Rabu, 16 November 2011

Mengorbankan Yang Paling Saya Sayangi


Semua teman kos masih terelap. Saya bangun lebih awal karena ada tugas liputan yang harus saya jalankan, Kamis 10/11/11. Perjalanan kali ini cukup jauh dan memakan tenaga. Pukul 5.20, motor pulsar 180cc saya meluncur kencang. Di luar dugaan dan kendali, saya berpindah tempat ke aspal. Motor kesayangan yang selama ini saya rawat degan penuh kasih sayang terpelantng di atas aspal.
            Seorang bapak yang baru keluar dari gang sebelah, tanpa memandang ke kanan, langsung menyalip. Saya kaget dan menekan cakram. Lutut dan siku serta telapak tangan terseret di atas aspal. Antara rasa sakit, jengkel, dan kasian pada motor bercampur jadi satu. Motor yang telah saya rawat selama tujuh bulan, akhirnya ternoda. Goresan panjang memenuhi batok depan bagian kanan motor. Rasanya tidak nyaman sama seali menyaksikan hal ini. Hati saya sangat sedih melihatnya.
            Tapi apa yang hendak dikata. Semua telah terjadi. Dalam rasa seperti itu, rasa sedikit bersyukur masih terbersit dalam hati. Ini baru awal perjalanan. Sementara, jarak yang harus saya tempuh hari ini masih sangat jauh. Saya akan menghadiri rapat Konsultasi Regional yang diadakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor. Seminar ini secara khusus dijanalankan untuk menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat saat ini mengenai Kitab Suci. Semoga kejadian ini hanya di awal. Semoga semua berjalan lancara sesuai rencana.

***

“Setelah 65 tahun merdeka sebagai bangsa, ternyata kita belum dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepelbagaian agama, suku, ras dan golongan sosial. Hal tersebut mengakibatkan tersendatnya bangsa ini dalam mencapai tujuan kesejahteraannya. Gejala ini dapat ditandai dengan berbagai peristiwa konflik sosial di berbagai tempat. Misalnya, pada awal 2011 terjadi kekerasan yang dilakukan di Cikeusik, Temanggung, dan Pasuruan. Yang lebih mengenaskan dari peristiwa itu adalah selain jatuhnya korban harta dan nyawa, juga tidak adanya kepastian bahwa peristiwa serupa tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.
Selain itu, kita juga mencatat bahwa sepanjang kehadiran dan kehidupan Republik ini selama 66 tahun, negara (state) telah melakukan fungsinya dengan tidak optimal. Pembangunan sosial-ekonomi, politik, dan hukum tidak berjalan sesuai harapan rakyat. Pembangunan ekonomi melahirkan ketimpangan-ketimpangan sosial yang mendalam, karena dasar filosofi, pola, dan orientasi serta wawasan pembangunan ekonomi dilandasi oleh sikap dan wawasan untuk mendapat keuntungan secara cepat (quick yielding approach).
Sikap ini mengakibatkan pemanfaatan sumber daya alam (mineral dan hutan) telah berlangsung tidak efisien dan berakibat pada perusakan lingkungan yang tak terkendali. Hal ini merupakan salah satu akibat dari tidak tertatanya secara sistimatis Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan lingkungan. Akibatnya, semakin banyak tanah pertanian aktif yang hilang dan diganti oleh gedung-gedung perkantoran, perumahan (sederhana, mewah, sampai super mewah), pabrik industri pengolahan, dll.
Kebijakan otonomi daerah yang tidak realistis – tidak atau kurang memperhatikan kelemahan dan kekuatan daerah yang terkait – hanya menghasilkan kebijakan politik yang memungkinkan sekelompok orang ingin dan dapat meraup keuntungan materiil di daerahnya. Semua kondisi tersebut ini diperparah dengan lemahnya penegakkan hukum. Ternyata kelemahan itu memberi peluang pada penegak hukum untuk memanipulasi bunyi aturan-aturan hukum dan peraturan daerah (Perda) untuk kepentingan dan keuntungan pribadi para birokrat daerah.
Ketidakteguhan para penegak hukum melaksanakan hukum secara adil bagi warga negara, mengakibatkan kesan adanya proses ”pembiaran” terjadinya kekacauan (chaos) sosial. Jelaslah kondisi ini merupakan indikasi besarnya hambatan bagi bangsa ini mencapai masyarakat yang adil makmur sekaligus merupakan ancaman terhadap integrasi bangsa ini.
Dalam situasi seperti itu, peran agama masih dipandang mampu memberikan rasa damai dan saling mengasihi antarsesama manusia. Untuk mengaktualisasikan niat itu, kita melihat bahwa peran dari Kitab Suci Agama-agama perlu ditingkatkan. Kita percaya bahwa dengan peningkatan pemahaman yang lebih mendalam akan isi Kitab-kitab Suci itu seharusnya membawa perdamaian di antara sesama manusia.
Dengan pemahaman yang mendalam terhadap Kitab Suci, masing-masing pengikut agama yang berfokus pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal, diharapkan disintegrasi. Hal itu dapat dilaksanakan dengan sikap saling menghargai dan saling menghormati dan terlebih lagi saling mengasihi dengan tidak menonjolkan perbedaan yang memisahkan kemanusiaan kita.” (Ringksan Bahan Konsulatsi Regional, Bogor, 10 November 2011).

***
            Pengalaman perjumpaan dengan macam-macam orang terjadi di konsultsi Regional ini. Banyak pendeta yang turut menghadiri kegiatan ini. Tapi, umat Katolik hanya sedikit sekali. Imam yang ikut saja tidak sampai lima orang. Jumlah yang sangat minim, bila dibandingkan dengan jumlah pendeta yang hadir.
            Narasumber dalam kegiatan ini adalah Pendeta Weinata Sairin, M.Th, Dr. Deshi Ramadhani SJ, Pendeta Dr. Nus Reimans, Pendeta Dr. Karel P. Erari, Pendeta Dr. Yongki Karman, Prof. Dr. Martin Harun OFM, Drs. Supardan, M.A, Kareasi H. Tambur, M.Th, dan Alpha Martyanta, S.E.
            Dalam acara ini Dr. Martin Harun OFM sebagai Ketua Revisi Deuterokanonika mendengarkan beberapa usulan kata terjemahan yang tepat dari bahasa Yunani ke bahasa Indonesia. Selain itu, dibahas pula berbagai tantangan yang dihadai LAI dalam usahanya menyebarkan Alkitab Ke semua umat Kristiani yang ada di seluruh pelosok Indonesia.
            Melalui kegiatan ini, LAI ingin berkonsultasi degan Gereja-gereja, lembaga-lembaga, dan umat Kristiani untuk melihat berbagai peluang dalam usaha mengaktualisasikan visinya: “Firman Allah hadir bagi semua orang dalam bahasa yang mudah dipahami agar merek dapat bertemu dan berinteraksi degan Allah, dan mengalami hidup baru.”
Drs. Supardan, M.A, Ketua LBI, mengatakan “kita umat Kristiani perlu memiliki optimism bahwa Indonesia telah diserahkan kepada kita. Mari kita tangani dengan baik. Marilah kita bekerjasama sebagai umat Allah untuk membantu saudara-saudara kita yang belum mampu membeli Alkitab.”
Stefanus P. Elu
Kos Bambu, 14 November 2011

Jumat, 11 November 2011

Takut Pada Bayangan


Alam masih sepi. Sang raja siang belum bangkit dari tidur. Saya bersama ‘teman’ terjaga dari mimpi. Memang demikianlah rencana sebelum pergi tidur semalam. Pukul 4.30, saya dan ‘teman’ saya sudah tampil rapi. Memang, baru  pagi ini saya bagun lebih awal. Apa hendak dikata. Ada tugas yang harus saya selesaikan hari ini. Paling tidak ada dua agenda kegiatan.
            Bersama ‘teman’ saya, kami menelusuri jalan yang masih tampak sepi. Kami akan manghadiri misa hari minggu di Paroki Santa Perawan Maria Ratu Blok Q, Jakrta Selatan. Hari itu Minggu, 23 Oktober 2011. Apa yang saya dan ‘teman’ saya impikan akan menjadi kenyataan. Kami memang telah menantikan kesempatan ini. Dalam agenda kami, suatu saat nanti, mudah-mudahan kami mendapat kesempatan untuk menghadiri Perayaan Ekaristi bersama-sama. Kesempatan ini memang penting bagi kami. Selain merasakan kebersamaan, ada banyak hal yang perlu kami panjatkan dan persembahkan kepada Tuhan. Bila impian lama itu tercapai rasanya akan berbeda.
            Setelah bertanya-tanya tentang alamat gereja, akhirnya kami sampai juga. Letak gereja memang tidak terlalu ‘tersembunyi’ sehingga mudah ditemukan. Pukul 6.30 tepat kami memasuki area parkir gereja. Setelah memarkir motor pada tempatnya, kami berlangkah memasuki gereja yang tidak begitu luas. Kami mengambil tempat yang paing belakang. Duduk berdoa sejenak, saya memilih untuk keluar lagi. Agenda pertama untuk misa bareng paling tidak 75 % sudah tercapai. Tinggal dijalankan.
            Saya kembali ke halaman gereja. Kini agenda kedua dimuai. Saya mendekai satpam yang sedang berdiri di depan pintu gerbang utama. Beberapa pertanyaan saya ajukan sebagai komunikasi awal. Obrolah pun berlanjut.
            Menurut informasi yang sempat saya kumpulkan beberapa hari sebelumnya, Jacob Oetomo biasanya mengikuti misa hari minggu di gereja ini. Katanya, Jacob biasanya mengikuti misa antara pukul 7.00 atau pukul 9.00. Jadi saya harus berjaga di antara kedua jadwal misa ini. Saya harus betemu dengan Jacob. Itulah misi saya yang kedua.
           

***
Bertemu dengan Jacob memang bukan tanpa tujuan. Baru 27 September 2011 lalu, Jacob merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Maka, Majalah HIDUP merasa penting untuk meulis tentang biografi dan kiprahnya pada Sajian Utama. Memang tidaklah salah bila Jacob ditempatkan menjadi berita utama. Mengapa tidak? Di dunia pers, Jacob adalah orang yang sangat dihormati.
Kompas adalah bukti kiprah panjang Jacob di dunia pers. Kompas kini menjelma menjadi surat kabar yang mendunia. Seluruh pelosok tanah air negeri ini pasti pernah bersentuhan dengan kompas. Bahkan di dunia pers, kompas menjadi surat kabar yang bergengsi dan dapat dipercaya. Belakangan, kompas merambah ke dunia entertamen. KompasTV adalah peluncuran terbarunya. Beberapa orang yang pernah mengenal Jacob pasti memiliki kekaguman tersendiri pada tokoh yang satu ini.
Memang, beberapa tehun terakhir ada rumor yang cukup berkembang miring di khalayak umum terkait Jacob. Tetapi, tentu di sini bukan tempat yang tepat untuk membahas isu tanpa bukti-bukti akurat itu. Yang terpenting adalah Jacob telah merintis dan melakukan perubahan besar bagi pers Indonesia.


***
Tugas saya hari ini memang tampak mudah. Akan tetapi, rasanya seperti memikul satu gunung. Mengapa tidak? Saya ditugaskan untuk mengambil gambar Jacob saat mengikuti misa. Beratnya, hal ini tidak perlu dikomunikasikan dengan Jacob. Kasarnya saya ditugaskan ‘mencuri’ gambar Jacob.
Bagamana saya harus melalukan tugas ini? Apakah orang-orang atau pengawalnya akan marah karena saya mengambil gambar tanpa konfirmasi sebelumnya? Memang, Jacob cukup dikenal di paroki ini. Semua orang menghormatinya. Sementara saya, wartawan baru, tidak dikenal berani mengambil foto tanpa konfirmasi.
Cukup lama saya menunggu persis di pintu gerbang gereja. Sudah pukul 7.00. Misa telah dimulai. Jacob belum menampakkan batang hidungnya. Padahal, menurut satpan gereja ini, Jacob tidak pernah terlambat jika mau mengikuti misa hari minggu. Paling lambat, setengah jam sebelum misa, Jacob sudah tiba di gereja. Apakah memang hari ini dia tidak datang misa? Mudah-mudahan ini perkiraan yang salah.
***

            Saya meninggalkan area gerbang dan masuk ke dalam gereja. ‘Teman’ saya sudah menunggu di sana. Kami mengikuti misa yang penuh hikmat itu. Kepada Tuhan kami persembahkan segala kesulitan dan kegalauan hati yang kami alami selama ini. Rasanya inilah persembahan terindah bagi Tuhan.
            Bila hendak dibayangkan, apa yang kami alami terlalu berat. Hanya ketabahan dan kebesaran hatilah yang mampu menghantar kami untuk mengerti semuanya. Kesulitan memang akan selalu ada. Tetapi harus kami akui bahwa cukup berat untuk urusan yang satu ini.
            Kerinduan yang terpendam selama ini untuk menghadiri Perayaan Ekaristi bersama akhirnya terpenuhi. Segala kegalauan bisa dipersembahkan kepada Tuhan. Kami akan kembali dengan hati baru dan semanat baru. Hanya satu yang kami mohon yakni kebesaran hati untuk menanggung semuanya. Misi pertama selelsai. Saya akan segera mulai menjalankan misi kedua.

***
            Misa pertama telah usai. Saya masih berharap agar Jacob benar-benar datang hari ini. Selain mengambil gambar, saya juga merindukan untuk bertemu dan melihat langsung pemilik Harian Kompas ini. Setelah saya menanyakan perihal apakah Jacob sudah datang atau belum ke satpam, ia hanya menjawab “belum.”
            Kesempatan itu saya manfaatkan untuk mendapatkan beberapa informasi lagi di sekretariat. Beberapa pertanyaan saya ajukan kepada ibu yang ada di sekertariat. Setelah merasa cukup, saya meninggalkan ruangan yang sedikit sepi itu.
            Saya kembali menghampiri satpam yang melambai-lambaikan tangannya mengatur mobil dan motor yang masuk ke lahan parkir. “Apakah Jacob sudah datang?” tanya saya. “Tuh, baru tiba, tapi belum turun dari mobil,” jawab satpam.

            Serentak jantung berdetak makin kencang. Ada ketakutan dan seribu was-was. Jangan-jangan saya akan dimarahi karena memotret  Jacob tanpa ijin. Apakah saya akan diusir? Atau malah dipukuli?
            Saya mengambil posisi di antara mobil yang diparkir di sana, persis menghadap ke pintu masuk gerbang gereja. Kamera canon pinjaman dari kantor tergenggam erat ditangan. Untuk mengurangi segala kecurigaan, saya sengaja memotret gereja dan beberapa umat yang lalu lalang di situ.
            Beberapa menit berselang, Jacob berlangkah masuk. Ia setengah dipapah sang sopir. Belum sempat mengangat pandangannya ke arah saya yang berdiri satu garis lurus dengannya, dua kali jepretan sudah berhasil saya rampungkan. Secepat kilat jepretan lain menyusul. Semua masih diam. Saya turunkan kamera dan membiarkan dia terus berlangkah memasuki gereja. Ia berjalan menuju pintu belakang.
            Saya mengambil jalan pintas melalui pintu samping gereja. Agar mengurangi kecurigaan, saya memotret altar, umat, dan beberapa objek lain yang ada dalam gereja, sambil bergeser menuju tempat di mana Jacob duduk. Ia duduk di bangku urutan lima dari belakang. “Sesuai informasi,” pikir saya.
            Setelah mencapai jarak tiga meter, beberapa jepretan ke arah Jacob berlangsung cepat. Aku berpindah ke sisi kiri Jacob. Beberapa kali jepretan berhasil saya raih. Saya mengambil tempat duduk tiga bangku di depan Jacob karena misa akan segera dimulai. Saya duduk diam sambil menilai hasil jepretan, apakah sudah tepat  atau belum. Kayaknya perlu ditambah.

Perayaan Ekarisrti telah berlangsung. Ketika sampai pada pernyataan tobat, saya keluar dari barisan tempat duduk dan mundur tiga langkah. Kamera Canon kembali saya arahkan ke Jacob. Beberapa jepretan kemali terekam cepat. Saya keluar meninggalkan gereja. 
Baru saya sadari bahwa apa yang saya takuti sebelumnya ternyata tidak terjadi. Saya mulai berpikir, apakah ketakutan ini merupakan kenyataan yang akan terjadi atau hanya bayangan? Apakah saya takut pada hasil konstruksi bayangan saya sendiri? Jika demikian, sungguh ironis dan memalukan. Saya takluk pada bayangan sendiri. Ketakutan yang tanpa alasan. Memang itulah yang sering terjadi dalam hidup dan jarang disadari banyak orang.

Stefanus P. Elu
Kos Bambu,  Kamis 10 November 2011

Senin, 07 November 2011

Cintailah yang Kamu Miliki Saat Ini

Simak deh..
Jika ќαмϋ memancing ikan, setelah ikan îτϋ terikat ϑi mata kail, hendaklah ќαмϋ mengambil Ikan îτϋ...
Janganlah sesekali ќαмϋ lepaskan ia ќεmbali ќε ϑάlάм air begîτϋ saja... Karena ia akan sakit oleh karena ќεtajaman mata kailmu ϑäπ mungkin ia akan menderita selama hidupnya.

♚ Begîτϋlah juga setelah ќαмϋ memberi ϐäπγάќ pengharapan ќεpada seseorαπg...
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah ќαмϋ menjaga hatinya... Janganlah sesekali ќαмϋ meninggalkanγά begîτϋ saja...
Karena ia akan terluka oleh ќεnangan bersamamu ϑäπ mungkin tiϑάќ dapat melupakan segalanya selamanγά...

✽ Jika ќαмϋ telah memiliki sepiring nasi... Yάπĝ pasti baik ϋπτϋќ dirimu, mengenyangkan, berkhasiat.
Mengάƿά ќαмϋ mencoba mencari makanan γάπĝ lain? Terlalu ingin mengejar ќεlezatan.
ќεlak, nasi îτϋ akan basi ϑäπ ќαмϋ tiϑάќ dapat memakannya. ќαмϋ akan menyesal.

✽ Begîτϋ juga jika ќαмϋ telah bertemu ϑëπƍάπ seseorαπg...
Yάπĝ membawa kebaikan ќεpada dirimu, menyayangimu, mengasihimu.
Mengάƿά ќαмϋ mencoba membandingkannγά ϑëπƍάπ Чάπƍ lain?
Terlalu mengejar ќεsempurnaan.
ќεlak, ќαмϋ akan kehilangannγά.

♚Ingatlah.. Jika ќαмϋ memiliki seseorαπg, terimalah dia apa άϑάnγά...

Senin, 24 Oktober 2011

Ucapan Ultah dari Alam Kapuas


Pukul 8.30 WIB kami bertolak dari belakang rumah Heribertus Unggang. Sampan kecil terombang-ambing di riak-riak Sunagi Kapuas. P. Yusup Gunarto, SMM yang duduk tepat di belakang saya dengan rinci menjelaskan setiap perkampungan yang kami lalui. Sementara itu, Unggang duduk dengan mata terus tertuju ke depan. Matanya menilik dengan cermat jalur-jalur yang akan kami lalui.
            Di hadapan kami tergeletak batang-batang kayu berdiameter 50-75 sentimeter. Menurut P. Gun, kayu itu adalah hasil “curian” PT. Toras. Dua tahun yang lalu, Pastor Gun harus berjuang mati-matian untuk menolak PT Toras ini yang masuk untuk mengambil kayu. Masyarakat sekitar memang menolak. Tetapi amat disayangkan bahwa Pemerintah Daerah dengan tangan terbuka menerima kehadiran PT ini. Mereka dengan mata terbelalak memubuka tangan karena hati dan mata mereka telah ditutup. Dengan usaha dan kerja keras masyarakat dengan arahan P. Gun, akhirnya PT tersebut dapat diusir keluar dari tempat itu.
            Panas terik matahari makin mengukus kulit. Pastor Gun masih setia menemani dengan penjelasan-penjelasannya yang menarik tentunya. Terkadang badan terasa lelah. Kami hening sejenak. Masing-masing masuk ke dunianya sendiri alias tidur. Tapi akhirnya tersadar juga oleh karena benturan perahu pada tumpukan basir dan batu yang bersiweran di mana-mana, buangan tambang emas liar di DAS Kapuas.
            Matahari mulai condong ke barat. Perjalanan masih sangat jauh. Jalur yang akan dilewati pun sangat curam. Maka, kami pun memutuskan untuk menginap di Stasi Nanga Lapung, Paroki Sayut, Kabupaten Kapuas Hulu. Malam yang lumayan dingin cukup untuk membuat nyenyak istirahat kami. Ditambah lagi tubuh yang sudah letih dimangsa perjalanan sepanjang hari.

***

Keesokan harinya, Rabu, 28 September 2011, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami pun membereskan barang bawaan. Semua tas dimasukkan ke dalam kantong pelastik. Riam Sungai Kapuas yang kami lalui nanti akan semakin berat. Riam di Batu Tungku, Batu Lintang Kapuas, dan Riam Bakang semakin keras.
            Bagai badai yang sering diceritakan oleh para Pengingjil Sinoptik, begitulah kami hari itu. Berselang beberapa jam perjalanan, sampailah kami di Riam Bakang. Tempat inilah yang sering diceritakan sebagai tempat yang berbahaya. Ketika sampai di tempat ini, tidak ada pilihan yang lain selain turun dari perahu kecil dan berjalan kaki. Para motoris yang sudah lincah dan terampil mulai mengarahkan perahu ke cela-cela batu. Mereka pun dengan gesit menarik perahu kecil yang membawa barang-barang kami.
            Yang lebih menarik lagi, di sisi kiri dan kanan alur DAS ini, buaya kecil dan besar tidur-tiduran di pasir atau di atas batu. Maklum air sungai yang terasa dingin memang membutuhkan kesempatan untuk menghangatkan tubuh.
            Batu-batu ukuran raksasa beridiri kokoh di sepanjang sungai. Pohon-pohon berdiameter satu sampai dua meter berjejer rapi di sela-sela batu. Udara segar dan naungan menyejukkan sekucur tubuh. Di bawah pohon-pohon itu air tampak biru. Hehehehehe……semakin menakutkan.
            Setelah melalui berbagai rintangan, akhirnya kami tiba di Tanjung Lokang. Inilah tempat tujuan perjalanan kami. Di rumah kecil itu tertulis “Tamu Wajib Lapor”. Perahu kecil yang membawa kami pun merapat ke pinggir sungai, beberapa rumah setelah tulisan itu. Barang-barang kami turunkan dan dibawa ke Rumah HErmanus Bhurong. Di sinilah kami menginap.
            Selama dua hari kami tinggal di bersama keluarga Bhurong. Makanan utama adalah nasi. Sedangkan lauknya adalah babi hutan dan ikan air tawar (sungai). Memang demikian. Mayoritas mata pencaharian masyarakat di sini adalah petani. Uniknya petani di sini masih memakai sistem tradisional. Selain ladang berpindah-pindah, mereka pun masih mengandalkan kegiatan berburu sebagai lauk mereka setiap hari. Mereka pun tidak mengenal sistem jual-beli. Barter atau saling berbagi adalah ideologi yang mereka pegang teguh. Sistem pengolahan lahan secara kolektif semakin menegaskan hal ini.
            Mereka menebas hutan secara berkelompok dan gotong royong. Hal ini akan berlanjut saat menanam, menyabit, dan bahkan saat mengangkut hasil panen ke rumah. Semua dilakukan secara bersama. Suku yang paling dominan di Tanjung Lokang ini adalah suku Bukat. 



***
            Jumat, 30 September 2011 tepat di ulang tahun saya yang ke 26, kami kembali ke Putussibau. Perjalanan turun ini tentu akan sangat cepat. Selain laju motor perahu, ditambah lagi arus air sungai yang cukup deras. Hati tentu terasa senang karena akan cepat tiba. Tapi ada risiko yang sangat besar. Perahu akan dengan mudah tenggelam kalau menabrak batu-batu kokoh yang ada di sekitar aliran air sungai. Semua ini tergantung pada kelincahan sang motoris dan pemegang haluan perahu.
            Bagai sedang berlomba arum jeram, perahu meliuk-liuk di antara baru-batu. Tongkat di tangan sang pemegang haluan dipijakkan ke samping kanan dan kiri perahu silih berganti, guna menghidarkan perahu sengkeraman batu-batu kokoh dan benturan batang-batang pohon raksasa. Meski harus basah kuyup oleh percikan air, saya tidak lupa mengabadikan peristiwa ini. Kamera Canon pinjaman dari kantor terus saya genggam erat. Bidikan demi bidikan mengalir terus. Bagi saya, petualangan ini penting dan harus diabadikan.
            Menjelang sore, kami memasuki DAS Kapuas. Air sungai tampak tenang. Beberapa perahu petani yang baru saja pulang dari ladang semakin menambah keindahan Kapuas sore itu. Ada yang masih menebar jala untuk menangkap ikan. Anak-anak kecil bermain sampan di pinggiran sungai. Orang-orang berjejer di sepanjang sungai untuk mencuci pakaian atau mandi. Ada juga yang hanya jalan-jalan untuk menikmati udara segar di sore hari. Indah memang.
            Matahari yang tampak kemerahan di ufuk barat, memberikan keteduhan bagi yang sedang melintas. Saya sangat menikmati situasi ini. Teriakan anak-anak kampung di pinggiran sungai seolah bersahut-sahutan dengan bunyi motor perahu Yamaha yang terus melaju. Dari bawah air sungai, tampak bayangan pohon-pohon yang berjejer rapi di pinggir Sungai Kapuas dan gumpalan-gumpalan awan menambah panorama keindahan sore itu. Tidak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan kebahagiaan saya di sore itu. Meski tak mendapat selamat ulang tahun dari teman-teman dan keluarga, toh alam Sungai Kapuas mampu meneduhkan hati saya. Itulah ucapan selamat ulang tahun terindah yang diberikan alam ini, suguhan Tuhan yang telah mencintai saya selama 26 tahun. Terima kasih Tuhan, terima kasih Kapuas, dan terima kasih untuk keluargaku dan teman-teman sekalian. “”””””””I LOVE YOU ALL””””””””



Stefanus p. Elu, Kebun Jeruk, 24 Oktober 2011

Selasa, 18 Oktober 2011

Akhir Hayat di Oasis Lestari

Motor Yamaha MX dan Bajaj – Pulzar meninggalkan pelataran Kantor Redaksi HIDUP. Hari itu, saya, Mas Yoga dan Mas Agung akan pergi ke Rumah Oasis Lestari di Jl. Gatot Subroto Km 7-8, Jatake, Tangerang. Rumah Oasis Lestari adalah rumah kremasi yang melayani umat ataupun masyarakat yang ingin mengkremasi keluarganya yang telah meninggal. Pembicaraan tentang kremasi memang agak rumit. Apalagi bila hal itu dibawa ke dalam konteks Gereja Katolik. Menurut informasi yang sempat saya kumpulkan, dalam perkembangan Gereja sendiri berlangsung diskusi yang sangat alot mengenai tema ini. Pada periode waktu tertentu, kremasi dilarang dalam Gereja Katolik. Tetapi, pada periode tertentu kremasi malah ‘diperbolehkan’. Dan sampai sekarang memang Gereja Katolik menerima kremasi (KHK 1176 #3). Akan tetapi persoalan lain muncul lagi. Setelah kremasi, abu jenasah boleh dilarung/ditabur atau tidak? Itulah persoalan yang sementara mau digali. *** Kami memasuki pelataran Oasis Lestari. Lahan seluas 4,8 hektar itu memang menarik. Bangunannya khas dan indah. Ketika kami mendekati rumah kremasi, ada beberapa mobil dan motor yang berjejer di sana. Memang, hari itu, Jumat 14 November 2011, lagi diadakan kremasi. Kami pun masuk dan menemui petugas yang ada di sana. Setelah bertemu di ruang tamu dan mengutarakan maksud dan tujuan kami, kami pun diantar menemui orang yang menangani Krematorium. Epesius Sirait sedang sibuk melayani orang-orang yang datang untuk mengonfirmasi tentang jasat keluarga mereka yang sementara dikremasi. Akan tetapi, syukurlah bahwa Epesius masih menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan kami. Di ruang kerjanya yang berukuran kira-kira 5x4 centimenter kami pung memulai obrolan. Banyak hal dikemukakan oleh Epesus. Secara umum ia mejelaskan “jumlah jasat yang dikremasi di Oasis Lestari dalam setahun bisa mencapai 1200 jasat. Jadi, rata-rata sebulan, mereka bisa mengkremasi 100 jasat”. Mmmmmm…..banyak juga ya, yang meninggal dalam sebulan. Di Oasis Lestari tersedia 4 oven kremasi. Ada satu oven yang berukurang besar. “Sekali kremasi bisa empat jasat. Semua sudah memakai sistem komputerisasi”, lanjut Epesius. Lama pembakaran sekitar 60 – 90 menit, tergantung pada ketebalan peti yang dipakai. Di bawah arahan Epesus kami diberi kesempatan untuk masuk sampai ruang kremasi. Dua oven lagi aktif membakar. Dari kaca kecil berdiameter 3 centimeter kami menyempatkan diri mengintip jasat yang sementara terbakar dalam oven. Nyala api yang sangat besar dan debu yang beterbangan di dalam oven. Hehehehehehe….seru banget tau. Epesus juga menambahkan bahwa daari jumlah jasat yang dikremasi di Oasis Lestari selama setahun, 50 persen adalah umat Katlik. Dan lagi, 70 persen dari jasat yang dikremasi, dilarung ke laut. Rumah Kremasi yang dibangun dengan Dana Pensiunan dari KWI ini juga menyediakan fasilitas untuk mereka yang mau melarung abu jenasah ke laut. Ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan di sini. Ada yang memang melarung abu jenasah ke laut setelah kremasi. Ada juga yang memilih untuk menitipkan abu jenasah di rumah abu atau kolumbarium milik Oasis Lestari. Sewa ruang penyimpanan abu berukuran satu monitor itu setahun Rp. 4.500.000. Dan, ada juga yang abunya di simpan di kolumbarium, tetapi arang atau abu dari peti jenasah itulah yang dilarung. Pokoknya ada yang berpandangan “harus ada yang dilarung”. Berkaitan dengan praktik pelarungan ini, Epesus sebenarnya kurang terlalu setuju. Menurutnya, bila kita melarung abu atau arang dari peti jenasah ke laut, yang kita buang adalah karbon. Nah, ikan akan memakan karbon itu, dan kitalah yang akan memakan ikan tersebut. Dengan demikian kita memakan karbon. Hahahahahaha……tambah penyakit. Hal inilah yang menjadi keberatan bagi Epesus. Epesus juga menambahkan bahwa ketika ia menyempatkan diri berbicang-bincang dengan mereka yang mengkremasi jasat keluarga yang sudah meninggal, mereka mengatakan bahwa ketika mereka melarung abu jenasah ke laut, maka mereka akan mudah untuk mengingat keluarganya. “Tinggal pergi ke laut, entah di laut mana aja, kita bisa berdoa bagi anggota keluarga yang telah dilarung abu jenasahnya. Daripada dikubur, kita hanya bisa pergi ke kubur. Melarung abu jenasah juga berarti jasat itu akan bersatu dengan alam semesta” pungkas Epesius. Kebanyakan jenasah datang dari daerah Jakarta dan Bogor. Stefanus P. Elu, Kos Bambu, 14 Oktober 2011

Menginjak Tanah Pontianak-Kalimantan Barat

          “Steve…..sudah setenga tujuh”, demikian seru Henrik teman kos saya. Saya tersentak dari tidur, berlari ke kamar mandi dan menyiram badan seadanya. Beberapa menit kemudian, saya sudah berpenampilan rapi, meski sedikit berkeringat karena mandinya kurang bersih. Dengan setengah ngantuk, Om Siprianus N. Bani mengantar saya ke pintu gerbang Tol Grogol untuk menumpang taksi jurusan Bandara Udara Soekarno-Hatta.
          Hari itu, Sabtu 24 September 2011, saya harus berangkat ke Pontianak untuk liputan berita terkait Hari Pangan Sedunia. Ini perjalanan dinisa luar kota saya yang kedua. Ketika tiba di bandara, ternyata saya memang terlambat pesawat. Jadwal take of pukul 08.40. Batas terakhir cek in 08.15. sementara saya tiba di bandara sudah 08.27. Karena keterlambatan ini, saya tidak diperbolehkan ikut penerbangan saat itu. Setelah meminta bantuan dengan setengah memelas, akhirnya saya bisa disisipkan ke penerbangan berikutnya, pukul 09.50. Syukurlah Tuhan begitu baik pada saya. Perjalanan ini memang boleh dibilang nekat. Selain sendiri, tempat tujuan ini sama sekali baru. Saya tidak punya kenalan di sana. Modalnya hanya saling kontak dengan seorang pastor yang bertugas di Paroki Sayut, Kecamatan Hulu Kapuas, Kabupaten Kapuas Hulu,
Keuskupan Agung Sintang.
          Pukul 11.15 Saya tiba di Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat. Cuaca sangat panas, tentu bagi saya yang orang baru. Setelah menghubungi bus Pontianak-Putussibau, saya pun melanjutkan perjalanan. Jalan yang agak rusak, cukup untuk olahraga. Maklum waktu yang ditempuh dalam perjalanan ini kurang lebih 17 jam.
*** 
          Pukul 05.40, Minggu, 25 September 2011, saya memasuki pelataran gereja Paroki Bunda Maria Tak Bernoda Putussibau, Kecamatan Hulu Kapuas, Kabupaten Kapuass Hulu, Kalimantan Barat. Sebagian umat telah memenuhi gereja untuk merayakan Ekaristi. Saya beristirahat sebentar, lalu mengikuti misa pukul 08.00. setelah itu, saya mengikuti Pastor John, Dkn. Fidelis, dan Fr. Aldi ke Paroki St Antonius Padua Mendalam.
          Perjalanan ke sana sangat menarik. Mengenderai motor kurang lebih satu jam dan menyeberangi dua sungi. Menarik memang. Pelayanan paroki di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Kapuas ini banyak ditempuh dengan perahu karena harus menelusuri sungai. Penduduk pun masih berdomisili di sekitar bantaran sungai. Hidup mereka masih bergantung pada alam, entah itu dari sungai, atau dari hasil pertanian. Masyarakat masih bercocok tanam sebagai pendapatan utama mereka setiap hari.
         Kesan saya, masyarakat di sana sangat ramah. Saya diterima dengan baik, sehingga dapat menjalankan tugas liputan saya dengan baik, wawancara atau sekedar mengobrol dengan mereka seadanya. Intinnya, saya merasa krasan dan sangat menikamati perjalanan ini. Semoga ke depannya semua selalu indah seperti ini.
Stefanus P. Elu, Kos Bambu, 09 Oktober 2011

Senin, 10 Oktober 2011

Sudah Dipukuli Suami, Malam Minta Jatah

Sore itu, Kamis 15 September 2011, aku sedang becerita dengan seorang teman. Banyak hal yang kami bicarakan. Ketika menyinggung seorang temannya, sebut saja Lia, nada suaranya mulai terdengar teduh. Aku penasaran dengan perubahan itu. Lalu, aku mengajukan beberapa pertanyaan, layaknya KPK yang sedang bertanya kepada Nazarudin soal tindak korupsi yang telah dilakukannya sehingga menyebabkan negara merugi miliaran rupiah. Tentulah aku tidak setajam itu. Aku hanya prihatin dengan cerita teman itu.
Katanya, “si Lia itu lagi nggak sreck tengan suaminya. Setiap hari mereka berantem. Lia sering dipukul suaminyai. Padahal Lia lagi hamil. Tidakan sang suami itu menyebabkan Lia sering pusing di tempat kerja. Ia mengalami tekanan luar biasa. Dan lebih ternyata lagi, tindakan sang suami itu bukan baru terjadi setelah mereka menikah. Lia sering dipukuli semenjak mereka masih pacaran. Tetapi Lia tidak berani bertindak, termasuk minta putus atau membatalkan rencana pernikahan merka sejak awal. Lia tidak melakukan itu karena takut tidak ada laki-laki yang suka sama dia lagi. Maklum Lia pernah “salah dalam pergaulan” sehingga memiliki anak satu”. Aku mulai bepikir. Pertama, kok tega ya sang suami memukuli istrinya. Padahal setiap malam mereka tidur bersama, bahkan berhubungan suami-istri lagi. Aku dengan berani mengatakan hal ini karena orang tidak pernah sadar akan kenyataan ini. Ketika konstruksi pemikiran masyarakat mengelompokkan beberapa hal sebagai tabu dan tidak layak dibicarakan di depan umum, justru di sanalah lumbung kejahatan. Karena orang takut membicarakannya, meski di sana terjadi kejahatan pun urnung untuk dibahas. Kejahatan dalam konteks ini pun menjadi tabu untuk dibicarakan. Kebenaran harus menyusup ke semua lini tanpa mengenal tabu. Kedua, Lia tidak berani mengambil keputusan, meski ia harus menanggung penderitaan. Tentu perceraian bukanlah pilihan terbaik saat ini, karena keduanya telah diikat dengan hukum agama(resmi dan diakui publik) . Dan hunkum dalam agamaku, katolik, perceraian dilarang. Yang aku persoalkan di sini adalah tindak kekerasan itu berlangsung semenjak mereka masih pacaran. Mengapa Lia tidak mau mengambil keputusan saat itu. Apa gunanya melanjutkan hubungan ke tingkat pernikahan kalau pada akhirnya hanya mendatangkan penderitaan? Menderita bukan hanya fisik tetapi secara psikis pula. Bisa dibayangkan bagaimana perkembangan si anak yang akan dilahirkan. Secara psikis, tekanan yang dialami seorang ibu yang sementara hamil akan sangat member pengaruh terhadap perkembangan anak. Aku pikir masalah seperti ini banyak terjadi di masyarakat. Tetapi hal itu tidak berani dikomunikasikan. Seseorang takut tidak akan memiliki pasangan. Ia takut tidak akan ada yang suka dengan dia lagi. Ia takut dengan apa yang ia bayangkan di masa depan. Ironis memang. Asumsiku, inilah proyeksi tanpa dasar. Sesuatu di pasang di hadapan lalu ia sendiri kembali takut dengannya. Ia takut dengan bayangannya sendiri. Ia tidak berani mengambil keputusan ketika berhadapan dengan bayangannya. Tentu Anda akan menyanggah, bagaimana kalau bayangan itu pada akhirnya akan menjadi kenyataan? Ya, aku akan menjawab dengan penuh bangga bahwa sebenarnya apa yang ingin dicari? Bukankankah setiap manusia mengimpikan kebahagiaan dalam hidupnya? Apalah artinya bila ia berani melakukan sesuatu yang hanya akan mendatangkan penderitaan luar biasa? Aku harus berdiri di atas diriku sendiri. Aku harus teguh pada keutusanku. Inilah kedewasaanku. Di sinilah kematangan diriku terukur. Di sinilah pola kedewasaanku terbentuk. Aku tidak akan melakukan sesuatu jika pada akhirnya aku hanya menerima penderitaan tiada akhir. Aku tidak akan sekonyol itu. Aku manusia bebas. Kebebasanku telah diberikan oleh Tuhanku semenjak tangisan pertama menghentak bumi. Maka, aku berdiri di atas bahkan berdampingan dengan kebebasanku itu. Menurutku, manusia layaknya demikian. Masa depannya tidak harus dikendalikan orang lain. Orang lain hanya menjadi atribut yang dapat membantu kita untuk menemukan keputusan. Tentu dengan hasil matang dan baik. Semuanya akan kembali ke pribadi masing. Kenyataan yang dialami Lia menjadi kritik sekaligus kartu merah bagi kita semua. Berpikirlah secara matang sebelum mengambil keputusan. Lagi, percayalah pada apa yang Anda yakini benar dan lakukanlah itu dengan kemitmen setinggi lagit. Sehingga, ketika tidak dapat mencapai langit, paling tidak masih melayang-layang di atas awan. Selamat mencoba!!!!!!!!

Stefanus P. Elu, Kos Bambu, 08 Oktober 2011

Jumat, 26 Agustus 2011

Gerakan Mahasiswa Katolik Interasional


Nepal

The International Movement of Catholic Students (IMCS) di Kathmandu telah diterima stutus keanggotaannya secara penuh oleh gerakan mahasiswa induk di Eropa. Pengumuman ini disampaikan via email kepada IMCS Kathamandu, Rabu, 24/8.
IMCS di Kathamandu telah diterima dalam pertemuan gerakan mahasiswa sedunia di Jerman 25-27 Juli, tetapi baru diumumkan secara resmi setelah keterlibatan mereka pada ‘World Youth Day”.
Pastor Paul Chemparathy SJ, mantan pastor paroki di Kathmandu dan sekarnag bertugas di Moscow, mengatakan sangat bahagia menyambut pengumuman ini. “Saya berbagi dalam sukacita Anda untuk melihat ‘pohon’ yang saya tanam dan siram, kini bertumbuh dan mekar” kenang pendiri IMCS di Nepal ini.
IMCS adalah cabang mahasiswa Pax Romana yang didirikan pada 1921 sebagai kelanjutan dari himpunan mahasiswa Katolik internasional yang didirikan di Swis pada 1887.
Adrian Pareira, mantan koordinator IMCS kawasan Asia-Pasifik mengatakan “saya sangat gembira bahwa setelah bertahun-tahun mencari pengakuan formal, para mahasiswa Katolik Nepal kini resmi menjadi bagian dari Pax Romana. Saya berharap hal ini akan lebih menginspirasi mereka semua untuk bekerja lebih keras demi mencapai visi dan misi IMCS tidak hanya pada tingkat akar rumput tetapi juga pada tingkat global”.
IMCS aktif mempromosikan kerasulan mahasiswa melalui federasi nasional di  lebih dari 85 negara.

Stefanus P. Elu

‘World Youth Day’ sebagai Manifestasi Ima


Vatikan
Di hadapan audiens, kira-kira 2.000 orang, di halaman kepausan Castel Gandolfo, Paus Benediktus XVI mengatakan telah memilih tema sebagai panduan refleksi bagi kaum muda Katolik tahun depan di tingkat keuskupan yakni “Bersukacitalah selalu di dalam Tuhan”. Sedangkan, tema untuk pertemuan internasional di Rio de Janerio 2013 nanti adalah “Pergilah dan Jadikanlah Semua Bangsa Murid-Ku”, Rabu, 24/8.
            Paus Benediktus menyebut perjumpaannya dengan kaum muda pada ‘World Youth Day’ 2011 di Madrid, Spanyol sebagai hari-hari yang luar biasa. “Hampir dua juta kuam muda dari setiap benua bersukacita karena mengalami persaudaraan, perjumpaan dengan Tuhan, berbagi dan bertumbuh dalam iman. Saya berterima kasih kepada Tuhan atas karunia yang berharga ini yang memberikan harapan bagi masa depan Gereja” refleksi Paus.
            ‘World Youth Day’, menurut paus, telah terbukti menjadi peristiwa penting dalam kehidupan banyak kaum muda yang kemudian terpanggil untuk menjadi imam atau hidup religius. “Saya yakin bahwa di Madrid juga Tuhan mengetuk pintu hati banyak kaum muda sehingga mereka akan mengikuti-Nya dengan kemurahan hati dalam pelayanan imamat dan dalam hidup religius” kata Paus Benediktus.
            Paus menggambarkan World Youth Day 2011 sebagai manifestasi iman luar biasa dan kesempatan khusus bagi kaum muda Katolik untuk berefleksi, berdialog dan bertukar pengalaman positif, khususnya berdoa bersama dan memerbaharui komitmen mereka untuk menjalani kehidupan mereka yang berakar pada Kristus, teman setia.

Stefanus P. Elu

Mncanegaranews 37


Banglades: Sekitar 100 orang termasuk dua uskup agung, beberapa imam, suster, bruder dan awam, mengikuti pertemuan yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan Katolik Banglades (BCEB) dan Komite Universitas Katolik Banglades di  kantor Konferensi Waligereja Banglades di Dhaka, Banglades 19/8. Pertemuan ite bertujuan mendirikan Universitas Katolik pertama di Banglades dengan usulan nama ‘Notre Dame University’ di bawah kelola Kongregasi Salib Suci dan naungan Gereja Katolik Banglades.

Amerika Serikat: Sebuah kelompok yang terdiri dari 16 senator AS mendesak Menlu AS, Hillary Clinton, untuk menyerukan pembebasan Pastor Thadeus Nguyen Van Ly, seorang imam yang ditahan di Vietnam, 24/8. Pastor Ly (65), aktivis hak asasi manusia, kembali ditangkap Juli kemarin setelah dibebaskan dari penjara dengan alasan kesehatan pada Maret 2010. Selain mengalami beberapa kali strok, Pastor Ly juga didiagnosis menderita tumor otak.

Jepang: Studium Biblicum Franciscanum cabang Tokyo yang didirikan pada 1956 berhasil menerbitkan hasil terjemahan Alkitab dalam satu volume yang lengkap ke dalam bahasa Jepang baru-baru ini setelah kerja keras selama 55 tahun. Terjemahan dan catatan itu merupakan karya dari (Sekolah Kitab Suci Fransiskan),. Pastor Bernardin Schneider, 93, asal Louisville, Kentucky, telah melayani di Jepang sejak tahun 1950, terlibat dalam karya besar ini sejak awal.

Stefanus P. Elu
Sumber: UCAnews

Redefinisi UU Pernikahan



Uskup Agung New York, Timotius Dolan,  memprediksi bahwa redefinisi Undang-undang pernikahan baru-baru ini di New York akan memiliki dampak besar pada usaha masa depan orang-orang muda untuk membangun kehidupan keluarga, Madrid, Spanyol, 17/17.
Pernikahan gay menjadi hukum yang diakui di  New York bulan lalu. Undang-undang itu ditandatangani oleh Gubernur New York, Andrew Cuomo.
Berhadapan dengan situasi ini, Uskup Dolan mengatakan bahwa kenyataan ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang muda Katolik saat ini. Orang muda ditantang untuk mempertahankan pernikahan yang bahagia, setia, dan sebagai pemberi kehidupan. Itulah hal terbaik yang dapat dilakukan oleh orang muda.
Orang muda Katolik harus siap untuk menjadi corong dalam menyerukan kebenaran dan memberi kesaksian bahwa mempertahankan pernikahantradisional” (laki-laki-perempuan) bukanlah sesuatu yang aneh, takhayul belaka, atau terpaku pada jaman abad pertengahan. Sebaliknya,  sebuah pernikahan mengacu pada kepentingan umum, yakni menciptakan lingkungan yang sehat bagi pasangan dan bagi anak-anak.
“Hari raya orang muda memainkan peran penting dalam membekali orang-orang muda untuk menjadi pembela keluarga. Melalui acara orang nuda sedunia ini, mereka memberi kesaksian bahwa acara ini sungguh membebaskan, meneguhkan, mencerahkan, dan inspiratif," kata Uskup Agung Dolan pada Rabu malam, saat ia memimpin doa malam untuk lebih dari 400 peziarah muda di Madrid, Spanyol 17/17.
Uskup Agung Dolan percaya bahwa acara-acara seperti ini dapat membantu orang muda untuk mencintai iman dan berkomitmen Katolik untuk berjuang hari demi hari untuk menjalani model kehidupan yang Yesus dan Gereja-Nya harapkan.

Stefanus P. Elu

Mncanegaranews


Pakistan: Sekitar  1.000 umat Katolik di Abbottabad, Pakistan, berkumpul untuk tiga perayaan besar, yakni satu abad  paroki, hari  kemerdekaan Pakistan ke-64  dan perayaan Perawan Maria diangkat ke Surga di Gereja St. Petrus Kanisius Abbottabad, 14/17. bendera pada wajah anak-anak dan persembahan tarian-tarian budaya turut memberi warna khusus pada perayaan itu. Perayaan ditutup dengan pengalungan bunga pada  patung Maria di pelataran gereja.

Spanyol: Seminaris dan uskup Irak meminta doa dari semua orang muda yang berkumpul di Madrid untuk World Youth Day. Umat Katolik di Irak berusaha mempertahankan iman mereka meskipun penganiayaan terus menerus terjadi di negara itu. “Semua orang muda Katolik adalah saudara dalam Yesus Kristus. Umat Katolik di Irak memerlukan doa dari mereka semua, karena Irak sangat penting untuk agama Kristen," kata Samir Haddo Atallah, seorang seminaris dari Mosul, Irak dalam wawancara eksklusif dengan CNA 16/8.

Nigeria: Agen-agen the State Security Service (SSS)  sudah memmulai pemantauan terhadap khotbah di masjid-masjid dan gereja-regerja untuk mencegah penyebaran khotbah yang dapat menyulut tindak kekerasan agama. Direktur Dinas Keamanan di Kogi, Negara, Mike Fubar, mengatakan bahwa organisasinya akan memantau semua acara keagamaan. Pengkhotbah harus menjalani pemeriksaan keamanan dan mendapatkan otorisasi dari SSS. 13/08  pengawasan di Hotel pun telah diperkuat untuk mencegah aksi individu menggunakan tempat seperti ini sebagai basis operasional kegiatan kriminal. Bahkan bank dan perusahaan yang beroperasi di Negara juga diundang untuk mengadakan pertemuan dengan para pemimpin lembaga penegak hukum sehingga dapat menetapkan langkah-langkah untuk memperkuat keamanan di kantor mereka.

Kamis, 11 Agustus 2011

Wajah Sosial Gereja


Gereja perlu terus menerus menampakkan wajah sosialnya demi kehidupan dan kebaikan bersama. Concern pada kehidupan bersama menjadi perhatian khusus Methodius Kusumahadi, konsultan di Karina Keuskupan Agung Semarang, akhir-kahir ini. Menurutnya, masyarakat sekarang lebih memperjuangkan hak dan individual daripada relasi sosialnya dengan orang lain.
            Berikut ini adalah petikan wawancara Stefanus Poto Elu dari HIDUP dengan bapak Methodius Kusumahadi di Yogyakarta, Sabtu, 06/08.
Bagaimana kehidupan moral masyarakat Indonesia saat ini?
Berangkat dari pengalaman nyata yang saya alami sendiri selama 40 tahun, hidup bersama menjadi titik utama perhatian saya saat ini. Saya berasumsi bahwa hidup bersama saat ini tidak diapresiasi. Kenyataanya tampak dalam beberapa hal. Pertama, korupsi yang saat ini merajalela. Kedua, minat terhadap praktik-praktik untuk hidup bersama tidak menjadi pegangan masyarakat. Perhatian pada hidup individu yang mengarah kepada nafsu berkuasa sangat menonjol. Hidup individu dilihat sebagai tujuan akhir. kehausan ini diekspresikan dalam mengejar kekuasaan. Agama-agama pun dipakai sebagai instrumen untuk menunjang tujuan ini.
Bagaimana seharusnya sikap para penganut agama?
Negara kita adalah negara yang berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka, dalam kehidupan sosial, para penganut setiap agama perlu menampakkan kekhasannya masing-masing. Artinya, agama harus mampu menjadi instrumen yang paling baik untuk menunjang kemaslahatan hidup bersama. Nilai-nilai keagamaan perlu diaplikasikan ke dalam tindakan nyata. Pembentukan karakter dalam dunia pendidikan harus ditekankan. Anak dididik untuk memberi perhatian kepada sesamanya. Dengan demikian penekanan pada kehidupan bersama diperkenalkan kepada anak didik sejak dini.
Bagaimana posisi Gereja?
Gereja Katolik saat ini cukup membanggakan. Sejak 1993 Gereja Katolik sangat konsisten menekankan kehidupan bersama. Hal ini tampak dalam Surat-surat Gembala yang dikeluarkan oleh Uskup-uskup di setiap keuskupan menjelang Paskah.
Gerakan-gerakan sosial yang saat ini muncul dalam gereja perlu diapresiasi dan diberi semangat. Gereja harus mendukung inisiatif perorangan atau gerakan yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ia memberikan kebebasan dan tidak cepat-cepat menilai baik-buruknya sebuah gerekan yang sedang tumbuh. Ia hanya mengarahkan agar  gerakan-gerakan tersebut tetap concern pada pembanguanan manusia.
Apa kesulitan utama Gereja?
Gereja sampai saat ini masih dibelengu oleh pemikiran bahwa yang memberikan pelayanan kepada umat itu adalah pastor, suster dan bruder. Padahal pelayanan sosial dapat dilakukan oleh setiap anggota Gereja. Perubahan metodologi pelayanan sangat diperlukan. Kaum awam perlu diberdayakan untuk melakukan pelayanan-pelayanan sosial. Terlebih karena kaum awam adalah orang-orang yang terlibat langsung dalam kehidupan nyata. Penanaman kembali nilai-nilai dan budaya pertama kali dimulai dari lingkungan mereka.
Kepercayaan diri para pastor, suster, dan bruder pun harus ditingkatkan lagi. Mereka harus diberi imput bagaimana terjun langsung untuk memperjuangkan kehidupan bersama. Dalam hal kemasyarakatan, mereka harus lebih melatih diri lagi untuk berani terlibat secara langsung dalam kehidupan masyarakat. Sosialisasi dengan lingkungan menjadi opsi utama dalam pengembangan kehidupan sosial.
Apa  harapan untuk  Gereja masa depan?
            Kita semua adalah anggota Gereja. Setiap saat dipanggil untuk memberikan sumbangan bagi kehidupan bersama. Setiap warga Gereja harus memiliki integritas diri. Masing-masing, baik awam maupun pastor, suster atau bruder, perlu menjaga integritas diri. Gereja haeus menjadi teladan dalam memperjuangkan bonnum commune (kebaikan bersama).
Kebun Jeruk, 11 Agustus 2011
Stefanus p. Elu

Merintis Kembali Kemerdekaan

Angin laut yang bertiup cukup kencang mampu mengurangi teriknya panas matahari siang itu. Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang, ketika kami mengunjungi beberapa nelayan di desa Moro, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Menelusuri pesisir pantai masuk ke perkampungan membuat keringat bercucuran. Beberapa nelayan memilih berteduh di teras rumah, sementara beberapa yang lain tiduran di buritan kapal di sekitar pesisir pantai.
Desa Moro terletak di pesisir jalur pantai Utara Pulau Jawa. Penduduk desa ini 100% Muslim dan mayoritas mata perncaharian mereka adalah nelayan dan buruh nelayan. Para suami sebagai pencari nafkah utama, sementara para istri di rumah mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ada beberapa diantaranya menjadi buruh pengasinan ikan kecil-kecilan di sekitar TPI (tempat pelelangan ikan).
“Nelayan di sini biasanya berangkat melaut pukul empat sore hari dan baru pulang pukul empat atau lima pagi. Sepanjang malam para nelayan mencari ikan di laut lepas,” tutur Sirin, seorang nelayan sekaligus pembuat kapal. Penghasilan buruh nelayan di sini sangat ditentukan oleh jumlah ikan yang mereka tangkap. “Jika hasil tangkapannya banyak berarti kami bisa makan, sebaliknya kalau cuma sedikit atau bahkan tidak sama sekali, maka sudah lazim jika ada istilah “piring terbang” di Moro, yang tak lain adalah gadai-menggadai peralatan dapur untuk mendapatkan uang guna membeli makanan.” kata Masnu’ah seorang istri nelayan.
Kemerdekaan Baru
Masnu’ah atau biasa disapa mbak Nu’ adalah sosok perempuan yang memiliki keprihatinan dan kepedulian terhadap kondisi desanya. Selain itu dia juga aktif dalam pembelaan kaum perempuan yang seringkali menjadi korban KDRT di desanya. Bersama LPUBTN-KAS (Lembaga Pendamping Usaha Buruh, Tani dan Nelayan–Keuskupang Agung Semarang), Masnu’ah dan beberapa perempuan anggota Kelompok Puspita Bahari berupaya agar para istri nelayan / buruh nelayan memiliki usaha yang bisa membantu dalam mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Proses demi proses telah dilewati, dari rencana usaha membuat tepung ikan, kerupuk, makanan kecil, ternak bebek, kambing, hingga ternak ikan. Ternyata tidak mudah untuk merubah budaya perempuan, istri nelayan / buruh nelayan yang telah terbiasa “menunggu” nafkah para suami.
Sejak pendampingan LPUBTN-KAS tahun 2007, baru pada tahun 2009 kelompok Puspita Bahari ini memiliki usaha pembuatan kerupuk ikan, dan produk-produk lain. Hanya 7 orang yang terlibat, namun telah memberi pengaruh positif bagi masyarakat desa secara luas dan terkikisnya budaya “menunggu”.
Saat ini kelompok Puspita Bahari juga memiliki demplot (percontohan) ternak ikan lele, dan kambing di sepetak lahan berukuran 9 x 4 m. Ternak ikan lele ini disarankan LPUBTN-KAS untuk dibudidayakan di Moro, mengingat banyaknya limbah ikan terbuang sia-sia. Ternak kambing dengan sistem pengandangan diharapkan dapat mendukung upaya bersih desa. Kambing-kambing yang diliarkan mengotori rumah penduduk dan banyak kambing yang terjangkit penyakit gudhik (penyakit gatal kulit).
Selain itu kotoran kambing yang dikandang dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik (INDUS/Inthil Wedhus). Pupuk ini akan dimanfaatkan untuk menanam sayur dalam pot yang juga sedang diupayakan di demplot Kelompok Puspita Bahari ini. Jadi dari kelompok Puspita Bahari mampu memberi pengaruh luas terhadap masyarakat desa melalui pendekatan simultan.
Berbeda dengan desa Moro, penduduk desa Panadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan Jawa Tengah bermata pencaharian sebagai petani. Mereka menggarap lahan milik PERUM PERHUTANI yang dikelola dalam Program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). Sebelum tahun 1998, hampir seluruh lahan sekitar desa Penadaran adalah hutan Jati yang subur, mata air banyak ditemukan di sana, namun semua habis ditebang oleh masyarakat desa serta oknum aparat hingga menyisakan lahan gersang dan tandus rawan longsor dan banjir. Petani biasanya menanam jagung setiap musim (monokultur), sedangkan untuk lahan yang datar mereka bisa menanam padi ketika musim hujan. Pola tanam mereka full kimia.
Karena ketidaktahuan mereka, tanah semakin tandus, bantat, serta tidak mampu menyimpan air. Hujan menyebabkan banjir, dan tidak menyisakan air sedikitpun pada musim kemarau.
Pada 2006, LPUBTN-KAS masuk ke wilayah Gubug. Desa ini dipilih Paroki Administratif Gubug sebagai wilayah yang butuh pendampingan. Sebelumnya desa Penadaran sangat terpencil dan tidak dikenal, bahkan banyak orang enggan untuk datang ke wilayah tersebut dan sering dikatakan “pergi ke Penadaran bisa menghabiskan tujuh sandal jepit”. Memang saat itu jalan menuju desa rusak parah mengakibatkan tertutupnya banyak akses masyarakat. Berkembang banyak spekulan (tengkulak) yang memiliki modal untuk bisa menjual keluar produk hasil pertanian (jagung). Tengkulak memonopoli pasar jagung di tingkat lokal, merekalah yang menentukan harga dan menjerat petani dengan pinjaman (modal tani & uang) berbunga tinggi + 30%.
Berawal dari Pelatihan Perempuan Penggerak Sosial Ekonomi Desa yang diikuti 12 perempuan desa Penadaran pada September 2007, LPUBTN-KAS mengajak masyarakat Penadaran untuk membentuk paguyuban. Dibentuklah Kelompok Tani Usaha Bersama Ngudi Rejo yang diketuai oleh bapak V. Suparjo. Dari 24 orang anggota Katolik hingga saat ini menjadi 52 orang dari semua kalangan (tidak terbatas agama).
Dalam proses pendampingan LPUBTN-KAS sejak tahun 2007 hingga 2011 ini, mulai dirasakan banyak perubahan. V. Suparjo mengisahkan proses terbebasnya petani dari pasar monopoli tengkulak dengan dibukanya pasar keluar desa oleh LPUBTN-KAS yang disertai dengan ancaman pembakaran rumahnya serta teror kepada LPUBTN KAS. Ia juga menentukan gerakan konservasi berkelanjutan, ditunjuknya Desa penadaran sebagai desa model oleh Perhutani, perbaikan infrastruktur desa dan instalasi air bersih, gerakan anak muda dan anak-anak serta perempuan, hingga dibangunnya Gereja Stasi Penadaran yang diresmikan Mgr. J. Pujasumarta (Uskup Agung Semarang) pada 17 Juli 2011, serta Gua Maria Sendang Jati yang sebelumnya diresmikan Mgr. I. Suharyo (sekarang Uskup Agung Jakarta) pada 21 Nopember 2008.
Lain halnya dengan ibu Brigita Munirah, yang biasa disapa mbak Mun, warga desa Panadaran, menceritakan perjalanan hidupnya yang semula berjualan mie ayam kemudian beralih profesi menjadi petani. Sungguh jauh dari apa yang dibayangkan oleh sebagian masyarakat pada umumnya, yang biasanya meninggalkan profesi petani untuk sekedar menjadi buruh. Mbak Mun yakin bahwa dengan menjadi petani, dia mampu mengangkat perekonomian keluarganya meskipun diawali dengan gagal panen (karena belum tahu teknik bertani). Bahkan dalam menjalani profesi sebagai petani dia dan suaminya tetap berpegang teguh pada pengharapan akan Tuhan, karena bagi mereka Tuhanlah yang mengalirkan rejeki melalui tanaman yang dibudidayakan. Mereka pun rajin berdoa Rosario saat berada di lahan.
Proses dan Nilai
Proses yang harus dilalui dalam pendampingan/pemberdayaan tidaklah singkat dan mudah, baik untuk kelompok di desa Morodemak, desa Penadaran ataupun wilayah dampingan lainnya : Sekecer-Weleri, Gabus-Purwodadi, Pati, Sumber-Muntilan, Sriningsih-Sleman, dan Salam yang sedang mulai dan beberapa tempat lainnya. LPUBTN-KAS berusaha menemani/mendampingi dan membantu menggerakkan beberapa paroki ataupun desa. Tantangan utama adalah edukasi atau pendidikan umat dan masyarakat. Upaya lembaga ini adalah menggarap manusianya sebagai pelaku (agen perubahan) dengan berorientasi pada perubahan pola berpikir serta pola hidup agar mampu menjawab tantangan dan kebutuhan hidup mereka. Membangun solidaritas dalam paguyuban/kelompok menjadi modal dasar untuk bersama-sama “bergerak” dari situasi masyarakat yang merasa diri(-10) minus sepuluh atau bahkan (-50) minus lima puluh agar bisa menjadi masyarakat yang mandiri.
Kemandirian dalam hal (pangan, kesehatan, pendidikan) merupakan tolok ukur sebuah keberhasilan dalam pendampingan meskipun diawali dari hal yang kecil. Kemandirian adalah tolok ukur sebuah masyarakat bisa dikatakan MERDEKA. Petani yang mandiri mampu mengusahakan daya dukung yang ada disekitar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Nelayan yang mandiri mampu mencukupi kebutuhan hidupnya meski tidak melaut.
Dalam hal pendidikan, LPUBTN-KAS yang dipimpin oelh Romo FA.Sugiarta,SJ ini telah menggulirkan Program WIRABEASISWA sebagai upaya menjawab keprihatinan keterbatasan sosial ekonomi umat dan masyarakat. Untuk mengatasi degradasi mental dan moral, dalam program ini, anak-anak penerima manfaat diajak secara berkelompok menjalankan usaha yang mendukung biaya pendidikannya.
Di desa Penadaran dan beberapa wilayah dampingan lain (Sekecer-Weleri, Sumber-Muntilan) program Wirabeasiswa ini diwujudkan dalam bentuk ternak kambing. Bukan sekedar memelihara kambing, tetapi program ini bertujuan untuk menanamkan kembali nilai-nilai keutamaan hidup: tanggungjawab, kejujuran, kerja keras, disiplin, gotong royong, dan solidaritas dimana pada saat ini mulai luntur akibat gerusan perkembangan jaman.
Tidak hanya itu, untuk mendukung Program Green Priest (dimana para imam yang ditahbiskan nantinya adalah para imam yang menjadi penggerak / agen perubahan dalam kehidupan umat dan masyarakat) di Seminari Kentungan dan Mertoyudan, LPUBTN-KAS mengajak keluarga besar Seminari terlibat dalam pengelolaan lahan di Seminari untuk kemandirian sebagai wujud Pola Hidup Organik yang juga merupakan Budaya Kehidupan. Pengelolaan lahan bukan sekedar bercocok tanam, melainkan juga sebagai media para Frater untuk mengenal dan belajar tentang Keutuhan Ciptaan serta arti hidup dari berbudidaya tanah, tanaman dan ternak.
Segala upaya gerakan yang dilakukan LPUBTN-KAS secara simultan dan sinergis tersebut tidak lain adalah untuk merintis kembali Kemerdekaan yang pernah dimiliki nenek moyang petani dan nelayan, yang mampu hidup secara mandiri dengan kearifan lokalnya dan penyumbang pangan bagi kehidupan dan ketahanan masyarakat yang sangat besar. Dalam hal ini, sebagai Lembaga Gerak Keuskupan Agung Semarang, LPUBTN-KAS mencoba untuk menghadirkan dan mewujudnyatakan Ajaran Sosial Gereja dalam kehidupan umat serta masyarakat yang memerdekakan, berkeadilan dan menyejahterakan.