai Amanat Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan guna “mendamaikan” keduanya meski pertemuan itu ditepis bukan ajang rekonsiliasi. Pertemuan bermaksud mengevaluasi program-program yang belum terealisasi sebagaimana disampaikan dalam visi misi saat kampanye.

Dalam banyak kasus, pecah kongsi itu juga bersumber dari sikap berlebihan bupati memahami tugas pokoknya sebagai pemimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah, pembuat kebijakan, pembina kepegawaian serta penanggung jawab pengelolaan keuangan daerah tanpa melihat posisi wakil. Dalam soal terakhir ini, kerap menimbulkan kecemburuan tak hanya wakil bupati tetapi juga pejabat teknis bahkan hingga meresahkan masyarakat karena nilainya puluhan bahkan ratusan juta per tahun tanpa diimbangi dengan capaian kinerja pejabat bersangkutan.

Selain itu, dalam kasus pergantian Sekretaris Daerah (Sekda), misalnya, konflik Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati maupun Walikota/Wakil Walikota kerap muncul. Begitu pula proses mutasi di lingkup dinas dan instansi mengabaikan kapasitas serta kepangkatan dan cenderung mempertimbangkan aspek di luar regulasi seperti kedekatan maupun jasa politik. Kondisi ini kerap membuat Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati maupun Walikota/Wakil Walikota berada di simpang jalan dan terpenjara dalam pilihan sulit. Karena itu dalam pelaksanaan dipastikan berpotensi melemahkan semangat kerja para pejabat/pegawai di lingkungan dinas tempat tugasnya.
Pemimpin Rakyat
Lembata adalah kabupaten yang terbentuk berdasarkan UU Nomor 52 Tahun 1999 dan disahkan Presiden BJ Habibie di Jakarta pada 4 Oktober 1999. Kemudian tercatat dalam Lembaran Negara RI Nomor 180 Tahun 1999. Pembentukan Lembata sebagai sebuah daerah otonom menjadi kerinduan puluhan tahun para tokoh dan masyarakat atas beberapa pertimbangan. Pertama, adanya aspirasi yang berkembang dalam masyarakat dipandang perlu untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pembinaan kemasyarakatan guna menjamin perkembangan dan kemajuan dimaksud pada masa mendatang.

Kedua, sehubungan dengan hal tersebut di atas dan memperhatikan perkembangan jumlah penduduk, luas wilayah, potensi ekonomi, sosial budaya, sosial politik, dan meningkatnya beban tugas serta volume kerja di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan di Kabupaten Flores Timur, dipandang perlu membentuk Kabupaten Lembata sebagai pemekaran Kabupaten Flores Timur. Ketiga, pembentukan Kabupaten Lembata akan dapat mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah.

Masyarakat Lembata tentu berharap pecah kongsi politik tak boleh terjadi dan sejauh mungkin dihindari Bupati dan Wakil Bupati. Keduanya diharapkan memahami diri sebagai pemimpin rakyat yang mesti berjuang keras bersama rakyat mengejar berbagai ketertinggalan yang masih melilit daerah itu. Satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam politik adalah konsistensi.

Dalam bahasa Direktur Social Development Center, Thomas Koten, konsistensi politik merupakan perekat tetap terbangunnya kepercayaan rakyat terhadap para politisi. Sebab, di situ pula letak kematangan dan kedewasaan. Rakyat tidak suka dengan sikap kekanak-kanakan dalam politik alias infantilisme politik. Bagaimana mungkin rakyat mempertaruhkan kepercayaan politiknya kepada politisi-politisi yang dilekati perilaku kekanak-kanakan alias infantil? Inilah persoalan penting yang mesti direfleksikan secara terus-menerus dalam berpolitik.
Oleh Ansel Deri
Sumber: Pos Kupang, 30 Mei 212

Selasa, 20 Maret 2012


Di tepi laut tastasi aku duduk termenung
Menatap hamparan laut yang terbentang biru
Menyiratkan perjuangan di punggung-punggung karang
Pertanda lautku segera melangkah mundur
Kugantungkan cita-cita pada hamparan langit kemerahan
Pertanda sunset segera menghampiri.....
Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu......
Lautku yang telah menyusui nenek moyang dan segala keturunannya......
Hingga aku.....
Layaklah kami dan engkau disebut yang berbahagia!!!

(Kebun Jeruk, 20 Maret 2012)

Butir-butir embun berbaris di ujung dedaunan
Butir-butir bening tergenang di sudut mata
Butir-butir cerita terurai dari bibir sepi
Butir-butir kegetiran mengitari hati
Butir-butir pemberontakan menusuk-nusuk
Butir-butir itu melahirkan fatamorgana
Butir-butir itu menyibak masa depan
(Kos Bambu, 20 Maret 2012)

Minggu, 18 Maret 2012


Menakar hari
Menghitung detik
Berharap waktu berlangkah seribu
Ingin mimpi terejawantah dalam waktu
Enigma hadir menjawab penantian
Aku rasa inilah saatnya
Meniti jalan sambil berjuang
Mendaraskan mimpi menuju bahagia
(Kos Bambu, 19 Maret 2012)



Setiap peristiwa selalu meninggalkan lubang untuk diisi
Peritiwa sakit meninggalkan kesan negatif
Depresi, trauma, balas dendam atau juga bunuh diri
Manakala semua tak dapat terolah
Peristiwa pun makin panjang, lunbang makin banyak
Kehendak untuk mengisinya pun makin berfariatif
Peristiwa selalu menuntut tanggapan
(Kos Bambu, 19 Maret 2012)


Kala hati menjenguk cinta
Perasaan bahagia karib setia
Semb ari belajar terima sakit
Apakah cinta itu menyakitkan?
Ataukah sakit adalah konsekuensi logis tindakan mencintai?
(Kos Bambu, 18 Maret 2012)

Jumat, 24 Februari 2012

Si Pencari Makna Mencari Makna

Pagi yang malang, manakala hujan masih menimpa bumi. Jalanan masih tak lekang dari titik-titik hujan yang terus menjejal. Si pencari makna mengenderai motor beranjak. Ia menembus tirai-tirai hujan dengan yakin. Terus memacu semangat ingin mencari sesuatu. Ia sendang belajar. Ia belajar berjalan. Ia belajar mencari. Ia belajar menemukan yang terbaik bagi masa depannya.
    Bahkan ia belum tahu akan jadi seperti apa. Yang terpenting baginya saat ini adalah ia pergi. Ia pergi bertemu dengan seseorang. Seseorang yang lebih dulu berpikir matang. Ia lebih dulu berpikir kritis.
Apakah si pencari makna yang telat menangkap? Atau telat berpikir? Ataukah sedikit malas?
    Tidak! Bantah si pencari makna penuh yakin. Kami hanya hidup di generasi yang berbeda. Kami hanya mengambil kesempatan di waktu yang berbeda. Maka tidak salah bila si pencari makna datang menjemput. Si pencari makna merasa wajib untuk mencuri. Mencuri pada generasi yang telah mendahuluinya. Mencuri ilmu dalam khasanah berbagi.
    Dunia itu memang sedikit terkesan baru. Terkesan asing di telinga sang pencari makna. Tapi itulah kenyataanya. Mencari bukan berarti harus mengetahui sebelumnya. Bisa berangkat dari ketiadaan untuk menemukan sesuatu. Tetapi bisa kedua-duanya. Mencari karena belum mengatahui dan mencari karena telah sedikit mencicipi dan itu ternyata terasa enak. Tentu juga berkhasiat untuk kesehatan raga dan pikiran. Itulah dua kenyataannya.
    Pikiran yang dewasa untuk memenangkan makna yang lebih dalam. Yang lebih tajam dari sekedar bisa memotong. Melampaui hal-hal yang tampak pada panca indra. Dan itulah yang terkadang terlupakan. Orang terlalu asyik pada yang tampak sampai lupa untuk mencari apa yang berada di baliknya.
    Sesuatu itu bahkan telah terbingkai sejaka lama. Berada dalam kemasan pemikiran para generasi pendahulu. Mereka telah memberinya label “tabu” untuk dibicarakan. Tapi kenyataan bahwa ketika itu diklaim dalam tataran itu, banyak gerenasi yang berusaha menyibaknya tanpa sepengetahuan para genersi pendahulu. Mereka hanya bisa menyaksikan bahwa itulah hasilnya. Menurut hukum adat, hukum Tuhan, dan hukum itu hal terlarang. Tapi tak tahu alasan mengapa itu dilarang. Penelurusan untuk sampai alansan mengapa ada hasil terasa tabu untuk dibicarakan. Itulah yang ingin dicari sang pencari makna.
    Ya, seperti itulah bila hendak dikatakan terus terang. Seks memang masih diklaim sebagai urusan tabu untuk dibicarakan di depan umum. Tetapi hal ini telah meraja di hati dan pikiran khalayak. Sitiap orang ingin mencari dan menemukan apa yang akan terjadi bila mengetahuinya atau bahkan mencicipinya.
    Cicipan itu mendatangkan rasa. Rasa menuntut pemenuhan. Pemenuhan sekali menuntut pemenuhan berikut. Dan begitulah runutannya. Sampai-sampai ada yang meningininya terus menerus. Maka hasil ataupun usaha meniadakan hasil pun akhirnya menjadi teman akrabnya. Teman yang sering berjalan bersama. Tinggal menjatuhkan pilihan. Sekali lagi rasa suka-suka bergulir. Pelanggaran dan keindahan pun menjadi efek kontinyu yang harus ditanggung.
    Pencarian ini tentu bukanlah yang terkahir. Berjalan terus sampai titik yang tidak menentu harus terus dipacu. Di manakah harus diletakkan titik itu? Tidak tahu! Yang paling terpenting adalah si pencari makna tidak merasa lelah. Si pencari makna tidak cepat berpuas diri dengan apa yang telah diperoleh hari ini. Ia harus berlangkah terus. Menelusuri lorong-lorong makna yang lebih jauh meski tampak terjal. Atau tidak menjanjikan. Tetapi itulah adanya. Harus terus melangkah.
Kebun Jeruk, 26 Februari 2012


Melawan untuk Bahagia

Kisah itu telah beralalu
Manakala terasa tinggal sendiri
Tanpa sebab
Tanpa kawan
Tanpa lawan
Meski harus melawan
Diri sendiri, teman, kenalan, sosialitas
Dan lingkungan

Tatapi perlawan itu telah pergi
Kini tinggal kenangan
Dan aku merasa lebih ada
Lebih berwaibawa sebagai manusia
Sebagai ibu

Ibu tanpa suami
Ibu yang melangkah dengan bangga
Karena telah berhasil melawan diri sendiri
Teman, lingkungan dan waktu
Aku bahagia untuk itu

Kebun Jeruk, 26 Februari 2012

Jumat, 10 Februari 2012

Syukuri Pesona yang Kian Terancam




Kuterawangi waktu yang terbeber di hadapanku. Kurenungi kisah di jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun yang beranjak pergi. Kudapati diriku masih berlangkah hingga detik ini. Ironi memang. Aku terangkai dalam waktu dan ruang. Aku berlangkah maju, terkadang sedikit mundur, dan akhirnya maju lagi hingga merengkuh ditik ini. Semua itu kujalani terkadang dengan sadar dan atau tanpa sadar.
        Terkadang aku terkesima ketika membayangkan bahwa kemarin aku makan dan hari ini aku kembali makan dalam derap yang telah berbeda. Aku melewati sehari. Artinya masa laluku bertambah sehari, masa depanku berkuarang sehari, dan usiaku bertambah sehari.
        Kupandangi sekucur tubuhku yang telah lekang dimakan waktu. Urat-urat rambutku tampak berubah warna. Lipatan-lipatan ‘tanah’ pada wajah kian bergelombang. Barisan penghacur makanan tampak miring ke kiri dan ke kanan. Ah, bahkan ada yang memilih gugur meninggalkan tempatnya. Penopang tubuh rentan pada persendiannya. Rasanya tak sanggup tegap, rupanya sulit ditekuk. Aku benar-benar bingung merenungi diriku.
        Kupertanyakan apa maskud semua ini? Apakah aku salah sarapan pagi tadi? Atau aku terlalu bernafasu ketika melahap isi daging B2 di lapak kemarin siang? Seingatku.....tidak separah itu. Kemarin aku cuman mampir sebentar, menikmati makanan ala kadarnya lalu aku pulang ke rumah. Persinggahan itu pun sebenarnya di luar dugaanku. Hanya anakku yang kucintai itu yang mengajakku ke sana. Katanya ya....mumpung ada waktu makan bersama.
        Mengapa tidak? Semenjak dulu telah kuperah tenagaku buat mencari penjamin masa depannya. Masih terngiang benakku, aku rela bersilang lidah bersama istriku tercinta, yang kupacari dulu ketika aku masih di Seminari karena kami kekurangan dana buat uang kuliah Desy. Ya, itu memang terjadi. Tetapi aku tak mau memperpanjang persilangan itu lagi, bahkan tak pernah mau mengingat-ingat itu lagi. Yang terpenting adalah bagaimana aku hari ini?
        Kutemukan diriku berdiri di sini, Sabtu, 2 Februari 2012, menghadiri sebuah upacara yang kulakoni hampir setip pagi di masa mudaku. Sebanarnya kumerasa cukup dengan itu semua. Tapi semenjak bangun pagi tadi, bahkan semenjak minggu yang lalu, Merry merajut-rajut agar aku bisa hadir di tempat ini. Memang aku kebingungan melihat tingah Merry waktu itu.
        Kupandangi dia dengan tatapan menyelidik. Berkata dalam hati mungkin lebih baik agar Merry tak menyayangkan pikiran yang sedikit kotor ini. Merry, tak usahlah merajut seperti dulu lagi. Tidak sadarkah kamu di depan cermin sehabis mandi? Rambutmu itu telah berubah warna. Bahkan telah berkurang kesuburannya. Tidak seperti dulu lagi, ketika aku bisa membelai-bealinya penuh bangga, bagai pabrikan team kreatif iklan Sunslik tanyangan RCTI itu. Tubuhmu pun kian kurus. Lekukaknnya tak tampak lagi.
Meery, kamu tampak biasa saja di hadapanku. Tidak menggetarkan seperti perjumpaan tatapan pertama kita di ruang Bina Iman Anak waktu itu. Lekukanmu telah habis. Jika hendak jujur, tak ada lagi yang menarik darimu. Tapi biarlah. Kurasa bahwa bukan itu yang menuntun kita untuk sampai ke detik ini. Tapi kisah hati yang saling menyapa ketika awal perjumpaan kita itu yang menuntun kita sampai ke sini.
Sekarang aku masih bisa merasakan, bersanding bersamamu di gedung ini, Gereja St Matias Cinere. Katamu letaknya tak begitu jauh ketika kita hendak berangkat pagi tadi. Meski dalam perjalanan aku harus menahan amarah karena satu setengah jam berlalu di jalanan.
         Saat ini kita duduk sambil berpangku tangan, menyaksikan orang tua itu yang sedang komat-kamit di mimbar. Tampangnya memang sudah lanjut juga. Tidak menarik lagi adalah sebuah kepastian tak terbantah. Ya, si Mgr Consmas Michael Angkur itu memang tidak tampan lagi.
        Tapi sejauh pendengaranku, ia mengatakan sesuatu yang penting. Katanya, “Para lansia ini bukanlah besi tua yang harus dilupakan, tetapi mereka masih berguna bagi Gereja. Mereka patut menghaturkan syukur karena bisa mencapai perjalanan sejauh ini.”
        Yah, itu pasti. Jalan yang aku retas bersama Merry sangat panjang. Semenjak sandingan kami diresmikan 35 tahun silam itu, kami terus berlangkah walau kadang aku lupa menengok bayangan. Atau, bahkan aku lupa menyaksikan Merry sementara melankah di sampingku.
        Sauaranya menukit masuk telingaku lagi, “Seperti Simeon dan Hanna yang berseru, Ya Tuhan, biarlah hamba-Mu ini berpulang karena telah menyaksikan keselatang yang datang dari-Mu, para lansia pun harus bisa berseru, Ya Tuhan, biarlah aku berpulang ke hadapan-Mu karena aku telah beriman kepada Yesus Puteramu.”
        Wah, ini gawat. Imanku kepada Yesus sementara dipertanyakan. Apakah yang aku miliki masih kurang? Apakah aku cukup ‘bekal’ untuk berpulang ke hadapan Bapa?
        Ekor mataku melirik ke samping. Merry masih tertegun mendengar ocehan Uskup Angkur. Yah, rupanya ia menangkap sesuatu, sehingga kadang tersenyum, kadang serius, dan kadang terpaku pada tatapan kosong. Ya, apapun yang kamu peroleh, akan kita diskusikan di rumah nantinya.
        Semua ritual ini hendak berakhir. Aku berlangkah melesuri lorong bangku yang berbaris rapi dengan langkah tak setangkas dulu lagi. Merry mengikuti dari belakang. Mmmmm, aku harus rela melepas kebiasaan bergandeng mesra bersama Merry karena lorong ini hanya untuk langkah seorang.
        Oh ya....hampir lupa. Acara ini adalah HUT ke-2 Paguyuban Lansia Dekenat Utara Keuskupan Bogor. Mari kita berpulang dalam damai, sampai perjumpaan kita di tahun depan, atau di rumah Bapa, jika ada yang akan menempuh langkah seribu guna mendahului.


Kos Bambu, 08 Februari 2012
stefanus p. elu

Jumat, 03 Februari 2012

Membaca: Kegiatan Urgen dan Utama

Katanya, “Seorang wartawan adalah mediator antara berita dan para pendengar dan pembacanya. Baik-tidak dan benar-salahnya para pendengar dan pembaca terhadap sebuah berita, bergantung pada bagaiamana seorang wartawan membahasakannya”.
    Aku terhentak dari pikiran praktis atas ungkapan ini. Terkadang aku menjalani keseharianku dengan begitu saja, tanpa memikirkan kebenaran ungkapan ini. Ungkapan ini mengisyaratkan kepadaku bahwa aku sedang menempati sebuah jalur komunikasi yang sangat strategis. Para pembaca dan pendengar dapat benar-benar menangkap isi berita bila aku dapat menyampaikannya secara baik.
    Selama ini, hal seperti ini rasanya tidak disadari sama sekali oleh mereka yang mengambil profesi wartawan. Mereka hanya menjalankan tugas liputan begitu saja tanpa menentukan angel mana yang benar-banar dituju. Semua berlalu begitu saja. “Toh ada editor, biarlah ia yang akan mengurusi bahasanya. Yang penting liputan, menulis sesuatu layaknya laporan lalu diserahkan kepada editor.”
    Amat disayangkan memang. Seorang wartawan tidak benar-benar mempertimbangkan apa yang hendak ia lakukan di depan sebuah peristiwa. Seolah ia hanya berfungisi sebatas transkriptor.
    Hal inilah yang hendak diubah. Untuk mencapai kematangan menyajikan sebuah berita dengan baik, “Sebaiknya seorang wartawan tidak pernah berhenti membaca.” Kegiatan membaca sendiri sangat membantu orang untuk benar-benar kritis ketika berhadapan sebuah peristiwa.
    “Membaca dapat membantu orang untuk meningkatkan pengetahuannya. Dunia membaca memang menjadi ladang ilmu yang tak bisa tergantikan. Dan itulah yang hendak saya wariskan,” ujar Amanda Putri Witdarmono dengan wajah berseri-seri.
    Tradisi membaca perlu ditanamkan kepada diri anak-anak semenjak ia masih kecil. Dengan itu mereka akan tahu dan semakin paham apa yang hendak mereka lakukan setiap harinya. Amanda memberi contoh, seorang anak kecil umur satu tahunan, bila ia dibiasakan dengan buku, ia akan paham bagaimana ia akan membuka buku itu. Perlahan-lahan ia akan mengikuti, membuka halaman buku dari kanan ke kiri.
    Tampak memang hal yang sangat sederhana. Tetapi bila disadari dengan baik maka hal sederhana itu memang memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi.
    Selain itu, soal tulis menulis ini adalah sebuah tradisi. Maka tradisi ini perlu diketahui dan dijaga oleh orang-orang yang mengerti benar tentang tradisi. Hanya orang-orang di sekitar perintislah yang akan tahu bagaimana hal ini akan dilajutkan. Banyak tokoh nasional maupun internasional membuktikan hal ini.
Inilah secuil cerita ketika bertemu dengan P. Witdarmono di ruang kerjanya BERANI Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
***

     Budaya membaca untuk mengolah pikiran agar kritis terhadap sesuatu tampak dalam sebuah diskusi terbuka di aula belkakang Gereja Katedral Jakarta sore harinya. Dengan bertemakan politik, setiap anggota yang hadir berusaha mengemukakan pendapat dan argumentasinya seputar persiapan dan langkah-langkah praktis bagi pemilu 2014 nanti.
    Hampir sebagian besar orang Katolik Jakarta yang tergabung dengan berbagai partai politik yang ada di Indonesia saat ini berkumpul jadi satu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan apa saja yang akan dilakukan. Banyak hal disoroti, mulai dari kinerja pemerintah saat ini hingga apa bekal bagi mereka yang berencana untuk maju dalam pemilu yang akan datang nanti.
    Kegiantan yang digalang oleh Kerawam Keuskupan Agung Jakarta ini bertujuan mempersiapkan kader-kader politikus Katolik yang mampu berdaya saing dalam pemilu nanti. Memang bukan soal kita merebut kekuasaan tetapi di sana kita dapat menjadi terang dan garam bagi orang-orang di sekitar kita. Itulah niat dan bekal yang pertama-tama harus dimiliki oleh seorang calon politikus Katolik.

Kos Bambu, 02 Februari 2012
stefanus p. elu

Mimpi Nyata Di Ruang Berbeda


Untuk negeriku aku bangkit. Untuk bangsaku aku tersadar. Untuk masa depan masyarakatku aku terusik dari mimpi-mimpi panjang. Aku berbuka mata, pikiran, dan hati untuk berjuang menelusuri lorong-lorong pengetahuan. Meraih ide-ide kreatif dan pikiran-pikiran kritis dalam ruang ilmu.
    Demi ide dan pikiran kreatif  itu, aku duduk saban hari mendengarkan ceramah dosen-dosen yang kadang membosankan dan kadang menyenangkan. Aku tahu, yang namanya dosen tak pernah bisa memenuhi hasrat terdalamku.
    Demi sebuah angka hasil oretan jelek dan sungguh jelek dosenku, aku rela bangun pagi-pagi dan pergi tidur larut malam. Apakah itu akan sia-sia? Ku yakini tidak. Aku tidak hanya memakukan pantatku pada kursi yang menyebalkan ini, tetapi aku sedang memakukan kehendakku untuk sukses?
    Apakah sesederhana itu aku mengerti uraian dan perjuangan panjang akan kesuksesan? Tidak, tandasku yakin! Aku mengukir kesuskesan di sanubariku dengan kuas kebiasaan kecil yakni mencintai “mata pada buku”. Mata pada buku harus kupautkan setiap hari untuk menyelami dan memahami arti setiap kata, frasa, kalimat, dan akhirnya dikatat dosen-dosenku yang cukup rajin meraciknya sehingga sangat tebal.
    Aku ingat, suatu hari aku lalai mendidik diri. Penat dalam pikiran cepat mengundang rasa ngantuk. Aku terpekur di hadapan buku, dan tersadar ketika waktu memanggil memasuki ruangan. Aku masuk dengan pikiran hampa, aku melangkah tanpa bekal. Di hati kecil sejumlah keraguan meringsut berkali-kali. Aku takut, aku kuatir, aku ragu.
    Benarlah demikian. Dosen yang kukagumi dengan rasa benci mengadakan sedikit test materi. Aku kelabakan, tak tahu harus berbuat apa. Kupandangi huruf dan kata-kata yang terurai rapi di hadapanku. Rupanya bukanlah “ketik dengan font Times New Roman, ukuran 12, satu setengah spasi”. Begitulah kata-kata yang tampak dari balik kumis tebal dosenku setiap kali hendak memberi tugas. Melainkan, “selesaikan pertanyaan-pertanyaan ini selama setengah jam.
    Hari itu aku benar-benar kapok. Aku tak tahu harus berkata apa pada kelalaianku semalam. Aku mengkhianati perjuangan orang tuaku yang saban hari berjuang membiayai dudukku di ruangan ini. Aku mengkhianati anak-anak negeri yang tidak dapat duduk di ruangan seperti yang kurasakan saat ini. Mungkinkan kami harus berganti posisi dan peran dengan mereka? Lebih layakkah mereka yang duduk di ruangan ini dan aku yang harus berjemur diri di ruas jalan itu sembari mengulur tangan kepada setiap mobil yang akan berhenti di lampu merah?
    Rasanya aku tak sanggup. Rasanya aku malu harus berprofesi seperti itu. Bukannya aku mengejek, tapi harus kuakui bahwa aku tak sanggup seperti itu.
    Akan kubayar mahal pengalaman hari ini. Akan kurangkai indah pengalaman ini, tentu dengan perjuangan dan usaha yang lebih tajam. Perlahan kubangun niat dan tindakan nyata sepulang dari ruangan itu.
    Akhirnya hari ini, Sabtu, 28 Januari 2012, aku berdiri tegap di rungan AC yang cukup nyaman ini. Aroma rangkaian bunga tangan-tangan kreatif menyelimuti ruangan. Aku berdiri dengan dandanan yang tidak biasanya. Aku terpaku pada langkah-langkah sejengkal, tidak seperti pagi-pagi yang lalu, harus kuperpanjang langkah kaki melebihi ukuran tinggi badanku lantaran mengejar bus menuju ruangan itu.
    Kronologi hari ini mengangkat aku menjadi seorang yang dewasa dan berhasil kreatif, paling kurang dari rungan itu. Dua sosok yang dari mereka aku dapat berdiri di sini, bergandengan mesra memasuki rungan, bersungging senyum kebahagiaan.
    Hari ini aku tampil beda ayah dan ibu. Aku berpakaian hitam, bertopi hitam, dengan garis-garis hijau dan orange di leherku. Senyum kebahagiaan berhias air mata menjadi pemandangan Anda berdua hari ini. Terima kasih Ayah! Terima kasih Ibu. Aku telah menyelesaikan masa-masa di rungan itu. Hari ini, di ruangan yang lebih luas dari biasanya, di Gedung Manggala Wanabakti Senayan, Jakarta, aku berdiri merayakan rangkuman hari-hari perjuangan di masa kemarin, tiga dan empat tahun.
    Mari bersama kita mengumandangkan nada syukur. Kita mengumandankan perjuangan baru. Kita mendendangkan karya-karya nyata.

Kos Bambu, Selasa, 31 Januari 2012
stefanus p. elu

Kamis, 02 Februari 2012

BUKU HARIAN AYAH


Ayah dan ibu telah menikah lebih 30 tahun, dan Michael sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar. Dalam hati Michael, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan baginya. Michael juga selalu berusaha keras agar dia bisa menjadi pria dan suami yang baik seperti ayahnya. Namun, harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tidak lama setelah menikah, dia dan istrinya mulai sering bertengkar hanya karena hal-hal kecil dalam rumah tangga.
Malam minggu ketika pulang ke kampung halaman, MIchael tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ayah mendengarkan segala keluhan Michael. Setelah itu beliau berdiri dan masuk ke rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan Michael. Sebagian besar halaman buku tersebut telah menguning, kelihatannya buku-buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.
Ayah Michael tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu dia mengambil salah satu buku itu. Tulisannya adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus bebertapa halaman kertas. Michael segera tertarik dengan hal tersebut. Mulailah Michael baca halaman demi halaman buku itu dengan seksama.
Semuanya merupakan catatan hal-hal sepele, “Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untukku. Anak-anak terlalu berisik, untung ada dia.” Sedikit demi sedikit tercatat. Semua itu adalah catatan berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, cinta ibu kepada anak-anak dan keluarga. Dalam sekejap Michael sudah membaca habis beberapa buku. Arus hangat mengalir dalam hatinya. Matanya berlinang air mata. Michael mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru dia berkata pada ayah, “Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu.” Ayah menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak perlu kagum, kamum juga bisa.”
Ayah berkata lagi, “Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan? Intinya adalah harus bisa belajar saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional. Ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu ayah bersembunyi di depan rumah. Dalam buku catatan, ayah tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati ayah penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya dan sampai sobek akibat tembus oleh pena. Tapi, ayah masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya. Ayah renungkan bolak-balik dan akhirnya emosi itu tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu.”
Dengan terpesona MIchael mendengarkannya. Lalu dia bertanya pada ayah, “Ayah, apakah ibu pernah melihat catatan ini?” Ayah hanya tertawa dan berkata, “Ibumu juga memiliki buku catatan. Buku catatannya berisi kebaikan diriku. Kadang kala malam hari, menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. Ha...ha...ha...” Saat memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan di atas meja, tiba-tiba saya sadar akan rahasia pernikahan, “Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan pasangan. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain.”
Inspirasi
Untuk Direnungkan : Apakah anda berencana menikah? Hidup pernikahan tidak selalu indah. Andalah yang membuatnya indah.
Apakah anda sudah menikah? Mana yang lebih banyak anda lakukan, mencatat kebaikan pasangan atau keburukannya? Pilihlah kebaikan!
Untuk Dilakukan : “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.”
Jika anda kesulitan untuk memuji orang lain, jangan-jangan anda pun jarang sekali mendapat pujian. Lihatlah hal-hal positif atau kebaikan orang lain apa lagi pasangan kita! Karena dengan berbuat demikian maka, hubungan kita akan lebih langgeng, mengurangi prejudis, pikiran negatif yang dapat merusak hubungan dengan orang lain terlebih pasangan. Hidup ini hanya sekali kita jalani, buatlah itu indah karena bilamana keharmonisan terbentuk dalam rumah tangga! Maka itu kita akan bawah sampai ke dalam surga. Mulailah sekarang memberikan pujian, kepada pasangan kita niscaya kelak kita akan tuai hasilnya yaitu menjadi pasangan yang harmonis didunia sampai keakhirat. Tumbuhkan rasa toleransi dan pupuklah selalu komunikasi yang baik dengan demikian dunia akan tersenyum melihat anda. Memang susah dilakukan ... tapi setidaknya ... Cobalah ..

Sumber: APIK Katolik, sebuah milis evangelisasi

Selasa, 24 Januari 2012

Mia Patria Membangkitkan Naluri Musikku


Dunia musik boleh dibilang cukup akrab di telinga saya. Semenjak kecil saya membiasakan diri untuk mendengar musik meski sarana untuk itu sangat terbatas. Ketika ingin menyajikan goresan ini, rekaman ingatan masa lalu mencuat. Saya ingat betul, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ayah yang sangat aku cintai membeli sebuah tape ukuran besar dengan dua speakar besar melekat pada kedua sisinya.
        Dengan modal batrei ABC, karena di kampung saya belum ada listrik, saya selalu menyetel lagu sebagai hiburan setiap pulang sekolah. Dengan segala keterbatasan itu, saya melakukan beberapa eksperimen. Misalnya, menyambung kabel pada kedua kedua speaker itu dan menempatkannya masing-masing di sisi ruangan yang berbeda. Tujuaannya agar setip kali saat saya meyetel lagu-lagu kesukaan saya dari kaset pita itu, di ruangan manapun saya berada, saya bisa mendengar musiknya.
        Meski terkadang harus dimarahi oleh ayah atau ibu karena eksperimen-eksperiman itu, toh saya selalu melakukannya dengan diam-diam. Terkadang saya harus merayu ayah agar membelikan batrei karena esperimen itu pasti memakan arus yang cukup besar.
        Kebiasaan ini berlanjut saat saya di seminari. Karena di seminari tidak diizinkan untuk membawa tape rekorder atau alat musik lainnya, saya nekat membeli gitar. Meski sedikit berbohong pada ayah dan ibu agar mendapatkan uang saku lebih, toh saya sedikit bangga karena memiliki alat musik itu. Bersama seorang sahabat akrab saya, setiap malam kami selalu menyempatkan waktu untuk bermain gitar besama. Itulah nada-nada musik yang mengalir dalam diri saya. Rasanya saya juga agak mudah mendalami pelajaran-pelajran musik yang dibnerikan. Puncaknya, pada 2005, saya harus mandi darah dari alat musik yang setiap hari menjadi teman akrab saya itu.
        Demikianpun ketika saya berada di Serikat Xaverian. Cara memainkan alat musik yang saya tekuni dulu di seminari semakin berkembang. Pada 2010, sebelum saya meninggalkan Xaverian, saya belajar organ. Meski hanya autodidak toh saya bisa seidkit memainkan alat musik itu dengan cukup baik.
        Kesukaan akan musik terus mengalir. Akhir-akhir ini, misik regae mulai merangsek masuk. Saya merasa cukup nyaman ketika mendengar lagu-lagu tersebut.
        Malam ini, Rabu, 18 Januari 2012, saya memperoleh kesempatan untuk mewawancarai sebuah kor “Mia Patria”. Kor yang khas dengan musik-musik budaya itu sudah melanglang buana ke mana-mana. Eropa adalah negara tujuan pentasnya. April 2011 lalu, mereka mementaskan musik-musik Indonesia di beberapa negara: Jerman, Swiss, dan Itali. Itulah perjalanan nagara mereka pertama. Namun, dari hasil perbincangan dengan anggota-anggotanya, tampak bahwa mereka sangat menikamti perjalanan itu. Siapa sih yang ga senang bisa melihat Eropa?
        Impian mewujud dalam seni. Dan seni mampu memfasilitasi apa yang dicita-citakan. Mungkin itulan bahasa yang tepat untuk mewujudkan kesan-kesan yang terungkap dari masing-masing anggota. Di dalam komunitas musik budaya ini pun mereka saling berbagi pengetahun musik. Mungkin awalnya, seseorang hanya tahu memainkan alat musik gitar, di komunitas ini ia bisa mempelajari alat-alat musik lainnya. Intinya bahwa kimunitas ini memfasilatasi anak-anak muda Katolik yang menyukai musik.
        Kualitas yang diorbitkan komunitas ini pun tak diragukan lagi. Saat ulang tahun Majalah HIDUP, komunitas ini mampu mengorbitkan acara itu menjadi sebuah Misa yang agung dan meriah. Misa yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo itu sangat terkesan. Saya yang saat itu hadir secara langsung dan menyaksikannya mampu mengatakan bahwa ini sebuak kor yang indah.
        “Yang ingin kami tampilkan adalah musik-musik khas Indonesia,” tutur Putu Pudiantoro, Sang Fouder sekaligus pemegang kendali komunitas ini. Dari dialah anak-anak muda ini berkembang danmampu menjelajahi dunia Eropa. “Saya ingin agar anak-anak muda yang sederhani ini juga bisa melihat Eropa,” urai salah satu anggota Komisi Musik Liturgi KAJ ini. Menurutnya, anak-anak muda ini tidak bisa berlibur ke Eropa seperti anak-anak orang kaya lainnya. Melaui musik ia ingin memfasilatasi mimpi orang-orang sederhana ini. 

        Musik budaya memang sesuatu yang khas. Sayang, bahwa anak-anak muda saat ini mulai melupakan musik-musik budaya. Mereka lebih mengagumi musik-musik pop-rock sajian The Virgin, Afgan, Ayu Tingting, dan penyanyi beken lainnya. Semua bertemakan cinta. Memang sih, persolan cinta tak pernah cukup kata dan kalimat untuk membahasakannya. Akan tetapi, sampai hal itu mengeliminasi kita dari musik-musik asal kita adalah sesuatu yang sangat tidak sehat.
        Menurut saya, seharusnya musik-musik itu hanya sebagai percikan api untuk menyalakan semangat dan niat untuk mengusung musik-musik daerah kita. Mia Patria adalah komunitas yang menangkap percikan api itu. Jika negara lain, misalnya Malaysia mengklaim alat musik angklung sebagai alat musik mereka seharusnya membuat kita mulai sadar. Kita patut ‘memarahi’ mereka bukan dengan kata-kata atau cacian, tetapi dengan semangat dan daya juang untuk menekuni dan mementaskan lagu-lagu daerah dengan alat musik itu. Kualitas kita mempertahankan alat musik angklung dengan meningkatkan mutu oenggunaanya.
Jarum penunjuk siapa pemilik alat musik angklung seharusnya tampak dari kualitas penggunaanya. Kita harus piawai memainkannya. Dengan demikian dunia akan melihat siapa pemiliknya. Itulah kemarahan dan cacian yang berkualitas. Dari situ pun tampak bahwa orang muda Indonesia adalah orang muda yang terdidik dan terpelajar. Mari kita mendukung misi yang besar yang sedang diusung Mia Patria ini. Semoga semakin hari semakin banyak  orang muda yang mencintai musik-musik tradisional Indonesia.

Kos Bambu, 20 Januari 2012
Stefanus P. Elu

Senin, 23 Januari 2012

Ada Pejuang Martabat Manusia di Malang


Mentari sedikit terasa panas. Alam cerah membuat pandangan bisa leluasa memergoki lekak-lekuk jalanan kota Malang, Jawa Timur. Hari itu, Jumat, 6 Januari 2012, adalah hari pertama aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kota Malang. Kota yang sedari dulu namanya beberapa kali terngiang di telinga, namun baru hari itu saya melihatnya secara langsung dan dapat merasakan dengan kulit saya sendiri aura udara dan deru kehidupan kotanya.
        Sedikit padat dengan beberapa mobil, angkutan umum, dan kendaraan bermotor membuat ruas jalanan tak pernah sepi . Insan-insan petualang bumi berakal budi hilir mudik mengurusi urusan pribadi dan sosialnya. Mereka mengejar waktu yang tak pernah berhenti berputar, mengejar kesempatan yang tak pernah akan terulang lagi.
        Saya, dengan wajah baru dan sedikit ‘sepi’ memandangi situasi itu sambil memutar akal, bagaimana caranya agar saya bisa sampai ke tempat tujuan. Keputusan pertama adalah mengabari teman-teman SMA saya dulu agar mereka tahu bahwa saya sekarang sedang berada di Malang. Bukan untuk pamer atau garap kesempatan, tetapi tindak antisipatif dalam situasi konkret. Suatu ketika, saat saya kebingungan di kota Malang ini, paling tidak mereka sebelumnya sudah tahu keberadaan diri saya.
        Sang tukan becak mengayuh becak mungilnya menelusuri gang menuju Jalan Setaman nomor 18, alamat yang saya tuju. Dengan cermat saya memperhatikan bangunan sekitar, orang-orang yang melintas, sedikit merekam dalam ingatan jalan yang sedang kami lalui.
        Setelah menunggu beberapa menit, saya bisa berjumpa dengan orang yang menjadi tujuan pertama untuk saya temui. Suster Risye muncul dari balik pintu, menyapa dan memberi salam. Kami saling berjabat tangan, berkenalan, dan salang berbagi cerita guna mewarnai perjumpaan di hari itu.
        Seolah sejampun jangan sampai terabaikan, kami langsung berkemas dan berangkat ke Bhakti Luhur tempat difabel. Perjumpaan dengan anak-anak itu mengundang rasa iba sekaligus takut pada diri. Rasa empati adalah sahabat dekat yang selalu menemani langkah kaki menelusuri lorong-lorong wisma, tempat tinggal anak-anak difabel. Kata hati tak sanggup melihat, tapi itulah kenyataan yang sedang hadir di hadapan saya.
        Mereka tampak berlari ke sana ke mari. Mereka sangat bahagia, menikati hari-hari hidup mereka tanpa peduli apa yang sedang melanda diri mereka. Sejenak situasi itu mengomentari diri. Bisakah kamu hidup seperti ini? Menikmati hari-hari hidup kamu dengan senyum dan tawa. Kekawatiran biarlah menjadi sahabat seorang pesimis. Tapi kamu harus berlangkah terus, mengejar cita-cita, menuai hari-hari hidupmu dalam sukacita. Sebab yang kamu cari dan sedang kamu tuju adalah keabadian, bukan hal empirik yang hanya bertahan dalam periode kronologis.
        Perjumpaan selama tiga hari bersama anak-anak ini menyiratkan pesan yang mendalam. Menghargai hidup saya dan sesama adalah hal mutlak dan penting untuk disahabati dan diinternalisasikan dalam diri. Ternyata hidup itu sangat berharga karena bukan kita yang memilikinya, tetapi Allah sendirilah yang telah bermurah hati menitiokannya kepada kita. Termasuk di dalamnya semua manusia yang lengkap atau kurang.
        Dalam mata khalayak, difabel adalah orang-orang yang tidak biasa dalam peredaran normal kehidupan masyarakat. Maka, tidak heran kalau dalam relasi sosial difabel dianggap lebih rendah. Mereka dipandang sebelah mata oleh karena kekurangan-kekurang yang mereka miliki.
        Pastor Paul Hendrikus Janssen CM adalah seorang yang tidak menerima perlakuan ini. Pastor kelahiran Venlo, Amsterdam, Belanda 22 Januari 1922 ini getol memperjuangkan hak dan martabat difabel. “Mereka juga manusia yang perlu diperlakukan seperti manusia yang lainnya,” tegas pastor yang 29 Januari akan genap 90 tahun ini. Semenjak menerima tugas perutusannya sebagai seorang Imam Lazaris ini tidak pernah bosan memperjungkan kelangsungan kehidupan difabel.
        Inilah cita-cita yang terus mengalir dalam dirinya. Bahkan, ia mengakui bahwa ia bisa mencapai umur 90 tahun ini karena cita-cita itu. Caranya mengatasi pikun di hari tua adalah dengan memiliki cita-cinta. Katanya, “orang menjadi tua, ketika ia tidak lagi memilki cita-cita,” ungkap Pastor yang mendirikan Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang, Jawa Timur ini.
        Menurutnya, ketika seseorang memiliki cita-cita maka setiap hari pikirannya tercurah untuk merealisasikan cita-cita itu. Pikirannya akan selalu berusaha menghasilkan inovasi-inovasi baru guna merealisasikan cita-cita ini. “Itullah obat bagi seorang yang sudah tua,” pungkasnya. Daripada duduk dan merenungi nasip tuanya, mending ia mengaktifkan otanknya dengan terus merenungi sita-citanya.

&&&
        Petualangan di Malang berwarna lain lagi ketika saya berkesempatan berjumpa dengan Pastor Willy Maliam Batuah CDD. Ia adalah seorang imam yang berprofesi sebagai petani. Ketika selesia masa karyanya di sekolah, sang maetro bunga ini ‘menyingkir’ sedikit ke Sawiran, Nongkojajar, Purwodadi, Jawa Timur untuk mulai terjun ke dunia tani. Di Sawiran ini ia bekerja sebagai petani bunga.
        Aneka bunga ditanami sambil mencari bibit-bibit unggul lainnya pada laboratorium yang didirikannya sendiri. Dulu, bunga  krisan adalah bunga yang menghiasi kebunnya. Namun, saat ini ia mulai melebarkan sayap kepada jenis bunga lainnya, sebut saja anggrek.
        Pilihannya untuk terjun ke dunia tani pun berangkat dari keprihatinan pada pemerintah yang sering mempermainkan para petani. “Pemerintah membohongi petani dengan memberikan kepada mereka bibit bunga, tapi justru bibit itu adalah bukan bibit yang bai. Petani sudah sering ditipu,” tegas Pastor yang kini berusia 72 tahun ini.
        Penampilannya sangat sederhana. Hala itu tampak, ketika selesai perbicangan ia berkata, “Saya mau berangkat ke kebun.” Ia hanya memakai celana pendek  di atas lutut, berkaus obelong dengan tas samping yang sudah sedikit lusur pertanda umurnya tak mudah lagi beranjak dari kediamannya. Ia selalu tampil sederhana seperti itu.
         Di tempat ini ia bisa berasimilasi dengan siapa saja. Termasuk orang-orang Muslim pun mau bekerja bersamanya. Ketika ditanyai soal ini, ia mengatakan, Kan saya  bekerja bukan mula-mula mengangkat Salib. Salib adalah lambang iman kita. Tetepi bukan berarti itulah yang utama ketika kita mau bekerja sama dengan orang lain. “Bila yang diangkat adalah sisi manusiawi kita, maka saya rasa tidak ada penolakan dari orang lain,” urainya dengan penuh yakin.

&&&
        Perjalanan ini semakin meninggalkan kesan menarik karena ketika mau balik ke Jakarta, saya ketinggalan kereta. Kereta berangkat pukul 14.00, sementara saya baru tiba di stasiun Kereta Api Malang 15 menit kemudian. Sepanjang jalan saya memang berharap agar keretanya agak sedikit telat seperti saya datang kemarin. Tapi harapanku salah. Ternyata kereta api kali ini taat aturan. Pukul 14.00 tepat ia bernagkat ke Jakarta.
        Maka saya pun harus mencari jalan laun untuk pulang ke Jakarta. Bus adalah pilihan terakhirnya. Syukur bahwa saya bisa memperoleh tiket untuk balik Jakarta. Saya juga bersyukur bahwa karena keterlambatan ini saya bisa melihat daerah-daerah lain, sepanjang Malang hingga Jakarta. Mudah-mudahan perjalanan ini dapat menghasilkan berbagai nilai bagi perkembangan diri saya.



Kos Bambu, 19 Januari 2012
Stefanus P. Elu